Festival Manggis, Makan Gratis Ribuan Durian dan Manggis di Bali

Festival Manggis, Makan Gratis Ribuan Durian dan Manggis di Bali

Buah Manggis © Sumber: Hello Sehat

  • Bencana longsor terjadi tiap tahun di Bali Utara, kawasan hulu Bali dan sumber penangkap air. Bebukitan perlu dihijaukan dengan aneka tanaman berusia panjang sekaligus bernilai ekonomis bagi warga.
  • World Mangosteen Fiesta (WMF), sebuah Festival Manggis dengan suguhan utama manggis dan durian digelar pertama kali pada 2019 ini di Desa Galungan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali pada 23-24 Maret.
  • Fun Run, lari menjelajahi kebun dan hutan desa diikuti lebih dari 200 peserta dari desa dan luar kabupaten Buleleng. Untuk menikmati kekayaan oksigen desa dengan lari atau jalan santai menembus hutan desa, sawah, dan bebukitan.
  • Pemerintah Provinsi Bali menyusun Peraturan Gubernur untuk mewajibkan penyerapan hasil pertanian lokal pada 2018 untuk mendukung industri pariwisata di Bali

Melihat kebun buah tumpang sari di desa-desa Bali Utara membuat air liur menetes. Tak heran World Mangosteen Fiesta (WMF), sebuah Festival Manggis dengan suguhan utama manggis dan durian digelar pertama kali pada 2019 ini di Desa Galungan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali pada 23-24 Maret.

Tak hanya pesta hasil kebun, ada juga Fun Run, lari menjelajahi kebun dan hutan desa. Lebih dari 200 peserta dari desa dan luar kabupaten menikmati kekayaan oksigen desa dengan lari atau jalan santai menembus hutan desa, sawah, dan bebukitan.

Untungnya tiba sebelum pembukaan festival ini pada Sabtu (23/3) pagi. Panitia dan warga sedang menunggu pejabat yang akan membuka acara, Gubernur Bali dan Bupati Buleleng. Sementara pengunjung sudah bisa mencicipi ribuan manggis dan durian yang ditumpuk atau dijejer di belasan keranjang.

Ada juga puluhan stan yang memamerkan dan menjual buah-buah unggul hasil panen desa-desa di Buleleng. Paling banyak buah manggis, durian, biji kopi, srikaya, anggur, beserta olahannya. Surga kecil buah lokal. Buleleng juga sentra buah lain seperti mangga, namun saat ini bukan musim panennya.

Petani manggis menunjukkan panen kualitas ekspor yang dilombakan di Festival Manggis pertama | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Keriuhan di stan makan buah gratis makin menjadi saat pejabat tiba. Pengunjung sudah diijinkan menghabiskan gunungan durian dan belasan keranjang manggis karena sebelumnya hanya mencicipi. Tak heran, ludes dalam beberapa menit.

Yang tersisa hanya kulit buah berserakan di meja atau tanah. Tekstur buah durian sangat beragam. Ada yang tebal dan tipis, ada yang sangat manis sampai sedang. Demikian juga aromanya, ada yang tak tercium sampai sulit hilang dari tangan usai menjilatnya.

Ketika ingin lebih jauh mengenal kedua buah ini, bisa mendatangi stan kompetisi buah durian dan manggis. Di sana berjejer puluhan wadah berisi buah yang dikompetisikan. Diikuti petani dan kelompok tani di Buleleng. Hasil panen terbaik versi mereka ini dinilai juri.

Gusti Maya Kurnia dari Dinas Pertanian Buleleng, salah satu juri menilai 39 peserta di lomba manggis, mengkategorikan manggis yang baik berdasarkan luar, penampilan dalam, sponge, dan rasa. Penampilan luar adalah warnanya yang rata, tanpa getah. Misalnya merah keunguannya rata di seluruh permukaan. Penampilan dalam adalah warna buah putih rata tanpa kotoran atau busuk. Sementara sponge merujuk tekstur buah lembut, dan rasanya seimbang.

Salah satu petani yang ikut adalah Nyoman Bakti, 59 tahun, dari Banjar Beteng, Desa Pucaksari, Busungbiu. Ia memiliki lahan kebun sekitar 1,5 dari total 3 hektar yang dikelolanya. Isinya aneka buah. “Tumpang sari. Ada kopi, manggis, durian, pisang. Biar panen dan hasilnya berkesinambungan,” serunya riang. Misalnya saat ini musim manggis, panen dua kali setahun mulai Maret sampai sekitar 3 bulan. Kemudian lanjut panen kopi mulai Juli sampai akhir tahun. Tiap bulan bisa panen pisang. “Saya punya anak 5, sudah kuliah 3 orang dari hasil tani,” lanjutnya bangga.

Hal paling mengembirakan jika pemasaran hasil panen mudah dan harga dari pengepul transparan. Sekarang, menurutnya harga manggis super untuk ekspor Rp34 ribu, super 2 Rp28 ribu, sisanya yang kasar Rp8 ribu. Ia tahu ini dari penampung panennya, seorang eksportir muda Agung Weda. Dari pasar ekspor, Bakti mengetahui yang dinilai buah baik ketika buah masih ada sisa tangkai petikan dan kelopaknya bagus. Permukaan kulit buah bersih dan warnanya merata, tidak keras. Dari sini, kualitas dalam buah dan rasanya bisa diperkirakan.

Berbagai jenis buah dalam World Mangosteen Fiesta (WMF),yang digelar pertama kali pada 2019 di Desa Galungan, Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. Buleleng dikenal sentra buah tropis di Bali | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Bakti adalah buruh bangunan yang merantau ke kota Denpasar sebelum menggarap lahan pertaniannya. Ketika peristiwa bom di Kuta pada 2002, industri wisata anjlok, ia pun pulang kampung. Beternak dan bertani menurutnya kini adalah anugerah. Buah manggisnya menggunakan pupuk kandang dari olahan kotoran kambing yang difermentasi dengan kulit kopi. Semuanya organik, jadi hasilnya lebih baik dan harganya lebih mahal. “Kalau pakai pupuk kimia buah jadi kerdil, kulitnya kasar,” jelasnya.

Di sekitar arena festival, puluhan anak muda mengenakan kaos bertuliskan Petani Muda Keren. Desa Galungan, sekitar 2 jam dari Kota Denpasar yang sunyi dikeliling bebukitan pun pikuk selama 2 hari. Terpusat di lapangan tengah desa. Ada sarasehan dan diskusi soal gerakan petani muda, musik, dan lomba-lomba mengolah buah.

Gubernur Bali Wayan Koster meyakinkan warga bahwa pemerintah akan mendukung produk pertanian lokal melalui Pergub Bali No.99/2018 tentang Pemanfaatan dan Pemasaran Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali. Ia mengakui penataan hilir tak terkelola baik, prioritas di hulu. “Siapkan bibit, benih, lahan, pengairan, produksi, giliran panen tak terurus. Harga anjlok,” seru Koster.

Menurutnya harga yang baik adalah minimum 20% di atas harga produksi, pembeli atau distributor harus bayar kontan tidak boleh ngutang. Koster juga menyiapkan Perusda yang akan beli cash dan jual ke pihak lain dengan tunda bayar 1 bulan. Perusda ini adalah lembaga penyangga produk pertanian agar pasti harga jualnya.

Menurutnya Bali harus merancang industri pengolahan hasil panen seperti juice, wine, agar tak hanya investor besar saja yang membuat bisnis pertanian. Juga pendampingan dan teknologi budidaya agar berkualitas.

Saat ini timya sedang menyusun sentra-sentra buah tiap kabupaten, untuk mewujudkan kewajiban menyediakan buah lokal di hotel. “Agar wisatawan yang datang bermanfaat, masak petani tetap susah walau panen,” lanjut Koster. Secara teknis, mewajibkan penyediaan buah lokal ini dengan menaruh di kamar tiap tamu lalu memasukkan dalam rekening pembayaran. Jenis buah diganti sesuai musim.

Ia sedang mencari pendanaan pengadaan mesin radiasi untuk membuat hasil pertanian lebih awet seperti milik Thailand. Jika Bali memiliki alat yang harganya mahal sekitar Rp156 miliar ini menurutnya akan membuat daya saing produk pertanian Bali karena lebih awet beberapa bulan, penyakit mati, bisa ekspor lebih lama. Ia merencanakan membuat pusat “pengawetan” dan kemasan ini di Gerokgak, Buleleng, dan dikelola Perusda.

Ribuan durian dan manggis bisa dinikmati warga gratis di World Mangosteen Fiesta yang dihelat pertama tahun ini di Buleleng | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Agung Weda, eksportir muda yang mendistribusikan produk pertanian ini menyebut saat ini momentum yang tepat untuk mendorong peningkatan kualitas hasil pertanian karena China membuka pintunya. Buah manggis menurutnya merata ada di semua kabupaten di Bali kecuali kota Denpasar.

“Impor durian dan naga sudah dibuka Cina. Manggis tak ada kuota, 2 tahun stabil,” sebutnya. Ia mengekspor manggis dengan kemasan per boks 8 kg dan gudang sudah teregistrasi BPOM dan karantina.

I Made Supartha Utama, peneliti pertanian pasca panen dan direktur Udayana Community Development Program menyebut walau keran ekspor dibuka dan petani semangat namun belum dibekali kemampuan memenuhi ekspor. “Kebun-kebun belum teregistrasi agar masuk protokol China. Untuk percepat ekspor kami bantu registrasi kebun, packing house, pengurusan dokumen, dan lainnya,” sebutnya.

Selain aspek ekonomi dan bisnis, juga perlu pendampingan petani sampai ekologi, pertanian yang tak merusak lingkungan. Ia memperkirakan luas kebun manggis di Bali sekitar 5000 hektar, potensinya sekitar 5-10 ton per hektar. Kualitas ekspor adalah warna buah spesifik seperti merah, pink keunguan. Yang bisa diekspor sedikit terlebih masanya singkat sebelum membusuk.Tanpa teknologi buah merah ungu hanya tahan 7-10 hari. Sementara proses ekspor perlu waktu cukup lama termasuk transportasinya. Untuk itu menurutnya perlu mengembangkan teknologi memperpanjang keawetan buah.


Sumber: Ditulis oleh Luh De Suriyani dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bunga Abadi Tengger Semeru dari Desa Wisata Edelweis Sebelummnya

Bunga Abadi Tengger Semeru dari Desa Wisata Edelweis

Pencapaian Misi Feedloop Yang Didanai East Ventures Selanjutnya

Pencapaian Misi Feedloop Yang Didanai East Ventures

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.