• Hutan Adat Larangan Mude Ayek Tebat Benawa merupakan hutan adat pertama di Sumatera Selatan yang memperoleh pengakuan pemerintah. Hutan adat ini luasnya 336 hektar yang dikelola masyarakat adat Puyang Kedung Samad sebanyak 234 kepala keluarga.
  • Hutan adat ini sebelumnya merupakan hutan larangan masyarakat adat Puyang Kedung Samad yang berbatasan dengan Hutan Lindung Raja Mandare atau lansekap Gunung Patah.
  • Selain menjadi mata air Sungai Lematang, hutan adat ini merupakan rumah bagi sejumlah satwa seperti harimau sumatera, kijang, rusa, tapir, beruang madu, siamang, landak, dan lainnya.
  • Menjaga hutan adat tersebut bagian dari amanah Puyang Kedung Samad untuk menjaga air dari Danau Tumutan Tujuh yang terdapat di Gunung Patah. Danau ini mengalirkan Antara lain Sungai Padang Guci, Air Kinal, Air Bengkenang, Air Kendurang di Bengkulu serta Air Endikat, Air Lematang dan Air Enim di Sumatera Selatan.

Jalan setapak itu berkelok, kebanyakan menanjak, meski diantaranya menuruni sebuah bukit. Dari permukiman terakhir yaitu Dusun Tebat Benawa, -salah satu dusun tertua suku Basemah, perbatasan hutan sudah dapat tercapai sekitar satu jam berjalan kaki.

Hutan ini bukan hutan biasa, melainkan hutan adat yang diwarisi oleh keturunan puyang (leluhur) Kedung Samad atau Siak Alibidin. Namanya Hutan Adat Larangan Mudek Ayek Tebat Benawa. Hutan ini adalah hutan adat pertama di Sumatera Selatan yang mendapat pengakuan lewat Surat Keputusan Menteri LHK Kehutanan No.7827/MENLHK-PSKL/PKTHA/KUM.1/10/2018 di tahun 2018 lalu.

“Kami senang sekali hutan adat kami diakui pemerintah. Sehingga ada kekuatan hukum dalam menjaga hutan larangan yang diamanahkan puyang kami,” ungkap Budiono (55), ketua Masyarakat Adat Kedung Samad (27/03). Hutan itu sendiri luasnya 336 hektar.

Tajuk Hutan Adat Mudek Ayek yang berbatasan dengan Hutan Lindung Raja Mandare | Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Di dalam hutan adat, tutupan tajuk rimba terlihat lebih rapat. Pohon rasamala dengan ukuran lingkaran setengah hingga satu setengah meter mendominasi hutan yang berada di sebuah bukit.

Beberapa kali Mongabay Indonesia menjumpai bonggol pohon rasamala, medang atau meranti, yang diameternya sekitar dua hingga tiga meter. Budiono menuturkan secara adat masyarakat masih diperbolehkan mengambil kayu untuk membuat rumah. Tapi tidak diperkenankan dijual.

“Satu pohon sudah cukup untuk bangun satu rumah,” sahut Budiono.

Selain pohon rasamala, hutan ini juga kaya dengan jenis-jenis rotan. Dalam sebutan lokal, disebut rotan rotan serimit, wi lembut, wi lemak, dan wi sebut.

Rotan biasanya diambil warga untuk keperluan membuat peralatan rumah tangga dan pertanian seperti kinjar atau wadah biji kopi, sangkek atau tas, tudung saji, bubu ikan, keranjang dan lainnya.

Beberapa ratus meter memasuki hutan, kami langsung bertemu aliran mata air, ayek puding. Ini adalah sumber mata air penting yang mengalir ke desa. Digunakan warga lokal untuk persawahan, kolam ikan sampai kebutuhan air bersih.

“Dari hutan adat ini terdapat tiga mata air, yakni air ringkeh, ayek puding dan basemah. Semuanya menjadi muara air Sungai Lematang,” jelas Budiono.

Di kaki bukit hutan adat dapat dijumpai tebat atau danau buatan yang luasnya sekitar satu hektar. Warga menamai tempat ini Tebat Benawa. Konon sejarahnya dibuat pada tahun 1950-an untuk menampung air dari mata air ringkeh dari hutan adat yang dialirkan ke permukiman warga.

Di tebat ini warga memelihara ikan semah, mujahir dan kelik. Setiap warga diperbolehkan memancing ikan untuk dikonsumsi. Setiap tahun warga melakukan panen ikan bersama. Ikan yang panen paling kecil seberat sekilogram.

Setelah dua jam berada di dalam hutan, tak dinyana kami tiba di lokasi yang diyakini tempat hidupnya harimau sumatera. Sebuah dataran yang dipenuhi semak, terdapat genangan air dan anggrek. Saat kami berada di sana tak lama kemudian terdengar suara siamang yang bersahutan.

“Alhamdulillah nenek hindari kita. Dia masuk ke hutan lindung, makanya siamang di hutan lindung itu ribut. Ini rumah nenek,” kata Hairuddin (48), seorang warga yang sering masuk ke hutan adat.

Warga masih percaya bahwa hutan adat yang tersambung dengan hutan lindung ini, masih ada harimau. Sebagai eufisme dan penghormatan, warga Basemah menyebutnya nenek.

Selain harimau sumatera, juga masih ada rusa, kijang, tapir, trenggiling, musang, beruang madu, landak, siamang, serta sejumlah burung.

“Satwa tersebut sebenarnya hidup di Hutan Lindung Raja Mandare, dan mereka masuk ke hutan adat ini karena termasuk koridornya,” ungkap Badrul, petugas dari KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Dempo yang juga temani kami.

Kami memutuskan pulang. Sambil berjalan pulang, kami coba mencari pohon lanang, yang ukurannya besar. Secara adat, pohon ini digunakan warga sebagai bagian dari rumah. Baloknya kayu lanang biasanya diletakkan di bumbungan. Warga percaya, kayu lanang dapat menangkal petir.

Anggrek hutan yang ada di Mudek Ayek Tebat Benawa | Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Dusun Tebat Benawa

Dusun Tebat Benawa, dipercaya merupakan salah satu dusun tertua suku Basemah. Disebut Tebat Benawa, karena dulunya terdapat sebuah tebat yang luasnya sekitar 5 hektar. Tebat ini dibuat oleh pemerintahan dusun pada tahun 1920.

Namun pada awal tahun 1960-an tebat ini dijadikan pemukiman oleh warga dusun. “Menurut cerita kakek saya, tebat ini selain sebagai sumber air bagi pertanian, juga menghasilkan banyak ikan bagi masyarakat di sini. Bahkan termasuk pula warga Pagaralam,” kata Hairuddin.

Warga Dusun Tebat Benawa percaya, jika dirunut hingga leluhurnya, mereka adalah turunan dari Atung Bungsu. Leluhur ini konon pernah merantau sampai ke kerajaan Majapahit di Jawa, hingga akhirnya kembali ke hulu Sungai Lematang.

“Kami yakin dusun kami ini merupakan dusun kali pertama puyang Atung Bungsu menetap,” tutur Hairuddin.

Saat ini secara administratig Dusun Tebat Benawa berada di Kelurahan Penjalang, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam. Jumlah penduduknya sekitar 234 KK.

Pohon kayu besar, seperti rasamala cukup dominan di Hutan Adat Mudek Ayek Tebat Benawa | Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Menjaga air Tumutan Tujuh

Masyarakat Basemah memiliki ikatan yang kuat dengan hutannya. Hutan bagi mereka adalah penyedia air, tempat hidup satwa, penyedia kayu sampai tempat warga mencari rotan.

Dari cerita kakeknya, Hairuddin menyebut leluhur Kedung Samad memberi amanah pada keturunannya untuk tetap menjaga hutan larangan. Secara khusus Danau Tumutan Tujuh yang berada di Gunung Patah.

Danau Tumutan Tujuh sendiri adalah sumber mata air dari tujuh sungai yang mengalir ke wilayah Sumatera Selatan di sebelah timur, dan Bengkulu di sebelah barat.

Sungai-sungai itu adalah Sungai Padang Guci, Air Kinal, Air Bengkenang, Air Kendurang di Bengkulu serta Air Endikat, Air Lematang dan Air Enim di Sumatera Selatan.

“Kami orang Basemah ditugaskan menjaga khusus air Sungai Lematang. Kalau orang Semende bertugas menjaga Sungai Enim, orang Lahat menjaga Sungai Endikat, Orang Manna di Bengkulu menjaga empat sungai lainnya,” kata Hairuddin.

“Jika kami gagal menjaga sungai yang airnya dari Danau Tumutan Tujuh maka diyakini Sumatera Selatan dan Bengkulu akan mengalami bencana yang besar,” tutupnya.


Sumber: Ditulis oleh Taufik Wijaya dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu