Mahasiswa Amerika Datang Ke Witihama, Apa yang Dicarinya?

Mahasiswa Amerika Datang Ke Witihama, Apa yang Dicarinya?
info gambar utama
  • Dosen dan mahasiswa asal Gustavus Adolphus College, Minnesota berada di desa Pledo kecamatan Witihama, Flores Timur, NTT untuk melihat pertanian sorgum
  • Sorgum cocok dikembangkan di NTT karena mampu beradaptasi dan cocok ditanam di lahan kering
  • Awal pengembangan sorgum sempat dicemooh dan dipandang sebelah mata dari Pemprov NTT, Pemkab Flores Timur dan masyaraka setempat
  • Sorgum diharapkan menjadi komoditas dan pangan utama di NTT selain padi, jagung dan kedelai

Perjalanan menuju kebun Sorgum di desa Pledo kecamatan Witihama kabupaten Flores Timur (Flotim) jauh dan hanya bisa ditempuh dengan menumpang pick up. Namun semua itu tak membuat dosen dan 14 mahasiswa asal Gustavus Adolphus College, Minnesota, Amerika mengurungkan niatnya.

Berjarak 1,5 jam perjalanan dari Maria Loretha, rumah pelopor pengembangan sorgum di NTT, di kecamatan Adonara Barat menuju desa Pledo menggunakan mobil atau motor.

Mahasiswa itu ke NTT karena sesuai kurikulum pendidikannya, para mahasiswa itu diharuskan belajar langsung di lapangan, termasuk belajar ilmu dari program studi lain.

“Selama program 4 tahun semua mahasiswa harus ikut kursus 2 kali ke luar negeri. Karena saya sudah pengalaman menetap di Indonesia dan melihat dampak perubahan iklim maka mahasiswa saya ajak ke Indonesia,” sebut James Dontje, dosen Gustavus Adolphus College, Kamis (17/1/2019).

Mahasiswa dari Gustavus Adolphus College, Minnesota, Amerika, melihat tanaman sorgum di desa Pledo, kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Flores Timur, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia
info gambar

James menilai petani merupakan profesi yang penting di dunia, sehingga dia mengajak mahasiswanya melihat bagaimana petani beradaptasi dengan perubahan iklim dan perubahan ekonomi.

Mahasiswa diajari mengenai permasalahan pertanian seperti dinamika harga komoditi pertanian, kebijakan pemerintah untuk penanaman padi dan jagung, serta kenaikan harga sarana produksi pertanian.

“Isu perubahan iklim dan dampak ekonomi ini yang saya gabung. Mahasiswa saya ajak ke Solo, Jawa Tengah melihat penanaman padi yang merupakan makanan pokok bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Di NTT, mahasiswa diajak melihat pola pertanian di lahan kering. Mahasiswa juga diajak ke Papua untuk melihat kehidupan tradisional masyarakat Papua seperti menangkap ikan dan pengaruh perkebunan kelapa sawit disana.

Pengembangan Sorgum

James tertarik dengan sorgum karena pernah 3 tahun bekerja di Burkina Faso, Afrika. Disana, makanan pokoknya millet dan sorgum. Hujan hanya 3 bulan saja sehingga sangat kering, air pun sangat susah.

“Millet dan sorgum bisa bertahan hidup dan dikembangkan menjadi makanan pokok warganya,” tuturnya.

Sedangkan di India, kata James, petani miskin disana mulai menanam sorgum kembali untuk bertahan hidup sejak 2011. Kini sorgum jadi tanaman utama yang dikembangkan di India.

Dirinya datang ke Flotim sebab terdapat banyak kebun sorgum. Ada kebijakan dari pemerintah dan akademisi, serta kesadaran petani untuk menanam sorgum. Sorgum, jelas James, bisa beradaptasi dengan iklim dan kondisi tanah di Flotim yang kering dan tandus, sehingga bisa mengatasi krisis pangan.

Mahasiswa dari Gustavus Adolphus College, Minnesota, Amerika sedang praktek menanam sorgum di Likotuden, desa Kawalelo, Flores Timur, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia
info gambar

“Petani harus kuat menghadapi tantangan bertani saat ini. Semua harus dimulai kembali dari budaya dan adat, dari apa yang ada di petani sendiri. Kembalikan sistem bagaimana mengolah sorgum menjadi makanan yang bisa dikonsumsi dan disukai,” pesannya.

Sedangkan Marcia Bunga Pabendon, peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Serelia, Balitbangtan Kementerian Pertanian kepada Mongabay-Indonesia menyebutkan secara agroekologi, NTT potensial untuk pengembangan sorgum. Lahan tersedia, nutrisi juga jauh lebih baik.

Secara ekonomi, sorgum berpeluang untuk pangan, gula dan pakan ternak. “Rencananya ada 4 varietas lokal yang dilepas. Sorgum sangat cepat berkembang dan ditanam kalau mekanisasi tersedia. Kalau sudah disosoh tentu tidak ada bedanya dengan padi,” tuturnya.

Untuk menarik petani menanam sorgum, perlu disiapkan sarana produksi pertaniannya, seperti alat pasca panen yaitu alat perontok dan alat penyosoh dengan harga terjangkau, serta pupuk organik yang bisa diolah dari bahan-bahan yang tersedia di kebun sorgum.

“Harapan kita pabrik mini sorgum di Likotuden Flores Timur bisa berkembang. Ini untuk memantik petani di daerah lainnya di NTT menanam sorgum,” harap Marcia.

Padang ilalang di bekas lahan tidur di dataran Pledo, yang telah dibersihkan dan bakal jadi lahan pengembangan tanaman Sorgum milik kelompok Pledo Saren di desa Pledo kecamatan Witihama kabupaten Flores Timur, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia.
info gambar

Program Pajaleso

Sorgum, merupakan ‘mutiara darat’ yang hilang dan kini ‘berkilau’ di bumi Flores dan Lembata. Gerakan menanam kembali sorgum berawal dari kecintaan seorang Maria Loretha yang kini dijuluki “mama Sorgum”. Juga berkat dukungan kuat dari Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) Keuskupan Larantuka.

Romo Benyamin Daud, Direktur Yaspensel mengatakan awal mengembangkan sorgum tidaklah mudah. “Masyarakat masih ragu menerima kembali mutiara yang hilang. Banyak tantangan yang kami alami dalam mengangkat kembali pangan lokal sorgum. Bahkan masyarakat mengolok-olok dan menyebut kami orang gila,” tuturnya.

Tahun-tahun awal gerakan ini, pemerintah kabupaten dan provinsi memandang sebelah mata. Mereka, kata Romo Benya, masih berkutat pada regulasi “pajale” (padi, jagung, kedelai). Padahal lahan kristis di Flores dan Lembata sangat cocok untuk pengembangan sorgum.

“Berkat kegilaan dan kegigihan kami dan relasi serta kerja sama langsung Balitbangtan Kementan, Balitsereal Maros, Kemendes, Kantor staf Presiden serta kementerian terkait lainnya, sorgum mulai akrab ditelinga pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten,” jelasnya.

Lahan sorgum jenis Kuali seluas satu hektar di desa Pledo, Witihama, Flores Timur, NTT, yang telah dipanen dan ditebang batangnya namun kembali tumbuh dan sengaja dibiarkan untuk dilihat produksinya | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia
info gambar

Pada musim tanam tahun 2019, dana APBN digelontorkan untuk program pengembangan sorgum di Flotim dengan luas 250 Ha. Dana provinsi dengan luas 50 Ha. Dana ini langsung dikelola oleh kelompok-kelompok tani bentukan Dinas Pertanian Flores Timur.

Yaspensel kata Romo Benya, tetap setia mendampingi kelompok-kelompok tani yang sudah berkembang di beberapa wilayah di Flotim dan Lembata. Luas lahan bukan target tapi lebih kepada ketahanan pangan lokal warga masyarakat.

“Target kami masyarakat perut kenyang dan semakin sehat dengan konsumsi makanan sorgum. Gizi meningkat dan stunting bisa teratasi. Isu yang kami angkat saat ini adalah ‘sorgum bergizi dan berduit’, Masyarakat sehat, ekonomi meningkat,” ungkapnya.

Dia berharap sorgum menjadi makanan pokok bergizi, bukan makanan alternatif. Pemprov NTT dan Pemkab Flotim diharapkan serius menjadikan sorgum sebagai program utama. Sehingga proyekPajale bisa ditambah menjadi Pajaleso (padi, jagung, kedelai, dan sorgum).


Sumber: DItulis oleh Ebed de Rosary dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini