Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan bahwa Indonesia saat ini sedang mengembangkan teknologi mitigasi bencana yang akan ditempatkan di banyak tujuan wisata.

"Dukungan teknologi untuk mitigasi bencana akan meningkatkan pengalaman wisata," kata Arief dalam sebuah pernyataan pers pada hari Kamis seperti dikutip dari The Jakarta Post, menambahkan bahwa negara ini mengambil langkah-langkah menuju pemenuhan standar yang diperkenalkan oleh Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO - United Nations World Tourism Organization).

Teknologi ini juga akan meningkatkan daya saing industri pariwisata Indonesia di pasar global, terangnya.

Kementerian Pariwisata berupaya membantu Indonesia untuk mencapai posisi ke-30 dalam Indeks Daya Saing Perjalanan dan Pariwisata (TTCI - Travel and Tourism Competitiveness Index) dari World Economic Forum (WEF).

Saat ini, Indonesia duduk di urutan ke 42.

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan, badan tersebut mendorong penggunaan sistem peringatan dini di destinasi wisata yang sering terkena dampak bencana - baik geologis maupun hidrometeorologis.

BPPT telah mengembangkan teknologi untuk sistem peringatan dini dan pencegahan dini untuk bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor serta bencana geologis seperti gempa bumi dan tsunami," kata Hammam.

Dia mengatakan tiga jenis teknologi telah dikembangkan, yaitu sistem peringatan dini banjir (FEWS - flood early warning system), sistem peringatan dini tanah longsor (LEWS - landslide early warning system) dan sistem Pelampung Merah Putih untuk tsunami.

“Teknologi pendeteksian dan peringatan dini menggunakan pelampung, kabel dan radar terintegrasi ke dalam sistem peringatan dini yang ada, yang didukung oleh generasi keempat dari sistem komunikasi [...],” tambahnya.


Sumber: Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu