Tim Ekspedisi Dunia Asal Indonesia Berbagi Cinta untuk Pengungsi di Azerbaijan

Tim Ekspedisi Dunia Asal Indonesia Berbagi Cinta untuk Pengungsi di Azerbaijan

Tim Ekspedisi, Dubes RI Azerbaijan dan Keluarga di depan Heydar Aliyev Centre © Astrid Septriana

Minggu (25/3) lalu, rombongan tim ekspedisi keliling dunia yakni Hartawan ‘Hauwke’ Setjodoningrat, Sunny Ruslie dan Hendarmin Wibawa, yang tergabung dalam ‘Indonesia Country Explorer’ tiba di ibu kota negara Azerbaijan dengan mobil Jakarta bernomor polisi B 68 AR milik Sunny Ruslie, yang sebelumnya di parkir di Istanbul.

Trio ekspedisi ini sebelumnya mengeksplor sejumlah kota di Turki dan Georgia dengan mobil tersebut hingga akhirnya meneruskan perjalanannya sampai ke Baku.

“Saya salut dengan bapak-bapak ini, baik dari visinya, fisiknya dan semangatnya untuk menjalani target keliling dunia yang kini sudah memasuki tahun ke-5. Meninggalkan zona nyaman, mempromosikan dan membawa nama bangsa kita, menjalin kedekatan hubungan dengan banyak orang baru yang pasti akan terus memperkaya nilai kemanusiaan kita,” ujar Husnan Bey Fananie, Dubes RI Azerbaijan yang menerima rombongan untuk singgah di wisma Indonesia.

Rencananya mobil Land Cruiser ini akan melanjutkan perjalanannya hingga sekitar 5000 km ke kota Brussel di Belgia.

“Dari Baku ini kami akan menuju kembali ke Georgia, Turki, Bulgaria, Serbia, terus ke atas sampai ke Belgia.” Kata Sunny Ruslie.

Ia menjelaskan bahwa perjalanannya yang sudah dimulai sejak Juli 2014 ini sudah membawanya ke beberapa wilayah, Asia Tenggara, Asia Tengah seperti Kirgizstan, Kazakhstan, ke Rusia hingga ke daerah Skandinavia seperti Finlandia dan Swedia.

“Sebelum sampai di Baku, kami pikir Azerbaijan ini seperti negara-negara eks Soviet lainnya, yang tidak modern. Tapi ketika sampai di sini, kami sendiri sangat terkejut melihat kota Baku, kotanya bersih, tertata, infrastrukturnya bagus dan modern sekali, seperti di Singapore atau Monaco,” jelas Hendarmin Wibawa.

Dalam kesempatan tersebut trio ekspedisi ini singgah di kota Baku, mereka juga mengadakan kegiatan bakti sosial dengan membagikan sumbangan berupa paket sembako dan selimut kepada para pengungsi dari daerah konflik antara negara Azerbaijan dengan Armenia yakni daerah Nagorno – Karabakh.

340 paket sumbangan diberikan kepada para pengungsi ini, dengan pesan “Kami keliling dunia dengan mobil, datang ke Azerbaijan dengan cinta dan damai, untuk menjalin persaudaraan yang lebih erat antara Indonesia dengan Azerbaijan.”

Ini merupakan wujud simpati kepada para pengungsi dan sebagai bentuk dukungan untuk penyelesaian konflik di daerah Nagorno – Karabakh.

“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan adanya pemahaman dari masyarakat Azerbaijan bahwa bangsa Indonesia selalu memberikan perhatian kepada negara saudaranya, seperti Azerbaijan,” jelas Husnan Bey Fananie di Qobu Kompleks, tempat penampungan para pengungsi.

Selain plat hitam dengan nomor polisi B 68 AR yang bertengger di mobil ini sudah menarik perhatian khalayak Azerbaijan, dipampang juga brand ‘Wonderful Indonesia’ di mobil yang sudah menembus sekitar 70 perbatasan negara ini.

Di kota Baku, mobil diparkir di beberapa tempat turis dan menjadi pusat perhatian untuk difoto-foto. Ini salah satu cara yang menarik untuk memperkenalkan Indonesia di wajah dunia.

Di Azerbaijan, Hauwke cs juga melancong ke kota Naxchivan untuk melihat makam Nabi Nuh A.S, ke gua Ashabu Kahf, ke gunung ular yang konon dikenal sebagai gunung yang menjadi tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh ketika bencana air bah menyerang dan ke gunung garam.

“Saya jalan selama lima tahun, dengan motivasi untuk benchmarking life. Mencari dan mendalami siapa diri kita sebenarnya. Di dalam perjalanan ini saya menemukan bahwa kebahagiaan di dalam hidup ini tidak bergantung tempat kita tinggal di kota besar atau bukan, di tempat yang kita pikir tidak enak pun pasti ada kebahagiaan,” kata Hauwke Setjodiningrat.

Namun ada satu hal yang ia rasakan benar-benar dapatkan dan memperkaya dirinya, yakni “Saya menemukan dalam perjalanan ini, kesabaran yang semakin meningkat tapi ketakutan atau rasa cemas yang berkurang karena ini berbanding terbalik. Sementara ketika kesabaran kita meningkat, rasa percaya diri juga ikut meningkat. Dan jika generasi muda Indonesia dapat melakukan hal ini, maka negara kita akan hebat sekali,” tutupnya.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

YAICI & PP Aisyiyah Edukasi Masyarakat Cara Bijak Mengonsumsi SKM Sebelummnya

YAICI & PP Aisyiyah Edukasi Masyarakat Cara Bijak Mengonsumsi SKM

Aplikasi Ini Ciptakan Pengalaman Belajar Seperti Bermain Game Selanjutnya

Aplikasi Ini Ciptakan Pengalaman Belajar Seperti Bermain Game

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.

Artikel Terkait