Hari Perempuan Sedunia

Tanggal 8 maret 2019 kemarin, jagat maya ramai-ramai mengucapkan International Women’s Day. Sejumlah netizen bertanya-tanya mengenai riwayat sejarah peringatan hari perempuan sedunia ini.

Dikutip dalam feminist studies tahun 1985, bahwa riwayat perayaan hari perempuan sedunia berawal dari protes wanita buruh yang bekerja di pabrik tekstil di New York pada tanggal 8 Maret 1907, ketidakadilan pada pekerja perempuan menjadi latarbelakang protes besar-besaran itu.

Lantas apa pentingnya peringatan hari tersebut, setidaknya dengan adanya kegiatan tersebut kaum perempuan dapat mendeskripsikan peran perempuan dalam hal apapun dan menjadi pengingat kita bahwa peran perempuan bukan main-main dalam pembangunan bangsa.

Perempuan Sosok pelengkap

Dikutip dari penelitian University of Washington (2017), menjelaskan bahwa perempuan memiliki peran lebih besar karena kemampuannya yang baik dalam hal verbal dan kepekaan sosialnya yang tinggi. Selain itu, mereka juga mampu menjadi sosok yang multitalenta dibeberapa bidang profesi dengan hasil yang maksimal.

Tak bisa dibayangkan jikalau seluruh penduduk bumi adalah laki-laki, maka semua akan tiada artinya. Keterlibatan perempuan dalam ruang-ruang publik nyatanya dapat memberikan sumbangsih besar bagi Indonesia saat ini. Dibalik orang besar terdapat wanita yang hebat. Sosok besar seperti soekarno sendiri, merasakan pentingnya wanita dalam perjalanan karirnya.

Dalam buku “Sarinah” bung karno mengatakan : "Sayang sekali, bahwa soal perempuan itu belum pernah dipelajari sungguh-sungguh oleh pergerakan kita. Sesudah kita memproklamasikan kemerdekaan, maka menurut pendapat saya soal perempuan itu perlu dengan segera dijelaskan dan dipopulerkan. Sebab kita tidak dapat menyusun negara dan tidak dapat menyusun masyarakat, jika (antara lain-lain soal) kita tidak mengerti soal perempuan. Itulah sebabnya saya, setiba saya di Yogyakarta, segera mengadakan kursus-kursus perempuan itu."

Bahkan Bung Karno mengkritik pandangan keblinger yang menganggap bahwa kaum laki-laki 'lebih mampu' dari perempuan. Pada kenyataannya, banyak hal-hal yang mengagumkan dari seorang perempuan. Begitu besar bukan peran perempuan.

Tantangan perempuan kedepannya

Jika kita cermati bersama secara jumlah, jumlah penduduk perempuan selalu diatas laki-laki. Di Indonesia saja dari data BPS tahun 2015 menunjukan bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa dengan proporsi Perempuan 128,1 juta jiwa dan laki-laki 126,8 jiwa.

Namun dengan jumlah yang lebih banyak tersebut, menjadi riskan bagi kaum perempuan jikalau tidak mengembangkan kualitasnya. Kuantitas yang begitu besar tak akan berarti jikalau tidak dibarengi dengan kualitas.

Pernyataan ini seolah diperkuat dengan hasil kajian Pembangunan Manusia Berbasis Gender Tahun (2017), Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dibagi per jenis kelamin, IPM laki-laki sudah termasuk kategori "tinggi" dengan nilai di atas 70, sedangkan perempuan masih pada level "sedang", dalam 7 tahun terakhir.

Setidaknya ada tiga langkah efektif yang harus dipersiapkan perempuan mendatang, pertama mengenai peningkatan softskill, kemampuan softskill memang menjadi pokok penting yang dibutuhkan perempuan Indonesia di masa mendatang. Kemampuan bekerjasama, kemampuan dalam mengambil peran, kemampuan komunikasi dengan baik, kemampuan bernegoisasi, dan pengembangan diri secara mendalam menjadi hal yang tidak boleh dilupakan oleh perempuan Indonesia di masa mendatang.

Kedua peningkatan hardskill, kemampuan hardskill lebih banyak menyinggung soal teknis dalam bekerja. Sosok perempuan sekarang selain pandai dalam memasak, juga harus menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketiga peningkatan kecerdasan emosional. Dalam segala aspek kehidupan nyatanya kecerdasan emosional menjadi tolak ukur kehidupan bahagia, banyak orang pintar dengan ilmu yang mumpuni, namun tidak dibarengi dengan kecerdasan emosional akan jauh tertinggal. Kecerdasan emosional ini timbul ketika kita terus berlatih menempatkan diri, mengontrol emosi, terus berinovasi, bekerjasama dalam tim serta terus melakukan kolaborasi.

Jika ketiga hal ini dapat dilakukan dimasa mendatang, bukan tidak mungkin kuantitas penduduk perempuan dimasa mendatang akan menyongsong kemajuan bangsa Indonesia diantara bangsa-bangsa di Dunia.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu