Happy Hearts Indonesia dan Misi Rekonstruksi 200 Sekolah di NTT

Happy Hearts Indonesia dan Misi Rekonstruksi 200 Sekolah di NTT

Kiri ke kanan: Shannon Hartono (VP Time International, Partner Happy Hearts Indonesia), Sylvia Beiwinkler (CEO Happy Hearts Indonesia), Kelly Tandiono (Model, Aktris, dan Ambassador Happy Hearts Indonesia) © Aditya Jaya/GNFI

  • Tahun ini Happy Hearts Indonesia mencanangkan target rekonstruksi 200 sekolah di NTT.
  • Angka tersebut terdiri dari 50 sekolah di Flores, 50 sekolah di Timor, dan 100 sekolah di Sumba.
  • Ini melanjutkan gerak positif HHI sejak diresmikan pada 2013.

Sejak diresmikan pada 2013, Happy Hearts Indonesia (Yayasan Hati Gembira Indonesia) atau yang biasa disingkat HHI, telah membantu rekonstruksi puluhan sekolah yang terdampak bencana alam di Indonesia. Lalu kini di tahun 2019, HHI menargetkan rekonstruksi 200 sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam konferensi pers yang digelar HHI hari ini (18/3) di Century Park Hotel, Jakarta, dijelaskan bahwa angka 200 didapat untuk menyesuaikan jumlah murid yang ada di NTT. Nantinya, akan direkonstruksi 50 sekolah di Flores, 50 sekolah di Timor, dan 100 sekolah di Sumba.

Namun demikian sekolah-sekolah yang akan direkonstruksi juga dipilih sesuai kriteria. Ini berkaitan dengan siapa pemilik lahannya, ada izin operasional atau tidak, dan apakah ada cukup tenaga pengajar di sana.

HHI memulai rekonstruksi sekolah di NTT pada tahun 2016, kemudian di tahun 2018 meluncurkan kampanye #iamchange yang menargetkan rekonstruksi 200 sekolah di NTT. Saat ini sudah ada 21 sekolah di NTT yang direkonstruksi, dengan kurang lebih 1.438 anak di NTT yang merasakan dampak positif dari program tersebut.

Tak hanya anak-anak, dampak positif kampanye #iamchange juga ikut dirasakan para guru di sekolah pendidikan usia dini di Sumba, Timor Barat, dan kabupaten Manggarai Barat, Flores.

“Dengan gedung yang baru dan bagus, anak-anak jadi lebih bebas bermain. Guru juga semakin semangat mengajar karena banyak alat permainan edukasi yang disediakan,” ucap seorang pengajar di PAUD Satar Walang, Paulina Mbaung.

Selain melakukan rekonstruksi sekolah, program #iamchange juga dilengkapi dengan pelatihan WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) dan program Happy Kids. Pelatihan WASH mengajarkan anak-anak agar terbiasa mencuci tangan dan menjaga kebersihan sekolah, sementara program Happy Kids menyediakan seragam sekolah, makanan bernutrisi, pengecekan kesehatan, dan memfasilitasi hari lingkungan.

Rangkaian kegiatan ini sedang berjalan di dua sekolah PAUD di Sumba Barat Daya, dengan total 92 siswa sebagai penerima manfaat. Berdasarkan catatan HHI, berkat program makanan bernutrisi Happy Kids, 96% dari total siswa mengalami kenaikan berat badan sebesar 0,5-1,6 Kg dalam dua bulan pertama tahun ini.***

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Literasi Lingkungan Menuju Bandung Bebas Sampah dari Ibu-Ibu PKK Cinambo Sebelummnya

Literasi Lingkungan Menuju Bandung Bebas Sampah dari Ibu-Ibu PKK Cinambo

"Hikmah" Perang Dagang, Dua Perusahaan Mobil Listrik Akan Bangun Pabrik di Indonesia Selanjutnya

"Hikmah" Perang Dagang, Dua Perusahaan Mobil Listrik Akan Bangun Pabrik di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.