• Dusun Bondan, Ujung Alang, Kampung Laut, Cilacap, Jateng mulai teraliri listrik lebih baik pada 2010 dengan teknologi hybrid energi one pool (Heop) yakni menggabungkan antara panel surya dengan kincir angin.
  • Pada 2018, teknologi berganti dan tetap energy bersih yaitu pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) yang diberi nama E-Mas Bayu (Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin)
  • Teknologi semacam E-Mas Bayu oleh Menteri LHK akan dibawa ke tingkat nasional untuk diterapkan di daerah remote di Indonesia.
  • Program E-Mas Bayu berkapasitas 180 Kilowatt (KW) per bulan diklaim mampu menurunkan emisi sebesar 1,1 ton equivalent (eq) CO2. Dan mampu membantu perekonomian warga penggunanya

Ketika datang ke kawasan hutan mangrove di Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) sekitar tahun 1997, sejumlah warga dari Jawa Barat (Jabar) mulai berjuang untuk hidup di wilayah setempat. Mereka menjadi petani tambak dengan membudidayakan ikan bandeng, udang dan kepiting. Di daerah yang bernama Dusun Bondan, bagian dari Desa Ujung Alang, warga mulai menggantungkan hidupnya pada kawasan mangrove.

Bertahun-tahun, mereka hidup tanpa listrik, hanya mengandalkan lampu minyak tanah. Kemudian pada 2010, mereka memiliki ide untuk menyalur listrik dari tetangga desa yakni Desa Grugu, Kecamatan Kawunganten. Kabel yang ditopang dengan tiang bambu ditarik sepanjang 5 kilometer (km). Bisa dibayangkan kalau arus listriknya pasti tidak stabil. Tetapi apa mau dikata, mereka sangat membutuhkan listrik terutama untuk penerangan.

Perubahan mulai terjadi pada 2017, ketika masyarakat setempat dikenalkan dengan teknologi hybrid energi one pool (Heop) yakni menggabungkan antara panel surya dengan kincir angin. Sebagai pilot project, Heop memang mampu menjadi salah satu jawaban atas persoalan pasokan listrik di dusun setempat.

Meski telah mampu menerangi, tetapi salah satu kelemahannya adalah kapasitas listrik yang terlalu kecil dan masih menggunakan arus DC. Sehingga hanya dapat dipakai untuk penerangan, sedangkan menonton televisi atau mengisi baterai telepon seluler tidak bisa.

Pintu masuk kawasan ramah iklim di Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Setelah setahun memakai Heop, teknologi kembali berganti. Energinya tetap bersih seperti Heop dan memanfaatkan sinar matahari serta angin. Kini telah dibangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB).

“Kapasitasnya sudah lebih tinggi jika dibandingkan dengan Heop. Apalagi, pembangkit listrik yang merupakan perpaduan antara surya dan bayu tersebut telah menghasilkan arus AC. Sehingga masyarakat bisa langsung menggunakannya,”jelas Apudin, tokoh dusun setempat yang juga Ketua Kelompok Tani Tambak Mandiri pada Kamis (7/3/2019).

Menurut Apudin, pembangunan PLTS dan PLTB di Dusun Bondan dilakukan secara bertahap. Untuk tiang energi angin, misalnya, saat sekarang baru terpasang tiga dari lima nantinya. Kemudian nantinya juga akan ada tambahan panel surya sehingga seluruh rumah yang ada di dusun Bondan yakni 37 rumah bisa teraliri listrik semua. Bagi yang kini belum terailiri, masih dapat memanfaatkan Heop.

“Jadi, meski telah ada PLTS dan PLTB, Heop masih tetap dimanfaatkan oleh masyarakat. Sayang kalau tidak digunakan, karena masih bagus dan tetap dapat mengalirkan listrik,” katanya.

Apudin yang juga merupakan satu-satunya guru di SD Negeri Ujung Alang 1 Filial Bondan tersebut, mengatakan dengan adanya pembangkit listrik energi terbarukan tersebut, maka anak-anak di dusun setempat tidak lagi perlu khawatir kalau belajar malam.

“Dulu, anak-anak kerap tidak belajar kalau malam hari. Sebab tidak ada penerangan yang memadai. Alhamdulillah sejak adanya Heop yang kemudian ada energi listrik surya dan bayu, warga di sini dapat beraktivitas malam hari. Anak-anak dapat belajar, yang orang tua dapat bekerja membersihkan udang, ikan dan kepiting. Dulu tidak mungkin dapat dilakukan,” ujarnya.

Bagi warga di sini yang umumnya petambak, bisa meningkatkan perekonomian warga. “Dengan adanya pembangkit listrik surya dan bayu, kami dapat menekan pengeluaran dan bisa meningkatkan kesejahteraan. Dulu, pada saat kami menarik kabel listrik dari desa tetangga, kami harus memberi iuran senilai Rp60 ribu hingga Rp70 ribu/bulan. Kini, kami memberi iuran Rp25 ribu untuk biaya pemeliharaan instalasi listrik surya dan angin. Iuran harus ada supaya instalasi tetap terjaga dan berkelanjutan pasokan energinya,”ungkapnya.

Sebagai daerah terpencil, Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap menggunakan pembangkit listrik surya dan bayu untuk memenuhi kebutuhan energi listrik sehari-hari | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Apudin menambahkan adanya pembangkit listrik surya dan bayu sebetulnya juga ditujukan agar masyarakat lebih mandiri secara ekonomi. “Meski saat sekarang baru berjalan beberapa bulan, tetapi peningkatan ekonomi mulai terasa, apalagi setelah ada dua lemari pendingin atau freezer. Lemari pendingin itu dipakai oleh kelompok tani tambak untuk menyimpan hasil panen baik ikan bandeng, udang maupun kepiting,” katanya.

Dia menceritakan sebelum ada listrik dan lemari pendingin, maka masyarakat langsung menjualnya kepada tengkulak. Biasanya, kalau panenan melimpah dan seluruh petani tambak panen, maka harganya bakal jatuh. Sebab, tidak mungkin warga menahan hasil panen, kalau ditahan malah bisa membusuk. Maka dari itu, dengan adanya kemari pendingin, warga dapat menyimpannya dan kalau ada tengkulak membutuhkan, kami siap memasoknya.

“Harga ikan bandeng, misalnya, Rp15 ribu hingga Rp17 ribu/kg. Kalau panen melimpah, bisa lebih rendah dari itu. Dengan adanya tempat penyimpanan, maka petani tambak dapat mempertahankan harganya,”ujarnya.

Selain itu, lanjut Apudin, penberdayaan ibu-ibu juga bisa jalan dengan cara mengolah ikan bandeng mentah. “Ada beberapa produk yang kini dihasilkan yakni ikan bandeng tanpa duri maupun ikan bandeng fresto. Ikan bandeng fresto misalnya dijual dengan harga Rp15 ribu per bungkus isi satu ekor, sedangkan untuk bandeng tampa duri Rp10 ribu per bungkus isi satu ekor. Mudah-mudahan dengan pengolahan ikan bandeng oleh para perempuan di sini akan semakin meningkatkan kesejahteraan warga,”jelasnya.

Sementara ketika Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar meresmikan E-Mas Bayu (Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin) dan program E-Mbak Mina (Energi Mandiri Tambak Ikan) menyatakan terima kasih kepada Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap karena telah peduli terhadap lingkungan.

“Saya mengapresiasi Pertamina yang telah mengadakan program energi bersih dan peduli lingkungan di kawasan Kampung Laut, Cilacap. Model tenaga surya dan angin merupakan pembangkit yang cocok untuk daerah remote (daerah terpencil yang sulit dijangkau). Saya tadi lihat mesin-mesinnya dengan sistem off grid, artinya tidak harus masuk jaringan PLN,”jelas Menteri LHK saat peresmian E-Mas Bayu dan E-Mbak Mina di Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap pada Selasa (5/3).

Menteri LHK mengatakan bahwa model yang dikembangkan di Dusun Bondan bakal dikaji lebih mendalam dan akan dilihat mengenai kelembagaan masyarakatnya. “Model ini akan saya bawa ke tingkat nasional. Nantinya akan dilihat kelembagaannya, apakah koperasi atau BUMDes dan kelembagaan di tingkat masyarakatnya. Sebab, yang saya lihat kelembagaannya masih dikelola oleh kelompok tani,” ujarnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar saat melakukan panen ikan bandeng di Dusun Bondan | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Di tempat yang sama, Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif mengatakan pengembangan energi bersih berwawasan lingkungan didukung lewat program energi baru terbarukan telah menjadi komitmen Pertamina.

“Kami memberikan bantuan melalui dana CSR untuk masyarakat di Dusun Bondan, Desa Ujung Alang melalui program E-Mas Bayu dan E-Mbak Mina. Dengan kapasitas 180 Kilowatt (KW) per bulan dari program E-Mas Bayu, maka dapat menurunkan emisi sebesar 1,1 ton equivalent (eq) CO2. Sementara ini, program E-Mas Bayu secara bertahap akan mampu mengaliri 37 rumah warga. Kami terus berkomitmen untuk itu,” katanya.

Di sisi lain, dengan bantuan energi listrik hijau dan lemari pendingin, kelompok tani tambak dapat memanfaatkan guna menghasilkan produk olahan dari hasil panen ikan. Para ibu kelompok tani tambak sudah mampu mengolah ikan bandeng menjadi ikan bandeng fresto maupun bandeng tanpa duri. Ternyata, dampak dari energi terbarukan tak sekadar hanya penerangan, melainkan bisa mendongkrak kesejahteraan.


Sumber: Ditulis oleh L Darmawan dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu