Seniman senior Indonesia, Mus Mulyadi, dikabarkan tutup usia pada Kamis (11 April 2019) kemarin sekitar pukul 09.00 WIB. Mus Mulyadi adalah salah satu seniman keroncong Tanah Air mempopulerkan beberapa lagu dijamannya.

Dengan nama asli Mulyadi, Mus Mulyadi lahir dari pasangan Ali Sukarni dan Muslimah pada 14 Agustus 1945. Beliau adalah anak ke tiga dari delapan bersaudara, Mulyadi menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota kelahirannya, Surabaya.

Bakat seni yang dimiliki oleh Mulyadi adalah warisan dari Ayahnya. Beliau mengawali perjalannnya dengan bermain gamelan, sementara saudaranya menggeluti dunia tarik suara. Mulyadi kecil yang terbiasa dengan seni musik, ia bercita-cita untuk menjadi seorang musisi.

Di awal karirnya, beliau menciptakan sebuah band dengan beranggotakan tiga belas wanita, yakni Irama Puspita. Harapannya, band tersebut dapat sukses di panggung hiburan tanah air.

Namun sayangnya, band tersebut harus bubar setelah 3 anggotanya yang diam-diam keluar dan pindah ke Jakarta.

Tahun 1964, Mulyadi bergabung dengan band Arista Birawa, band tersebut dibentuk oleh Busro Birawa. Mulyadi merangkap dua pekerjaan, yakni sebagai vokalis dan pemain bass. Di band ini, beliau bersama kawan-kawannya merilis album Jaka Tarub pada tahun 1965 dan Si Ompong dan Masa Depanmu pada tahun 1972.

Tahun 1967, Jerry Souisa, ketua band Arista Birawa, mengajak Mulyadi dan rekannya untuk meninggalkan bandnya dan melakukan tur di Singapura.

Di Singapura, mereka mendapat pekerjaan pertama untuk mengisi acara pada sebuah hajatan yang dihelat oleh saudagar Cina, namun sayangnya merka tidak dibayar dengan uang, hanya diperbolehkan untuk menumpang menyebrang ke Singapura dengan gratis.

Nasib mereka tidak sebaik di tanah airnya, mereka tidak populer dan menetap di rumah keluarga etnis Melayu.

Dua tahun berselang, mereka tidak kunjung mendapat tawaran manggung, sempat hidup susah dan tak ada pekerjaan yang pasti. Di situlah Mulyadi belajar menjadi seorang pencipta lagu.

Ia pun berhasil menciptakan 10 lagu dan membentuk band baru dengan tambahan 1 anggota, band tersebut bernama The Exotic. Pada tahun 1969, Ia kembali menawarkan karya-karyanya ke Live Recording Jurong dan menelurkan dua album pop dan keroncong dalam bentuk vinyl atau EP7.

Di sampul albumnya, ia menambahkan nama Mus yang diambil dari potongan nama ibunda tercinta.

hasil kerja keras mereka di Singapura akhirnya menghasilkan, mereka pun memutuskan untuk kembali ke Tanah Air.

Riyanto mengajak Mus Mulyadi untuk bergabung dengan band Favorite’s pada tahun 1971. Gaya bermusik grup tersebut lebih modern, namun tetap tidak menghilangkan kekhasan romantisme masa lalu.

Lagu-lagu yang sukses meroketkan nama Mus Mulyadi di Tanah Air yakni "Cari Kawan Lain", "Angin Malam", "Seuntai Bunga Tanda Cinta", dan "Nada Indah".

Seringkali Favourite’s Group mengalami perubahan personil dan formasi, hal ini membuat Mus Mulyadi harus merekrut anggota baru, yaitu Tommy W.S (bass). Dari formasi grup inilah, mereka menghasilkan lagu-lagu populer dan ia mendapat julukan legenda musik Indonesia.

Setelah mendapat pengakuan legenda musik Indonesia, Mus Mulyadi memutuskan untuk keluar dari grup. Sebelumnya, ia sempat menciptakan solo albuk hingga pada proses rekaman. Salah satu lagu yang sangat terkenal adalah “Rek ayo Rek”. Lagu selanjutnya yang meledak di pasaran adalah “Kr Dewi Murni”. Di sinilah, ia mendapat sebutan baru yaitu “Buaya keroncong” dan “The King of keroncong”.

Tak hanya sebagai musisi, ia mencoba terjun ke dunia perfilman Indonesia. Film yang ia mainkan adalah “Putri Solo” dan “Aku Mau Hidup” di tahun 1974. Beliau juga pernah menjajal menyanyikan musik dangdut bersama Ida Laila, penyanyi asal Surabaya di lagi “Suara Hati” dan “Bunga Dahlia”.

Tahun 1984, Mus Mulyadi diberitakan mengidap diabetes. Keadaan semakin memburuk ketika beliau kehilangan indra penglihatan pada tahun 2009.

Sempat membaik dan memburuk, penyakit komplikasi yang beliau alami mengharuskan dirinya untuk dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah. Mus Mulyadi sendiri tutup usia dengan meninggalkan satu orang istri, Ruth Helen Sparinggs dan dua orang anak Irene Patricia dan Erick Renanda.

--

Sumber : Jawapos, TribunNews

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu