Pedasnya Indonesia di London Book Fair 2019

Pedasnya Indonesia di London Book Fair 2019

Chef Bara Pattiradjawane menjadi salah satu pembicara di hari ketiga London Book Fair berbicara mengenai Sambal © Foto: Devina Heriyanto / Jakarta Post

Apa makanan terbaik untuk minggu terakhir musim dingin yang membekukan tubuh? Menurut chef Bara Pattiradjawane, jawabannya adalah sambal, sambal yang banyak orang Indonesia tidak bisa hidup tanpanya.

Chef Bara Pattiradjawane menunjukkan hidangan 'sambal colo-colo' dari Maluku. Chef Astrid Enricka Dhita membantunya membuat pasta | Foto:
Chef Bara Pattiradjawane menunjukkan hidangan 'sambal colo-colo' dari Maluku. Chef Astrid Enricka Dhita membantunya | Foto: Devina Heriyanto / Jakarta Post

Pada hari Kamis, hari terakhir London Book Fair 2019, sang koki populer tersebut menyajikan tiga jenis sambal di stan Indonesia dengan nama Spice Cafe.

Bara adalah penulis buku baru berjudul Sambal Nation, sebuah buku resep tentang makanan yang ia sebut "bumbu pedas yang menyatukan suatu bangsa".

"Sambal sebenarnya hanya cabai yang dihancurkan dengan lesung dan alu, dengan [tambahan] garam. Itu merupakan sambal dasar," kata Bara. "lalu kamu dapat menambahkan terasi, gula, atau apapun yang lainnya ke dalam sambal dasar tersebut sehingga menjadi sambal Indonesia."

Bara menyiapkan dan menyajikan tiga jenis sambal selama sesi panel beserta makan siang, sambal rias andaliman dari Sumatra Utara, sambal dadak dari Jawa Barat, dan sambal colo-colo dari Maluku, menampilkan kompleksitas dan keragaman hidangan yang tampaknya sederhana.

Sambal colo-colo 'dari Maluku menggunakan banyak jus jeruk nipis dan daun kemangi. Versi aslinya menyerukan 'cabai rawit' hijau (cabai rawit) bukannya cabai merah biasa | Foto: Devina Heriyanto / Jakarta Post
Sambal colo-colo 'dari Maluku menggunakan banyak jus jeruk nipis dan daun kemangi. Versi aslinya menyerukan 'cabai rawit' hijau (cabai rawit) bukannya cabai merah biasa | Foto: Devina Heriyanto / Jakarta Post

“Ada yang cukup sederhana dan mentah, dan ada yang cukup kompleks. Beberapa resep bisa dilakukan dalam waktu kurang dari lima menit, dan beberapa bisa memakan waktu empat jam,” kata Bara.

Sambal rias andaliman, misalnya. Bara menyebutkan bahwa bahan utama dalam hidangan ini adalah andaliman (lada batak), yang sering diterjemahkan sebagai lada Sichuan, meskipun ramuannya berbeda sama sekali. Andaliman khusus untuk wilayah Sumatra Utara dan bisa sangat sulit ditemukan di tempat lain di seluruh Indonesia.

Dalam sesi tersebut, Bara mengundang pengunjung untuk bergabung dengannya dalam menyiapkan sambal. Konstantinos Konvasdekis dari Yunani mengajukan diri untuk menyiapkan sambal dadak, sebelum mencobanya sendiri.

"Ini cukup pedas, tapi saya masih bisa mengatasinya," katanya.

Para pengunjung Spice Cafe yang menjajal sambal beserta kerupuk | Foto:
Para pengunjung Spice Cafe yang menjajal sambal beserta kerupuk | Foto: Devina Heriyanto / Jakarta Post

Para penunjung Spice Cafe berbaris untuk mencoba sambal hanya dengan kerupuk atau dengan sepiring hidangan nasi panas mengepul dan tuna suwir. Hari itu agak dingin di London, dengan angin kencang dan hujan di pagi hari, tetapi sambal Indonesia menyelamatkan hari itu dan menghangatkan para pengunjung di pameran buku.


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Desainer Muda Yogyakarta: Menyapa Dunia Lewat Sogan Batik Sebelummnya

Desainer Muda Yogyakarta: Menyapa Dunia Lewat Sogan Batik

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019 Selanjutnya

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.