Teknologi Informasi untuk Tingkatkan Daya Saing Produk Akuakultur, Seperti Apa?

Teknologi Informasi untuk Tingkatkan Daya Saing Produk Akuakultur, Seperti Apa?

Label Fair Trade pada ikan tuna hasil tangkapan nelayan Pulau Buru, Maluku, yang bisa menunjukkan asal usul ikan © Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Seiring meningkatnya permintaan terhadap pangan dari laut berkelanjutan (sustainable seafod), kebutuhan terhadap keterlacakan (traceability) ikan pun makin tinggi. Namun, melacak dari mana ikan berasal juga bukan perkara mudah karena sebagian besar ikan memiliki pergerakan sangat tinggi.

Sistem keterlacakan pada produk ikan berguna untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan bahari (seafood). Dalam konteks keberlanjutan produk ikan, keterlacakan juga menjadi faktor penting dalam skema label ramah lingkungan, seperti Marine Stewardship Council (MSC) dan Fair Trade Fisheries.

Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) Bali memperkenalkan teknologi untuk melacak asal usul ikan dalam program keterlacakan. Yayasan yang berkantor di Denpasar ini mengembangkan Traceability-Based Technology (TBT). Teknologi ini menggunakan pertukaran informasi dua arah antara nelayan, pengolah, dan penjual, khususnya ikan tuna.

Koordinator Keterlacakan MDPI Wahyu Teguh Prawira menjelaskan, setidaknya ada dua teknologi yang saat ini mereka gunakan untuk melacak asal usul ikan tuna yaitu dengan FlyWire Camera dan Timelapse Camera.

FlyWire Camera merupakan sistem pemantauan secara elektronik berbiaya rendah yang didesain untuk pelaku bisnis perikanan skala kecil. Teknologi ini memiliki fitur rekaman video dan pelacakan lokasi. Hasilnya berupa data dan dokumentasi penangkapan ikan dalam resolusi tinggi (high definitionresolution/HDR).

Wahyu Teguh Prawira Koordinator Keterlacakan Yayasan MDPI menunjukkan peralatan pemantau pergerakan kapal dengan nama aplikasi FlyWire sebagai bagian dari program keterlacakan perikanan (traceabililty fisheries) | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Saat ini MDPI baru membuat pilot project untuk pemantauan dengan sistem FlyWire Camera tersebut. “Teknologi ini bisa menggantikan fungsi hadirnya seorang pemantau di kapal,” katanya.

Kamera beroperasi menggunakan panel surya dengan kekuatan hingga 24 jam dilengkapi dengan pengisi daya dan aki. Pengembang teknologi ini menempatkan kamera di kapal penangkap ikan yang bisa dipantau kapan saja. Saat ini, FlyWire Camera, baru digunakan di dua kapal dengan kapasitas lebih dari 5 GT.

“Teknologi ini memang disarankan untuk kapal 5 GT ke atas atau minimal punya aki untuk isi ulang dan atap untuk peletakan panel surya,” kata Teguh pada awal Juni lalu.

Teguh mengatakan, berdasarkan kemampuan dan kapasitas memorinya, FlyWire Camera sebenarnya disarankan untuk kapal yang melaut hingga tujuh hari. Namun, MDPI sudah mencoba teknologi ini bahkan untuk melaut 10-14 hari. “Karena memang trip kapalnya lebih dari tujuh hari, maka kita atur agar kameranya merekam lima jam per hari,” Teguh melanjutkan.

Sistem kedua adalah Timelapse Camera (TLC). Sistem ini pada dasarnya adalah rekaman video dipercepat dengan mode time lapse sekaligus mendeteksi lokasi perahu penangkap karena dikombinasikan dengan sistem pelacak berdasarkan lokasi atau global position system (GPS).

Menurut Teguh, MDPI mulai menggunakan TLC sejak Agustus 2017. Mulai 2018, TLC diterapkan di beberapa lokasi program MDPI, seperti Lombok (Nusa Tenggara Barat), Ternate (Maluku Utara), dan Bone (Sulawesi Selatan). Jika FlyWire Camera menyasar kapal-kapal di atas 5 GT, maka TLC lebih banyak untuk perahu-perahu kecil di bawah 10 GT.

iFish merupakan sistem-database perikanan termasuk asal usul tangkapan ikan, jumlah tangkapan, harga, dll, yang dikembangkan oleh Yayasan MDPI Bali | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Untuk saat ini, TLC hanya dipasang di perahu-perahu nelayan yang melaut dalam waktu sehari (one day fishing). Perahu-perahu penangkap tuna di Pulau Buru, Maluku, misalnya memasang teknologi ini untuk memantau perilaku nelayan saat melaut. Dalam tiap trip, perahu yang dilengkapi TLC menghabiskan sekitar 1 GB video dalam format dipercepat.

“Dari rekaman itu kita bisa tahu bagaimana perlakuan nelayan terhadap tuna, perilaku selama melaut, hingga apa saja satwa langka yang tertangkap. Hasilnya selain untuk pendataan asal usul ikan juga bisa menjadi bahan belajar dalam program keterlacakan,” ujar Teguh.

Memantau Pergerakan

Selain menggunakan kamera, MDPI juga menggunakan dua jenis alat untuk memantau pergerakan kapal yaitu Pelagic Data Systems (PDS) dan Spot Trace.

PDS merupakan sistem pelacakan kapal yang didesain spesifik untuk kapal-kapal kecil. Alat ini memberikan data kecepatan, kegiatan, dan analisis data untuk penggunanya. Dia bisa diakses oleh nelayan maupun pemasok (supplier).

PDS dikembangkan pertama kali di jantung industri teknologi informasi global Silicon Valley, San Fransisco, Amerika Serikat pada 2014. Tujuan pembuatannya memang dibuat untuk menjawab isu perikanan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak sesuai aturan (illegal, unreported, and unregulated/IUU fishing).

Secara sederhana, PDS mengunggah data-datanya melalui jaringan seluler terdekat yang bisa mereka akses. Data yang terunggah di komputer berbasis awan (cloud computing) ini kemudian dianalisis menggunakan aplikasi pengolah data. Pengguna data bisa mengakses secara daring maupun menggunakan data yang sudah dianalisis dan didesain agar lebih mudah dipahami.

Karena kemampuannya dalam menjawab IUU fishing, PDS bahkan memperoleh 2018 Seafood Champion Award for Innovation. PDS dianggap telah menjawab tantangan ekologis, kebutuhan pasar, dan halangan dalam keberlanjutan industri perikanan.

Jejak pergerakan kapal di Sangihe, Sulawesi Utara, yang dipantau menggunakan aplikasi Pelagic Data Systems (PDS) secara daring (online) | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Hingga saat ini, MDPI memasang PDS di 14 kapal penangkap tuna (hand line tuna) di Sangihe (6 alat) dan Manado (8 alat). Semuanya kapal di bawah 10 GT.

Adapun Spot Trace memanfaatkan satelit untuk menentukan lokasi kapal pengguna alat ini. Dengan menyajikan informasi terkait posisi dan pergerakan kapal secara langsung (real time) karena menggunakan satelit, bukan sinyal seluler yang tergantung ketersediaan menara jaringan.

Aplikasi Bergerak

Hasil-hasil pemantauan melalui sistem pemantauan maupun pelacakan kapal kemudian menjadi bagian dari database yang juga dikembangkan MDPI bernama iFish, singkatan dari Indonesian Fisheries Information System atau Sistem Informasi Perikanan Indonesia.

“Aplikasi ini merupakan bagian dari proses teknologi berbasis keterlacakan (TBT),” kata I Gede Sujana Eka Putra, Pengembang Perangkat Lunak Yayasan MDPI.

Gede menjelaskan iFish berfungsi untuk mengumpulkan, menyimpan, dan membagi data dari pelaku bisnis perikanan skala kecil di Indonesia bagian timur. Tak hanya nelayan, proses tersebut juga melibatkan petugas lapangan MDPI, pemasok, dan pengolah ikan.

Sistem yang dikembangkan sejak 2012 ini mulai aktif digunakan sejak 2013. Sejak 2017, aplikasi ini bahkan ada juga di Google Play Store. Melalui aplikasi ini para pencatat data (enumerator) tinggal memasukkan data tangkapan nelayan kecil. “Petugas di lapangan tinggal bawa ponsel untuk memasukkan dan mengunggah data secara daring,” ujar Gede.

Label Fair Trade pada ikan tuna hasil tangkapan nelayan Pulau Buru, Maluku, yang bisa menunjukkan asal usul ikan | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Data yang masuk antara lain terkait jumlah tangkapan, lokasi tangkapan, kualitas ikan yang ditangkap, bahkan harganya. Petugas lapangan mencatatnya langsung di pelabuhan-pelabuhan yang sudah ditentukan. Karena data kemudian segera terbarui secara daring, mereka yang berkepentingan dengan data itu pun dengan mudah mendapatkannya.

Akumulasi data tiap bulan atau tahun ini berguna tidak hanya bagi pengusaha tetapi juga pemerintah dan peneliti. “Dengan aplikasi ini, pemantauan informasi terkait asal usul dan stok ikan jadi jauh lebih mudah diperoleh dan disebarkan,” kata Gede.

Teknologi lain yang juga sedang dikembangkan oleh MDPI saat ini adalah TraceTales. Bedanya, jika aplikasi lain lebih menyasar rantai ikan di bagian hulu, seperti nelayan dan pengumpul data, maka TraceTales fokus pada perusahaan pengolah ikan.

Informasi keterlacakan yang dikumpulkan mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman ke pembeli. Data pun jadi lebih akurat dan efisien.

Melalui semua sistem, alat, dan aplikasi tersebut, mengetahui asal usul menu pangan bahari jadi lebih mudah bagi konsumen, terutama mereka yang peduli pada perikanan berkelanjutan.


Sumber: Ditulis oleh Anton Muhajir dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Teknologi Digital Mulai Digunakan untuk Perikanan Budidaya Nasional Sebelummnya

Teknologi Digital Mulai Digunakan untuk Perikanan Budidaya Nasional

Mereka Diam Karena Buku Selanjutnya

Mereka Diam Karena Buku

0 Komentar

Beri Komentar