Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara memiliki peralatan baru berupa Pilot Plant Hidrometalurgi. Fasilitas ini untuk memproses logam seperti Nikel, Tembaga, Emas, termasuk pengolahan logam tanah jarang (LTJ).

Proses yang dikerjakan di pilot plant, sebelumnya dilakukan simulasi proses dengan perangkat lunak seperti Metsim dan FactSage terlebih dahulu.

Peralatan yang berlokasi di Sentra Pengolahan Mineral Puslitbang Tekmira di Cipatat, Kabupaten Bandung ini memiliki kapasitas produksi 10 kg per proses. Beragam LTJ yang dapat diproduksi untuk keperluan beragam industri, yakni Gadolinium (Gd) oksida, Lanthanum (La), Cerium (Ce), Neodinium (Nd) dan Disprosium (Dy).

Gd-oksida banyak digunakan di bidang kesehatan, untuk keperluan contrast agent Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau pencitraan resonansi magnetik, Computerized Tomography (CT) scan dan terapi kanker.

Cerium (Ce) untuk sensor dan bahan elektronik, Neodinium (Nd) untuk magnet permanen dan mobil listrik, dan Disprosium (Dy) untuk bahan penyerap neutron. Lanthanum yang digunakan untuk cat anti radar, aplikasi lampu karbon, gelas optikal spesial

Pilot plant pengolahan LTJ ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor dan dapat menumbuhkan industri berbasis bahan LTJ seperti elektronik, otomotif, pertahanan dan keamanan serta kesehatan.

Kepala Puslitbang Tekmira, Hermansyah, menjelaskan BLU Tekmira menawarkan kerja sama komersialisasi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ) dengan berbagai pihak, mulai dari hulu (penyedia bahan baku), hingga hilir (pengguna).


Sumber: www.tekmira.esdm.go.id

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu