Menikmati Celoteh Cekakak Jawa di Hutan Desa di Yogyakarta

Menikmati Celoteh Cekakak Jawa di Hutan Desa di Yogyakarta

Burung Cekakak Jawa © Sumber: Wikimedia Commons

  • Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) adalah spesies burung anggota marga Halcyon dari suku Halcyonidae (kerabat raja-udang). Cekakak jawa menyebar terbatas (endemik) di Jawa dan Bali.
  • Cekakak jawa merupakan burung yang sensitif terhadap manusia, sehingga cukup sulit untuk memotretnya dari dekat. Tapi di hutan di desa Jatimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta, cekakak jawa bisa difoto dari jarak 2 meter.
  • Pemerintah melalui Peraturan Menteri LHK mengeluarkan cekakak jawa dari status sebelumnya sebagai satwa dilindungi.
  • Di pasaran, burung berharga cukup mahal, walaupun memelihara burung king fisher bukanlah pilihan yang tepat karena karena cara hidup yang sangat aktif

Burung yang satu ini memang tidaklah kecil tubuhnya. Cekakak Jawa berukuran sedang, yaitu sekitar 25 cm, dengan warna sangat gelap. Burung dewasa dengan kepala berwarna cokelat tua. Tenggorokan dan kerah cokelat. Perut dan punggung biru ungu. Penutup sayap hitam dan bulu terbang biru terang. Bercak putih besar pada sayap terlihat jelas saat terbang. Burung remaja dengan tenggorokan keputih-putihan. Membuat burung ini sangat cantik dalam hal penampakannya.

Walaupun ukurannya tidak kecil, tetapi memotretnya bukanlah perkara yang mudah. Para pengamat dan pehobi fotografi burung, biasanya mendapatkan gambar burung ini dalam jarak yang lumayan jauh. Ini karena, burung cekakak jawa merupakan burung yang cukup sensitif terhadap keberadaan benda atau mahluk asing. Sedikit saja melihat keberadaan mahluk asing, maka cekakak jawa akan menghindar.

Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) di hutan di desa Jatimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Oleh karena itu, ketika Mongabay-Indonesia datang ke desa Jatimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta, diberitahu oleh Kelik –seorang ahli dan pengkonservasi burung– bahwa di desa ini, cekakak jawa bisa di foto dari jarak 2 meter saja, langsung tertarik.

Jarak dari base camp tempat kami memarkir kendaraan sampai ke lokasi pengintaian Cekakak Jawa pun tidaklah jauh. Hanya sekitar 300 meter an saja, melalui jalan setapak dan di sisi jurang. Lokasi pengamatan dibuat terkamuflase dengan dengan daun-daun kelapa. Ini untuk menyembunyikan para pengamat dan fotografer dari penglihatan si cekakak jawa.

Kesensitifan si cekakak jawa saya alami sendiri. 30 menit pertama, yang terdengar hanyalah suaranya saja yang jernih bordering “cii-rii-rii-rii” atau “crii-crii-crii” atau suara lainnya yang mirip dengan cekakak belukar. Ini karena, kami masih terlihat oleh si cekakak jawa, walaupun tempat pengamatan kami ini sudah tertutup cukup rapat. Kelik pun dengan sigap menambahkan daun kelapa sebagai kamuflasenya. Dan benar saja, 15 menit kemudian si cekakak jawa hinggap tepat 1,5 meter di batang bambu di hadapan saya. Jantung saya seketika berdegup dengan kencang.

Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) merupakan burung endemik di Jawa dan Bali | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Dilihat dari jarak yang sangat dekat itu, burung ini memang terlihat unik dan indah. Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) adalah spesies burung anggota marga Halcyon dari suku Halcyonidae (kerabat raja-udang). Cekakak jawa menyebar terbatas (endemik) di Jawa dan Bali. Burung ini acap didapati di lahan-lahan terbuka dan di dekat sumber air bersih, hingga ketinggian 1.000 m dpl. Di samping itu, cekakak jawa juga sering mengunjungi persawahan, kolam ikan, paya yang mengering, padang penggembalaan, padang semak dan lain-lain.

Mangsanya adalah serangga dan hewan-hewan kecil, termasuk pula larva kumbang air. Burung ini juga tercatat memangsa ikan, udang, dan katak. Berburu di lahan rerumputan terbuka, dan jarang di atas air, cekakak jawa kerap terlihat bertengger di atas tonggak atau di cabang rendah pohon yang menyendiri.

Saya pun dengan segera mengambil gambar si cekakak jawa itu. Bersarang di antara bulan Maret dan September, untuk bertelur. Sekali bertelur jumlahnya 3-4 butir saja. Dan telurnya diletakkan di dalam gua kecil atau terowongan di pinggir sungai atau jurang.

Seekor cekakak jawa membawa cacing untuk anaknya. Mangsanya cekakak jawa biasanya hewan-hewan kecil, termasuk pula larva kumbang air | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Dan rupanya si cekakak jawa yang sedang kami amati ini sedang dalam misi membawakan anaknya makanan. Saya tidak bisa melihat anaknya, karena berada jauh di dalam lubang di tepi jurang. Dan batang bambu tempatnya bertengger sekarang ini adalah tempat persinggahannya sebelum memberikan hasil buruannya ke anaknya.

Hasil buruannya bermacam-macam, tergantung sudah seberapa besar anaknya. Kelik mengungkapkan, jenis makanan yang diberikan cekakak jawa kepada anaknya berbeda-beda. Jika masih baru menetas, maka akan diberikan makanan yang lunak seperti cacing, dan jika sudah bertambah besar, makanannya pun akan bertambah besar pula, seperti ular air, ikan, ataupun kadal.

Sayangnya mahluk indah ini dikeluarkan status perlindungannya oleh pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pada Peraturan Pemerintah No.7/1999, tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, semua family Alcedinidae, atau keluarga king fisher termasuk ke dalam hewan yang dilindungi. Tetapi pada Peraturan Menteri LHK No.P.20/menlhk/setjen/kum.1/6/2018, tentang jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi ada pengurangan perlindungan family Alcedinidae, atau keluarga king fisher. Dari 46 yang ada di seluruh Indonesia, menjadi hanya 17 saja yang dilindungi. Sedangkan sisanya dikeluarkan dari status perlindungan. Hal ini diperkuat lagi dengan Peraturan Menteri LHK No.P92/2018.

Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) di hutan di desa Jatimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Imam Taufiqurrahman, dari Yayasan Kutilang Indonesia mengatakan, “Sebetulnya selain jumlah yang cukup banyak di alam liar, banyak faktor yang harus diperhitungkan untuk mengeluarkan cekakak jawa dari status perlindungannya. Antara lain, sudah ada atau tidaknya penangkaran cakakak jawa ini. jika sudah ada, maka pertanyaan selanjutnya adalah, berhasil atau tidak kah penangkaran itu. Ini penting untuk menjamin keberadaannya agar tidak habis.”

Harga burung cakakak yang dalam bahasa lokalnya adalah tengkek di pasaran memang cukup mahal. Sekitar Rp1,5 jutaan. Padahal memelihara king Fisher bukanlah pilihan yang baik, karena cara hidup yang sangat aktif dan habitat si king fisher itu sendiri.

Kajian yang lengkap dan penelitian yang mendetail terhadap cekakak jawa harus menjadi landasan bagi pemerintah untuk mengeluarkannya dari status perlindungan, selain tentu saja, seharusnya faktor endemik, yang juga melekat pada cekakak jawa, menjadi bahan pertimbangan yang kuat, lanjut Imam.

Senada dengan Imam, Ketua Profauna, Rosek Nursahid ketika dihubungi Mongabay-Indonesia pada Rabu (13/3/2019 ) mengatakan faktor endemiksitas menjadi salah satu pertimbangan yang kuat, untuk mengeluarkan hewan dari status perlindungannya.

Burung cekakak jawa dikeluarkan statusnya dari satwa dilindungi | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Pernyataan yang sedikit berbeda datang dari Hidayat Ashari, peneliti muda dari LIPI, yang dihubungi Mongabay-Indonesia, Kamis (4/4/2019). Hidayat mengatakan bahwa pertimbangan untuk mengeluarkan cekakak jawa dari status perlindungan karena Cekakak jawa atau Javan King Fisher mengacu dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) hanya masuk ke dalam status least concern.

Yang artinya, telah dievaluasi berdasarkan kriteria risiko, dan tidak memenuhi syarat sebagai kategori kritis, genting, rentan, maupun hampir terancam. Wilayah penyebaran yang luas, dan berlimpah termasuk dalam kategori ini.

Selain itu tidaknya ada kajian atau penelitian khusus, sehingga tidak ada data yang benar-benar akurat yang menguatkan agar Cekakak Jawa ini untuk tetap dalam status perlindungannya.


Sumber: Ditulis oleh Anton Wisuda dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mitos Badak Putih Penjaga Mata Air, Peliharaan Sahabat Leluhur Suku Basemah Sebelummnya

Mitos Badak Putih Penjaga Mata Air, Peliharaan Sahabat Leluhur Suku Basemah

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi Selanjutnya

Dulunya Penuh Sampah, Kini Jadi Primadona Wisata di Bekasi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.