Siapa Sangka 10 Tahun Lalu Kawasan Hutan Bakau di Jakarta Utara Ini Merupakan Tanah Tandus?

Siapa Sangka 10 Tahun Lalu Kawasan Hutan Bakau di Jakarta Utara Ini Merupakan Tanah Tandus?

Hutan Mangrove Jakarta © Sumber: Malesmandi.com

Jakarta Utara telah melihat pertumbuhan 32.000 pohon sejak ditanam 10 tahun lalu di Hutan Bakau Ecomarine.

Pohon-pohon tersebut ditanam di lahan seluas 1,8 hektar yang awalnya tandus sebelum dikonversi menjadi hutan di tepi Muara Kali Adem di Muara Angke.

"Dari 2008 hingga sekarang, 32.000 pohon bakau telah tumbuh di sini," kata kepala Komunitas Bakau Muara Angke, Muhammad Said seperti dikutip dari tempo.co pada hari Rabu.

Pohon-pohon bakau termasuk pidada (Sonneratia), api-api (Avicennia), Nipa palm (Nypa fruticans), dan mangrove merah (Rhizophora), ujar Said menjelaskan.

Pohon-pohon tersebut ditanam untuk memulihkan ekosistem hutan bakau di sepanjang pantai utara Jakarta, yang terancam oleh konversi lahan.

“Ada hutan bakau, tetapi pada 1990-an mereka musnah karena dampak pembangunan. Pada tahun 2008, kami membentuk komunitas bakau dan memulai penanaman bakau demi merawat masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Burung-burung hinggap di pohon di hutan bakau di Muara Angke, Jakarta Utara, pada 15 Desember 2015. (Tempo / Iqbal Ichsa
Burung-burung hinggap di pohon di hutan bakau di Muara Angke, Jakarta Utara, pada 15 Desember 2015 | Foto: Iqbal Ichsan / Tempo

Pada tahun 2008, masyarakat menanam 100 biji bakau di Muara Kali Adem, yang dulunya dipenuhi dengan sampah plastik.

“Muara ini adalah titik akhir dari 12 sungai di Jakarta. Sampah menumpuk dulunya. Kami harus menggali lebih dalam ke tanah agar akar bakau bisa tumbuh dengan baik," ucapnya.

Dia juga mengatakan hutan bakau bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

"Angin kencang sering memasuki rumah-rumah, tetapi sekarang angin dihadang oleh pohon-pohon bakau. Akar pohon juga telah menyerap air pasang,” ujar Said.

Pohon-pohon itu juga memberi manfaat bagi mereka yang tinggal di dekatnya, karena buahnya digunakan untuk sari buah, dodol, dan selai.

Pengunjung juga dapat memasuki hutan secara gratis .


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga78%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau11%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Rawan Bencana, Bagaimana Kesiapan Indonesia Terhadap Bencana Khususnya di Daerah Tujuan Wisata? Sebelummnya

Rawan Bencana, Bagaimana Kesiapan Indonesia Terhadap Bencana Khususnya di Daerah Tujuan Wisata?

Selandia Baru yang Jatuh Cinta dengan Kopi Instan Indonesia Selanjutnya

Selandia Baru yang Jatuh Cinta dengan Kopi Instan Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.