Mitos Badak Putih Penjaga Mata Air, Peliharaan Sahabat Leluhur Suku Basemah

Mitos Badak Putih Penjaga Mata Air, Peliharaan Sahabat Leluhur Suku Basemah

Badak Sumatra © Sumber: Dunia Hewan

  • Sebagai bentuk kearifan lokal warga Tebat Benawa, terdapat mitos seekor badak putih yang menjaga mata air hutan larangan atau Hutan Adat Madek Ayek Tebat Benawa.
  • Badak putih dikisahkan puyang atau leluhur warga Dusun Tebat Benawa sebagai penjaga mata air dari lansekap Gunung Patah.
  • Masyarakat Tebat Benawa juga dilarang mengotori aliran dan mata air, karena menurut leluhur mereka ditugaskan untuk menjaga hulu Sungai Lematang, Endikat dan Enim yang mengalir ke Sumatera Selatan dan Bengkulu.
  • Untuk menjaga mata air dan alirannya, warga juga dilarang mandi telanjang di aliran mata air, sebaliknya harus menutupi dirinya dengan kain.

Hutan Adat Mudek Ayek Tebat Benawa ternyata tidak saja penting secara fisik-biologis, tapi juga dari sisi relasi spiritual dan historis warga setempat. Hutan sumber mata air dipercaya dijaga oleh seekor badak putih yang sejak dahulu menjadi sahabat dari leluhur Suku Basemah.

“Cerita ini hampir diketahui setiap warga dusun, khususnya yang seusia saya,” kata Budiono, sesepuh Masyarakat Adat Puyang Kedung Samad, Dusun Tebat Benawa (27/03). “Warga dusun percaya badak ini yang menjaga mata air di hutan larangan.”

Di hutan larangan Mudek Ayek memang terdapat beberapa sumber mata air, seperti mata air ringkeh, puding, dan basemah.

Dia lanjut bertutur, konon di awal tahun 1930-an seorang pejabat tinggi pemerintah kolonial Belanda di Pagaralam, Sumatera Selatan pernah datang berkunjung ke Tebat Benawa. Dia mengajak riye atau kepala dusun dan sejumlah warga masuk ke hutan larangan. Tujuannya ingin memburu seekor badak sumatera yang memiliki rambut berwarna putih.

Meski riye sudah coba jelaskan, -bahwa tak mungkin badak putih itu diburu, si pejabat tetap ngotot. Dia beralasan rambut putih badak itu mampu mengobati orang sakit. Saat itu katanya, ada anggota keluarganya yang sakit, dan belum juga sembuh meskipun sudah diobati oleh sejumlah dokter.

“Warga dusun pun penuh rasa cemas saat rombongan pejabat Belanda itu pergi mencari badak putih di hutan larangan. Mereka takut akan terjadi bencana di dusun jika badak putih berhasil ditangkap.”

Tebat atau danau buatan milik warga Dusun Tebat Benawa. Danau ini menampung air dari mata air ringkeh yang menjadi sumber air minum bagi 234 kepala keluarga. Danau ini juga terdapat sejumlah ikan seperti ikan emas, kelik, semah dan mujahir | Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Sepekan berada di hutan, sang pejabat akhirnya melihat badak putih. Dia lalu menembaknya. Badak putih itu tidak roboh. Ia sedikit terluka, darahnya tercecer dan ditemukan oleh si pejabat.

Malamnya sang pejabat bermimpi. Dia didatangi seorang lelaki tua, berjubah putih, berjanggut putih panjang. “Kami sudah beri darahnya, cukup itu bae. Kalian tidak mungkin mendapatkan badak kami ini,” kata lelaki tua dalam mimpi.

Sang pejabat tidak percaya dengan mimpinya. Dia menilai itu sekedar “bunga tidur”. Tiga hari kemudian, mereka kembali bertemu dengan badak putih yang tengah berkubang di sebuah genangan air di hutan.

Sang pejabat langsung membidikan senjata apinya. Badak putih melihatnya. Dia pun pergi. Dan alangkah terkejutnya sang pejabat dan rombongan lainnya ketika badak putih itu ternyata bisa berjalan di atas rotan menjalar lurus yang panjangnya sekitar 10 meter.

Melihat peristiwa tersebut sang pejabat memutuskan untuk pulang, dan tidak melanjutkan perburuan badak putih.

Kisah tentang badak putih itu dibenarkan oleh Hairuddin (48), warga Dusun Tebat Benawa. Sejak tahun 1991, dia sering keluar masuk hutan larangan. Baginya cerita badak putih adalah bentuk kearifan lokal yang diwariskan leluhur agar warga menjaga lingkungan.

“Badak putih itu tugasnya menjaga mata air yang mengalir ke Sungai Lematang, Endikat dan Enim. Badak putih itu peliharaan sahabat puyang (leluhur) kami yang menetap di Gunung Patah,” jelasnya. “Sahabat puyang kami itu sebangsa jin yang usianya sudah ribuan tahun.”

Tak hanya warga Dusun Tebat Benawa, suku yang tinggal menetap di sekitar Gunung Patah memiliki mitos serupa. Mereka ditugaskan para leluhur untuk menjaga mata air yang mengalir ke sejumlah sungai di Sumatera Selatan dan Bengkulu.

Badak sumatera adalah badak paling berambut diantara spesies badak lainnya, juga yang paling kecil. Spesies badak ini tinggal di hutan tropis dan senang berkubang | Foto: Rhett Butler/Mongabay

Selain menjaga sungai agar tidak rusak, menurut perintah leluhur mereka juga harus lakukan pengawasan dari orang yang berniat jahat. Seperti meracuni mata air sehingga ada warga yang sakit atau meninggal dunia. Tujuannya ingin membuat kekacauan kepada warga dusun lainnya.

“Bulu-bulu (rambut, red) dari badak putih itu diyakini mampu menawarkan berbagai racun yang ditabur ke mata air,” tutur Hairuddin.

Kata Hairuddin, sekitar tahun 1980-an, seorang warga di dusunnya mendapatkan beberapa helai rambut dari badak putih yang tertempel pada sebuah pohon.

Bersamaan dia dengar, seorang anak di dusun sakit keras dan tak dapat diobati oleh sejumlah dokter di Pagaralam. Warga itu lalu mencoba membantu dengan memberikan sehelai rambut si badak putih itu kepada orangtua si anak.

“Bulu dimasukan ke dalam cangkir berisi air. Anehnya ia larut. Lalu si anak meminumnya, dan beberapa jam kemudian dia menjadi sehat.”

Benarkah cerita ini? Saat Mongabay Indonesia ingin bertemu si anak yang diceritakan tersebut, ternyata dia sudah lama menetap di Jawa, sementara orangtuanya sudah lama meninggal dunia.

Warga Dusun Tebat Benawa, Pagaralam, Sumsel, meyakini jika mata air dan alirannya dijaga oleh badak putih | Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

“Terlepas benar tidaknya, warga percaya badak putih itu terus menjaga mata air. Karena itu, tidak ada warga yang akan merusak hulu atau hutan yang berada di sekitar mata air,” tambah Devi, Ketua RT di Dusun Tebat Benawa.

Warga Tebat Benawa memang mengerti benar bahwa sumber mata air perlu dijaga bersama agar tidak rusak dan cemar. Di aliran mata air ringkeh, warga juga dilarang membuang kotoran dan mandi karena airnya digunakan sebagai sumber minum warga.

Aliran mata air ini disalurkan ke rumah warga melalui selang. Air dari selang ditampung pada sebuah kolam. Dinding kolam ini kemudian dipasang berbagai selang yang menuju rumah warga.

Ada juga kepercayaan warga tidak boleh mandi telanjang, mereka harus menutup tubuh dengan kain atau kaos saat mereka mandi di aliran mata air. Jika melanggar mereka akan mendapat celaka.

“[Kalau dilanggar] biasanya beberapa jam setelah mandi, si pelaku akan demam, dan mimpi buruk. Beberapa warga di sini sudah pernah mengalaminya,” tutup Budiono.


Sumber: Ditulis oleh Taufik Wijaya dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Menjalankan Amanat Leluhur, Suku Basemah Jaga Hutan Adat Sumber Mata Air Sebelummnya

Menjalankan Amanat Leluhur, Suku Basemah Jaga Hutan Adat Sumber Mata Air

Mau Liburan Tahun Depan ? Yuk, Lihat Tanggal Merah di Tahun 2020 Selanjutnya

Mau Liburan Tahun Depan ? Yuk, Lihat Tanggal Merah di Tahun 2020

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.