Matahari bersinar terik. Namun siang itu, seorang anak muda terlihat duduk santai di bibir Pantai Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Flores Timur (Flotim), NTT. Lelaki berkaos hitam dan bercelana pendek itu khusuk mengikat potongan karang pada pipa paralon yang tertancap di media substrat semen.

Wilfridus Masan Dulin Niron (32), lelaki asli Ritaebang ini saat dijumpai Mongabay Indonesia, Sabtu (14/7), ternyata sedang melakukan transplantasi terumbu karang dengan kemauan dan kesadaran sendiri sejak 2016.

“Saya tertarik melakukan transplantasi sebab saya melihat banyak terumbu karang di pulau Solor rusak akibat pengeboman ikan oleh nelayan. Mereka tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukan akan merusak lingkungan dan ekosistem kawasan laut di pulau Solor,” jelas Frid, sapaannya.

Pada pipa paralon plastik setinggi 15 cm tersebut, Frid dengan penuh ketelitian dan kesabaran mengikat potongan terumbu karang yang diambilnya dari ember hitam.

Wilfridus Masan sedang melakukan transplantasi terumbu karang di pantai kelurahan Ritaebang, Solor Barat, Flores Timur, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

“Saya tamatan dari Universitas Nusa Nipa fakultas Perikanan sehingga ilmu yang didapat saat berkuliah bisa diterapkan. Selain itu saya juga belajar secara otodidak dari internet atau mendapat pelajaran dari akademisi, LSM pencinta lingkungan dan juga Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Flores Timur (DKP Flotim),” terangnya.

Bekerja Mandiri

Berawal dari inisiatif sendiri dan dana pribadi, Frid membeli semen dan plastik untuk mengikat karang sementara pipa paralon merupakan sisa pemakaian yang dimintanya dari warga.

Dia membeli sekarung semen senilai Rp75 ribu untuk membuat 25 buah substrat. Dan sedus berisi 100 klem pipa dibeli seharga Rp17 ribu untuk mengikat karang.

“Menanam karang tidak tentu, kadang sebulan sekali tapi kadang hanya mengontrol saja karang yang sudah ditanam. Tanam karang dilakukan saat air surut jauh agar karang yang ditanam tetap berada di dalam laut,” jelasnya.

Anak-anak bermain diantara transplansi terumbu karang buatan yang siap ditanam di perairan pantai Ritaebang, Solor Barat, Flores Timur, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Frid sudah menanam 60 unit substrat yang ditempeli karang yang terbagi dalam tiga rumpun di perairan pantai Ritaebang. Selama 2 tahun, karang itu sudah bertumbuh sekitar 2 cm. Itu membuatnya bersemangat sebab karang tersebut tetap terjaga dan tidak dirusak masyarakat.

Dia mengaku belum mendapat perhatian dari pemerintah, hanya pendampingan dari LSM lokal Misool Baseftin. Frid berharap masyarakat terutama generasi muda, pemerintah dan LSM bisa bekerja sama menanam terumbu karang agar lautan di perairan Solor dan Flores Timur kembali pulih.

“Saya akan terus melakukan aktifitas ini sampai kesadaran masyarakat tumbuh dan bisa bersama-sama melakukan aktifitas menanam terumbu karang. Satu karang yang patah membutuhkan waktu lama untuk bisa tumbuh kembali,” ungkapnya.

Aktivitas Merusak Karang

Apa yang dilakukan Frid bertolak belakang dengan aktifitas masyarakat kelurahan Ritaebang. Saat laut surut, anak-anak sampai orang dewasa setiap sore turun berjalan sepanjang pantai. Dengan sepotong kayu atau besi serta Nere –alat penangkap ikan berbentuk kerucut yang terbuat dari daun Gebang atau Lontar– mencari ikan, kerang, gurita dan udang.

“Aktifitas mencari ikan ini dinamakan bekarang, sedangkan malam hari dinamakan menyulo dengan menggunakan lampu petromak. Membawa ketura, sebuah kayu yang dipasangi besi atau kawat menyerupai kail, mereka berjalan menombai ikan,” jelas Urbanus Werang, Lurah Ritaebang.

Tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun ini bisa merusak karang sebab masyarakat berjalan di pesisir pantai dan menginjak karang atau biota laut lainnya. Bahkan, mereka terpaksa membongkar karang dan bebatuan mencari ikan yang bersembunyi.

Warga setempat melakukan aktifitas bekarang –mencari ikan yang merusak terumbu karang– di perairan Ritaebang, Solor Barat, Flores Timur, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia.

Frid dan juga Erma Normasari dari LSM Misool Baseftin menyesali aktivitas ini. Bahkan transplansi karang yang ditanam Frid pun diinjak orang ketika bekarang atau menyulo.

“Mau bagaimana lagi, kita tentu sulit melarang aktivitas ini sebab sudah turun temurun dilakukan. Paling-paling hanya diarahkan saja bahwa aktivitas yang dilakukan jangan sampai merusak karang,” ujar Frid.

Erma menambahkan, kegiatan mencari ikan, udang, kerang dan gurita ini terjadi di seluruh wilayah pantai di kabupaten Flores Timur. Tentunya membutuhkan waktu dan keberanian untuk menjelaskan kepada masyarakat.

Ranah ini, kata Erma, menjadi tugas pemerintah karena bersentuhan langsung dengan masyarakat dan merupakan sebuah kearifan lokal. Pasti butuh waktu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Menyadarkan Masyarakat

Tempat penanaman terumbu karang sengaja dipilih Frid di lokasi yang agak jauh dari tempat warga mencari ikan saat air laut surut agar karang yang ditanam tidak rusak terinjak orang.

“Setelah lokasi yang saya tanami berhasil baru aktivitas penanaman terumbu karang dipindahkan ke lokasi yang biasa dipergunakan masyarakat untuk mencari ikan. Ini penting, agar bisa memberi contoh dan menumbuhkan kesadaran di masyarakat tentang manfaat terumbu karang,” tegasnya.

Proses transplantasi terumbu karang oleh Wilfridus Masan dan rekannya di pesisir pantai kelurahan Ritaebang, Solor Barat, Flores Timur, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Erma menambahkan setelah transplantasi dan penanaman, karang tersebut harus dirawat dan dimonitoring pertumbuhannya. Ini tentunya membutuhkan waktu yang panjang.

Untuk kelanjutannya, Erma menyarankan dibentuk kelompok, dengan kepengurusan dan legalitas yang jelas, serta dibekali kemampuan menyelam dan teknik penanaman terumbu karang.

“Ini penting agar jangan sampai ingin melakukan penanaman malah merusak terumbu karang yang sudah ada. Saat air surut jauh penanamannya di kedalaman satu sampai dua meter,” terangnya.

Agar kegiatan konservasi terumbu karang berhasil kepada masyarakat, Erma menyarankan penanaman karang dilakukan dekat pantai agar terlihat warga. Juga dilakukan sosialisasi kepada warga agar paham dan tidak terjadi konflik.

“Kalau kami melihat ini sudah mulai ada kesadaran dari masyarakat apalagi kaum muda sebab program yang efektif itu apabila datangnya dari bawah, dari masyarakat sendiri. Tugas pemerintah mengarahkan dan membimbing kelompok tersebut,” ucapnya.

Rumpun terumbu karang yang timbul saat laut surut di pesisir pantai kelurahan Ritaebang, Solor Barat, Flores Timur, NTT | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Sedangkan Apolinardus Y.P. Demoor dari DKP Flotim menegaskan pihaknya mendukung teknis penanaman dan pengawasan transplanti terumbu karang itu.

DKP Flotim sendiri telah melakukan pendampingan sampai pembuatan Peraturan Desa tentang Konservasi Laut seperti di Desa Birawan, Kecamatan Ile Bura. Dengan adanya Perdes maka dana desa juga bisa dikucurkan bagi kelompok konservasi lingkungan.

“Kami juga mengarahkan kelompok pencinta lingkungan agar berkordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pariwisata. Ke depannya, tentu aktifitas menanam terumbu karang pun bisa dijadikan sebagai salah satu kegiatan wisata edukasi,” pungkasnya.


Sumber: Ditulis oleh Ebed de Rosary dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu