Kegembiraan itu meledak seketika di Olympic Stadium, Phnom Penh, Kamboja. Malam itu (26/2), tangis bahagia menyelimuti para penggawa Timnas U-22 Indonesia, mulai dari pemain, pelatih, hingga stafnya. Tak terkecuali, para suporter tim berjuluk Garuda Muda ini.

Jika khusus membicarakan gelar juara yang diraih Timnas U-22 (termasuk U-23), ini adalah gelar juara pertama mereka sejak dibentuk pada 1991. Sebelumnya prestasi terbaik timnas kategori ini adalah medali perak SEA Games 2011 dan 2012.

Tak pelak keberhasilan ini dilabeli sebagai penuntas dahaga gelar juara. Belasan tahun lamanya kita menanti ada trofi yang singgah di dunia kulit bundar Indonesia pada tahun 2000-an, dan “dicicil” lewat anak-anak mudanya.

Mulai dari Timnas U-19 tahun 2013, Timnas U-16 di tahun 2018, dan Timnas U-22 tahun ini. Semuanya di level Asia Tenggara, dalam balutan turnamen bernama Piala AFF.

Uniknya, gelar juara yang didapat kali ini berbeda cara meraihnya dibandingkan Timnas U-16 dan U-19 pada masanya. Jika di dua kategori tersebut timnas langsung menggebrak sejak awal turnamen dengan permainan menghibur dan gelontoran banyak gol, di kategori U-22 tahun ini Garuda Muda justru mengawalinya dengan kurang meyakinkan.

Dua laga pertama di fase grup diakhiri dengan hasil imbang. 1-1 lawan Myanmar, dan 2-2 lawan Malaysia. Jika ditambah dari hasil laga-laga uji coba, maka rentetan “sebiji poin” ini akan semakin panjang. Di rangkaian pertandingan itu, tim asuhan Indra Sjafri ditahan imbang oleh Bhayangkara FC (2-2), Arema FC (1-1), dan Madura United (1-1).

Hanya mengumpulkan dua poin dari dua pertandingan, membuat Indonesia harus melakoni laga hidup-mati di partai terakhir kontra tuan rumah, Kamboja. Kekhawatiran semakin bertambah, lantaran kapten Andy Setyo dibekap cedera ketika lini pertahanan belum menemukan bentuk terbaiknya.

Namun, seperti kata pepatah: Selalu ada berkah di balik musibah.

Bagas Adi Nugroho yang tampil menggantikan Andy Setyo justru tampil kokoh, bermain kompak dengan partnernya di jantung pertahanan, Nurhidayat. Hasilnya, Indonesia mendapat nirbobol pertamanya di turnamen ini lewat kemenangan 2-0 kontra Kamboja, dan dilanjutkan clean sheet kala menaklukkan Vietnam 1-0 di laga semi-final.

Sang penyatu bangsa

Ada yang mengatakan Indonesia telat panas di turnamen ini, seperti jatidiri timnas Jerman di masa lampau. Ada pula yang berpendapat kalau gelar juara ini didapat berkat minimnya tekanan dan ekspektasi. Sebabnya, turnamen ini awalnya hanya diperlakukan sebagai pemanasan jelang kualifikasi Piala Asia U-23 2020.

Tapi apapun itu, yang terpenting Indonesia berhasil mengakhiri puasa juara. Sekarang sepak bola Indonesia bisa berbahagia, dan berbangga menjadi yang terbaik di Asia Tenggara, dalam kategori timnas usia muda.

Sebuah pelepas dahaga di tengah karut marut kondisi sepak bola nasional, yang disibukkan dengan penangkapan mafia, penetapan tersangka di sana-sini, dan perdebatan klasik tentang turnamen pra-musim.

Juga pemberi hawa sejuk di tengah panasnya situasi politik Tanah Air, yang sangat rawan berujung konflik, hingga teman/rekan/kerabat yang tiba-tiba left group WhatsApp cuma gara-gara berbeda pandangan politik.

Memang, sedemikian hebatnya sepak bola. Sebuah olahraga yang bisa menyatukan bangsa.

Terima kasih, Garuda Muda!

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu