Kabupaten Nagekeo di Flores, Nusa Tenggara Timur, merupakan lokasi dimana musik bambu dan tarian tradisional berkembang. Dalam upaya untuk melestarikan warisan budaya, penyelenggara acara Mauponggo Youth Nagekeo mengadakan Festival Pantai Enagera pertama.

Penampilan musik bambu | Foto: Markus Makur / Jakarta Post

Bertempat di Bukit Sawu di distrik Mauponggo, acara ini berlangsung dari 26 Februari hingga 5 Maret. Sekitar 10 tarian disajikan di festival ini, ditampilkan oleh penduduk setempat dan juga siswa dari seluruh Nagekeo.

tarian ja'i, yang merayakan toleransi antar-agama dan toleransi antar-suku | Foto: Markus Makur / Jakarta Post

Di antara tarian itu ialah tarian todago, tarian kemenangan bagi pria yang pulang dari perang; Dero yang melambangkan persaudaraan dan toleransi; ja'i, yang merayakan toleransi antar-agama dan toleransi antar-suku; dan sepa api, tarian merek dagang dari desa Pautola dilakukan saat menginjak api.

Lodofikus Raga Muja, ketua Mauponggo Yputh EO, mengatakan kepada the Jakarta Post bahwa festival tersebut bertujuan untuk mempromosikan budaya dan objek wisata di Mauponggo.

Tarian Etu yang ditampilkan oleh dua prajurit |
Tarian Etu yang ditampilkan oleh dua prajurit | Foto: Markus Makur / Jakarta Post

Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja, mengatakan kaum milenial harus didorong untuk menciptakan dan terlibat dalam pengembangan daerah. "Festival ini adalah bukti bahwa generasi muda mampu membuat acara seperti itu," katanya.

Dia menambahkan bahwa festival ini harus diadakan setiap tahun, dengan dukungan pemerintah.

Bupati Nagekeo Yohanes Don Bosco Do juga mendorong para pemuda, mengatakan mereka seharusnya tidak pernah menyerah. "Teruslah menciptakan dan berinovasi untuk menyebarkan keindahan alam dan budaya Nagekeo," katanya.


Sumber: Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu