Kita Ini Bangsa Pemaaf atau Pelupa?

Kita Ini Bangsa Pemaaf atau Pelupa?

Bendera Indonesia © Nick Agus Arya/Unsplash

Presiden Meksiko, Andrea Manuel Lopez Obrador, atau yang dikenal dengan sebutan AMLO, pada konferensi pers di Istana Nasional Meksiko tanggal 26 Maret 2019 mengatakan bahwa dia sudah mengirim surat resmi ke Raja Spanyol untuk meminta kerajaan Monarki Spanyol ini mengakui dan meminta maaf atas penaklukan Meksiko.

Dalam video yang diunggah pada hari Senin (25 Maret 2019), presiden AMLO yang didamping istrinya berdiri di depan reruntuhan Piramid suku bangsa Maya di kota Tabasco Meksiko, berbicara di depan kamera mengatakan bahwa pada masa penjajahan Spanyol itu telah terjadi pembunuhan dan penjajahan.

Dia menyebut penaklukan bangsa Spanyol terhadap bangsa Maya dengan pedang dan Salib, mendirikan gereja di atas reruntuhan kuil milik suku Maya, dan karena itu dia meminta negera Spanyol untuk minta maaf pada suku asli Meksiko itu.

Pada bulan November nanti, tepat 500 tahun peringatan hari ketika raja Mnntezuma mengundang Cortes dari Spanyol dan bala tentaranya masuk ke ibu kota Aztec Tenochtitlan yang berpenduduk 200.000 dan merupakan penduduk terbesar kota metropolis pada masa itu.

Meskipun raja Aztec meyambutnya dengan ramah, tapi Cortes mengepung kota itu selama 75 hari dan menyebabkan kelaparan di mana-mana. Cortes juga secara sepihak mendirikan pusat pemerintahan penjajah di kota itu yang sekarang menjadi Mexico City.

Pemerintah Spanyol sangat kecewa dengan publikasi surat presiden Meksiko ke Raja Spanyol pada tanggal 1 Maret 2019 dan menolak permintaan untuk minta maaf. Kehadiran Spanyol ke Meksiko 500 tahun lalu tidak bisa dinilai dengan kacamata sekarang mengingat persahabatan dua negara; dan bagaimana kedua bangsa melihat sejarah itu tidak dengan kemarahan….demikian pernyataan resmi pemerintah Spanyol menanggapi surat presiden Meksiko itu.

Sejarah mencatat bahwa setelah menguasai kekaisaran Aztec, orang-orang Spanyol menguasai seluruh Meksiko dan menjajahnya dengan tangan besi tahun 1525; dan merampok kekayaan Meksiko seperti emas dan kekayaan lainnya. Penjajah Spanyol juga mengeterapkan sistem yang disebut encomieda yang memaksa pendduk asli kerja paksa menjadi budak di perkebunan-perkebunan dan tambang-tambang.

Seorang misionaris bernama Bartolome de las Casas menulis pengalamannya mengunjungi negara-negara yang dijajah Spanyol di Amerika Latin pada tahun antara 1517 dan 1540. Di bukunya Brevísima relación de la destrucción de las Indias (Catatan pendek tentang kehancuran Indies) menyaksikan kebrutalan penjajah Spanyol yang melakukan penyiksaan, pemerkosaan terhadap wanita dan mutilasi terhadap penduduk asli. The Oxford Encyclopedia of Human Rights menyebutkan penjajahan Spanyol itu merupakan genosida terbesar dalam abad modern ini.

Indonesia juga pernah menjadi rebutan dan bagi-bagi daerah penjajahan dari negara-negara Eropa karena kekayaan Indonesia yang begitu melimpah. Ada emas, ada nikel, batu bara, gas, minyak, kelapa sawit, kopi, teh, perkebunan berbagai macam tanaman, kekayaan ikan yang tidak habis-habis.

Saya sebagai dosen jujur sedih ketika menanyakan siapa saja yang pernah menjajah negeri kita pada mahasiswa, dan rata-rata tidak bisa menjawab, tahunya hanya Belanda saja –meskipun demikian tidak tahu VOC. Padahal ketika saya sekolah SR (Sekolah Rakyat tahun 1950-an) kami murid-murid hapal negara penjajah dan berikut tahunnya.

Ternyata kita ini pernah dijajah enam negara yaitu Portugis di Maluku pada tahun 1509-1595, Spanyol menjajah Sulawesi Utara pada 1521-1682, Belanda tahun 1602-1942, Prancis secara tidak langsug menjajah pada tahun 1805-1811 karena kerajaan Belanda takluk pada Prancis masa itu, Inggris pada 1811-1816 dan Jepang menjajah negeri kita ini tahun 1942-1945. Kemudian Belanda datang lagi tahun 1949 berusaha melanggengkan penjajahannya.

Bangsa kita seperti juga bangsa-bangsa Amerika Latin mengalami penderitaan penjajahan yang bengis dan perampokan sumber-sumber kekayaan alam selama ratusan tahun, namun Indonesia tidak pernah meminta maaf negara-negara penjajah itu.

Belanda pernah meminta maaf kepada RI tapi hanya sebatas pada tahun 1945-1949 atas kasus pembunuhan tentara Belanda terhadap bangsa kita pada kasus pembantaian yang terjadi di Sulawesi Selatan, Rawa Gede, Karawang Jawa Barat.

Permintaan maaf ini dilakukan Dubes Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan di Jakarta pada bulan September 2013. Permintaan maaf itu dilakukan atas pembunuhan tanpa proses pengadilan oleh tentara Belanda. Namun pemerintah Belanda tidak minta maaf atas penjajahan di Indonesia selama ratusan tahun itu; juga negara-negara penjajah yang lainnya tidak minta maaf.

Saya tidak tahu jawaban atas pertanyaan, kalau pemerintah kita tidak meminta negara-negara penjajah itu untuk minta maaf atas kekejaman dan pengurasan kekayaan alam Indonesia selama ratusan tahun, (sementara presiden Meksiko menuntut maaf secara resmi penjajah Spanyol atas negaranya), apakah itu karena kita ini bangsa Pemaaf….atau Pelupa (terhadap penjajahan itu).

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih25%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

KIPIN Juga Hadir di Jambi Sebelummnya

KIPIN Juga Hadir di Jambi

FOUNDER RUANG INOVASI PACU SEMANGAT MAHASISWA BARU IAIN TULUNGAGUNG Selanjutnya

FOUNDER RUANG INOVASI PACU SEMANGAT MAHASISWA BARU IAIN TULUNGAGUNG

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.