Masyarakat di Tengah Kepulauan Filipina ini Bangga Menjadi Keturunan Sriwijaya

Masyarakat di Tengah Kepulauan Filipina ini Bangga Menjadi Keturunan Sriwijaya

Ilustrasi kapal perang © Youtube.com

Banyak dari kita mahfum tentang pengaruh luas Kerajaan Sriwijaya jauh di luar pusatnya, yakni di wilayah yang kini kita sebut Sumatera Selatan. Tak hanya Sumatera dan sekitarnya, kerajaan yang lahir di abad ke-7 Masehi ini adalah salah satu kerajaan di Nusantara yang wilayah kekuasaannya meliputi kawasan-kawasan yang kini menjadi wilayah negara lain, seperti Kamboja, Thailand bagian selatan, bahkan hingga ke wilayah kepulauan Filipina, tepatnya di kepulauan Visayas.

Kepulauan Visayas | Philatlas.com
Kepulauan Visayas | Philatlas.com

Visayas adalah salah satu daripada tiga bagian utama kepulauan Filipina, disamping Luzon dan Mindanao. Visayas sendiri terdiri daripada beberapa pulau, dengan pulau-pulau utamanya adalah Panay, Negros, Cebu, Bohol, Leyte, dan Samar. Wilayah ini juga mencakup pulau-pulau di provinsi Romblon dan Masbate, yang populasinya diidentifikasi sebagai orang Visayan dan yang bahasanya lebih erat kaitannya dengan bahasa Visayan daripada bahasa utama Luzon di utara.

Orang-orang Visayas | Foto oleh Alden March, tahun 1899.
Orang visayas | oleh Alden March, published in 1899.

Dalam buku History of the Orient yang ditulis oleh George Nye Steiger, dinyatakan bahwa nama Visaya diambil dari nama Sriwijaya (Sri Vishaya). Menurut cerita rakyat yang populer di kalangan orang Visayan, leluhur mereka berasal dari kerajaan Sriwijaya. Mereka mengungsi ke kepulauan Visayas setelah pemerintahan Sriwijaya runtuh pada abad 12.

Warga Visayans cukup bangga dengan fakta tersebut. Meskipun tak ada peninggalan fisik dari Sriwijaya di Visayas, entah bagaimana kekaisaran besar Sri Vijaya telah meninggalkan warisan hidup atas nama nusantara dan rakyatnya, yang bahkan diromantisir oleh asal kata Sansekerta dari kata “Vijaya” yang berarti "kemenangan" atau "keunggulan", seperti dikutip Boracay Magazine.

Prasasti Plat Tembaga Laguna | sumber: Kumparan.com
“Prasasti Plat Tembaga Laguna” | kumparan.com

Bukti pengaruh kerajaan Sriwijaya di Filipina sendiri dibuktikan dengan adanya prasasti yang terkubur di tepi sungai Provinsi Laguna, selatan Manila yang bernama “Prasasti Plat Tembaga Laguna”. Menurut para ahli sejarah, “Prasasti Plat Tembaga Laguna” memiliki tarikh tahun Saka 822, pada bulan Waisaka, hari keempat saat separuh bulan gelap, atau berdasarkan penanggalan masehi adalah Senin, 21 April tahun 900. Prasasti tersebut merupakan penemuan dokumen tertua yang pernah ditemukan di seluruh Filipina. Hal ini membuktikan bahwa kerajaan Sriwijaya telah hadir di Filipina 600 tahun sebelum kedatangan Ferdinand Magellan, penjelajah Portugis tiba di Filipina pada tahun 1521, seperti dikutip dari Kumparan.

Pilih BanggaBangga73%
Pilih SedihSedih4%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi4%
Pilih TerpukauTerpukau9%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Dua Start-Up Muda Indonesia Berlaga di Tingkat Asia-Pasifik Sebelummnya

Dua Start-Up Muda Indonesia Berlaga di Tingkat Asia-Pasifik

Ternyata Obat Virus Corona Terinspirasi dari Indonesia Selanjutnya

Ternyata Obat Virus Corona Terinspirasi dari Indonesia

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.