Kala Hutan Mangrove jadi Penyelamat Lingkungan dan Ekonomi Warga Paremas

Kala Hutan Mangrove jadi Penyelamat Lingkungan dan Ekonomi Warga Paremas
info gambar utama
  • Hutan mangrove di Desa Paremas menyelamatkan penduduk dari abrasi pantai dan rob saat air pasang. Sejak mangrove tumbuh lebat, nyamuk yang dulu sering mengganggu hilang.
  • Mangrove lestari jadi rumah beragam mahluk hidup, seperti ikan, udang dan kepiting. Warga pun tak sulit mencari ikan atau kepiting buat memenuhi keperluan sehari-hari.
  • Setelah ada mangrove, ada kepiting, para perempuan memanfaatkan cangkang kepiting jadi kerupuk. Ada juga yang membuat cake dari buah mangrove.
  • Para perempuan Jerowaru, yang dulu bergantung uang kiriman suami yang bekerja sebagai buruh migran di Malaysia, kini, sudah bisa berdaya dan mempunyai sumber penghasilan lain.Lingkungan terjaga, perempuan berdaya.

Akhir Februari itu, udara di Pesisir Dusun Keranji, Desa Paremas, Kecamatan Jerowaru, terasa sejuk. Hari biasa, cuaca di daerah bagian selatan Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini lebih panas daripada bagian utara atau tengah.

Daerah selatan Lombok Timur, dikenal sebagai daerah kering. Matahari seperti di atas ubun-ubun bahkan sampai sore. Berbeda kala menikmati sore di dusun yang persis di bibir laut itu karena hutan mangrove tumbuh rimbun.

Sore itu, Harniati, perempuan Dusun Keranji, menemani putri bungsunya mencari kerang di hutan mangrove depan rumah mereka. Hanya berbatas jalan setapak, Harniati, membawa ember dan sabit. Putrinya tertarik melihat anak-anak di dusun itu bermain di hutan mangrove. Mereka membawa ember, hilir mudik di antara rimbun mangrove.

Saat air laut surut, warga pesisir Desa Paremas, biasa mencari ikan yang terperangkap di kubangan setelah air laut surut. Warga juga mencari kerang, kepiting, dan hewan laut lain. Masyarakat Lombok menyebut aktivitas itu dengan mada’. Bermodal ember, sabit, jaring kecil, atau tombak kecil, warga memanen ikan dan kerang.

Kalau beruntung bisa memperoleh hingga satu ember. Mada’ ini juga menjadi ajang bagi warga berkumpul. Sambil mencari ikan dan kerang, mereka mengobrol, kadang ada yang membawa bekal camilan dan kopi.

Mada’ menjadi semacam ruang terbuka bagi masyarakat pesisir.

“Lebih gampang sekarang cari di sekitar sini. Anak-anak juga mudah dapatnya,’’ kata Harniati.

Pantai di depan rumah Harniati, berlumpur. Saat air laut surut, sering tercium bau menyengat. Sampah yang terbawa arus laut dari berbagai daerah, bertumpuk di kampung yang berupa teluk kecil itu.

Tampak hutan mangrove lumayan rimbun. Ancaman masih mengintai bagi mangrove di Teluk Jor, termasuk di Desa Paremas, ini oleh tambak garam dan tambak udang. Padahal, hutan mangrove itu melindungi kampung mereka dari abrasi dan rob | Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar

Sampah juga jadi tempat bersarang nyamuk. Saat air laut pasang, air naik hingga ke rumah warga. Karena itulah, warga membuat pondasi rumah batu lebih tinggi dari rumah warga di tengah kampung.

“Sekarang nyamuk juga sudah tidak ada, sampah juga banyak yang nyangkut di mangrove. Ketika air besar hilang sendirinya sampah itu,’’ katanya.

Mangrove depan rumah Harniati, ditanam sekitar sembilan tahun lalu. Mangrove, katanya, ada sejak lama tetapi hanya hitungan jari dan ukuran kecil.

Ketika ada mangrove besar, saat warga perlu kayu bakar, mereka menebangnya. Setelah pemerintah dan organisasi masyarakat spil masuk ke kampung, memberikan pemahaman kepada masyarakat, dan bibit, warga menanam mangrove serentak.

Ibu-ibu, dan anak-anak terlibat dalam penanaman itu. Mangrove tumbuh cepat. Kini, sudah lebat dan jadi hutan hutan mangrove.

“Banyak manfaatnya sekarang,’’ katanya.

Bagi Harniati dan para perempuan Dusun Keranji, hutan mangrove ini memudahkan mereka mencari ikan, kerang, kepiting. Bahkan, anak-anak usia SD pun bisa mencari bahan lauk pauk.

Mereka tak perlu jauh melaut sekadar mencari protein. Bagi para perempuan di dusun yang ditinggal merantau suami ini, mereka tak lagi khawatir terlambat mendapat kiriman.

Hutan mangrove juga melindungi dusun mereka dari abrasi pantai dan rob saat air pasang.

Saat Mongabay, berkunjung akhir Februari lalu, sangat jarang pria dewasa di dusun ini. Perahu-perahu kecil ditambatkan di pesisir juga bisa dihitung jari. Sebagian lelaki yang membersihkan perahu juga terlihat berusia lanjut. Pria dewasa di kampung ini banyak jadi buruh migran ke Malaysia.

Walaupun mampu memenuhi kebutuhan lauk pauk mereka, Harniati bilang, hasil tangkapan laut setiap tahun berkurang. Tidak cukup membiayai sekolah putra putri mereka. Pilihannya, suami jadi buruh migran ke Malaysia. Rumah-rumah permanen yang dibangun di kampung itu dari hasil buruh di Malaysia.

Potret seperti ini juga terjadi di dusun-dusun lain yang berbatasan di pesisir di kawasan Jerowaru. Nelayan kecil hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk mendapatkan lebih, terpaksa jadi buruh ke Malaysia. Yang bertahan, katanya, paling nelayan armada besar, atau lahan menanam jagung.

Desa-desa di selatan Lombok Timur, tak pernah terpenuhi kebutuhan air bersih termasuk irigasi teknis dengan saluran air tak sampai ke sana. Tanah hanya ditanami sekali setahun, saat musim hujan. Saat kemarau, yang memiliki modal menanam tembakau rajang atau membiarkan kosong menunggu sampai turun hujan.

“Tidak semua nelayan punya tanah,’’ katanya.

Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk | Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar

Beragam pangan

Dua tahun lalu mahasiswa Universitas Mataram, berkunjung ke Desa Paremas. Mereka praktik kerja lapangan, mengamati keragaman biota setelah mangrove lebat dengan dampingan dosen pembimbing.

Saat kegiatan mahasiswa itu, dosen pembimbing mengisi waktu bersama warga dengan membuat kerupuk kepiting. Kepiting mudah didapat di Desa Paremas, yang kaya mangrove. Selain itu, dicoba juga mengolah kerupuk dari cangkang kepiting. Rasanya sama dengan kerupuk dari daging kepiting, hanya saja saat itu masih terasa seperti ada pasir di kerupuk.

Sebagai kenang-kenangan dari mahasiswa dan dosen itu, Harniati mendapat perlengkapan membuat kerupuk.

Harniati mengajak ibu-ibu mencoba membuat kerupuk kepiting. Belasan kali dicoba, hingga mereka menemukan tingkat kehalusan dan campuran yang tepat. Rasa kepiting bertahan, tanpa ada lagi rasa pasir. Saat itulah, mereka mulai memcoba menjual kerupuk itu di kios kecil milik Harniati.

“Setelah orang suka, ceritanya menyebar dan banyak cari. Kami buat kelompok dan buat kerupuk cangkang lebih banyak,’’ katanya.

Kepiting hasil tangkapan di kampung mereka tak mencukupi. Harniati dan teman-teman mencari cangkang kepiting di para pengepul. Kebetulan beberapa teman bekerja sebagai buruh pengupasan kepiting. Pengepul itu hanya mengambil daging kepiting. Cangkang dibuang. Harniati meminta cangkang.

Awalnya, hanya beberapa kilogram, setelah usaha berjalan lancar, Harniati mengganti jasa pengumpulan cangkang kepiting itu. Para buruh di tempat pengupasan itu, tak lagi langsung membuang. Mereka mengumpulkan dan memasukkan dalam karung.

Harniati dan kelompok membayar Rp25.000 untuk satu karung cangkang kepiting.

Awalnya, hanya beberapa orang saja yang membantu Harniati membuat kerupuk. Setelah kerupuk cangkang kepiting dikenal, banyak pembeli datang langsung ke rumah Harniati. Dia sering kewalahan memenuhi pesanan.

Harniati mengajak tetangga, yang kebetulan sebagian besar ibu rumah tangga yang ditinggal merantau suami ke Malaysia.

“Ketimbang hanya duduk menunggu kiriman suami, saya ajak mereka. Sekarang 10 orang bergabung,’’ katanya.

Siti Fauziah, ibu tiga anak merasa terbantu setelah mereka memproduksi kerupuk cangkang kepiting. Dalam sehari , mereka bisa produksi hingga tiga kg. Hasil perhitungan mereka, satu kg perlu modal Rp50.000, setelah jadi kerupuk hasilkan Rp150.000. Setelah dikurangi biaya produksi, uang pendapatan penjualan dibagi.

“Sekarang kiriman suami kami tabung. Untuk makan sehari-hari bisa dapat dari jual kerupuk,’’ katanya.

Buah mangrove diolah menjadi tepung yang dijadikan bahan dasar pembuatan cake mangrove. Tepung dari buah mangrove itu rasa dan aromanya seperti coklat, tapi sedikit lebih lembut dibandingkan coklat dari biji kakao | Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar

Kalau Harniati dan kelompok mengolah kepiting, lain lagi kelompok Pare Bunga Desa. Kelompok yang diinisiasi Nursiah dan Suhaini ini membuat olahan kue dari buah mangrove. Mereka membuat kue basah (cake) dari bahan dasar tepung buah mangrove.

Buah mangrove yang berlimpah di kampung mereka. Buah dipetik terlebih dahulu, lalu dikupas. Setelah itu, diiris kecil dan dikeringkan. Buah mangrove yang sudah kering dibuat jadi tepung. Tepung inilah yang jadi bahan dasar pembuatan cake.

Nursiah dan Suhaini, menyuguhi saya cake buatan mereka, yang baru saja matang. Begitu dibuka, terasa aroma coklat. Tunggu dulu. Berbeda bau dengan coklat kakao. Bau lebih lembut. Saya pun mencicipi cake itu.

Rasanya seperti coklat tetapi tak sekeras coklat biji kakao yang pernah saya cicipi.

“Tepung bakau ini jadi pengganti coklat,’’ kata Suhaini.

Komposisi tepung terigu dan tepung magrove yang tepat diperoleh Nursiah dan Suhaini, setelah mencoba berulang kali. Kini, mereka percaya diri menjual cake mangrove. Mereka biasa membuat cake ketika ada pesanan. Pemasaran masih terbatas mengingat tempat tinggal jauh dari pasar.

Hutan mangrove di desa ini mampu menyelamatkan lingkungan, sekaligus penyelamat ekonomi keluarga. Para perempuan yang suami mereka buruh migran, tak lagi terlalu bergantung.

Selain upaya mengembangkan produk olahan lain dan pemasaran, tantangan di desa ini justru datang dari pemerintah. Saat izin pembukaan tambak garam dan tambak udang, Harniati dan perempuan Desa Paremas, khawatir kalau =hutan mangrove habis.

Mereka khawatir, kondisi kembali seperti dulu, banyak sampah, nyamuk, dan air pasang. Rumah kepiting pun hilang dan bisa habis mangrove, bahan pangan mereka…

Rumah-rumah warga Dusun Keranji, Desa Paremas, langsung berhadapan dengan laut. Sebelum ada pohon mangrove, saat air pasang, air laut naik ke badan jalan membawa sampah dan saat surut menjadi sarang nyamuk | Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
info gambar


Sumber: Ditulis oleh Fathul Rakhman dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini