Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana, menjelaskan kontribusi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terhadap pengembangaan bioenergi dan energi pedesaan pada workshop Pengembangan Bioenergi dan Energi Pedesaan Berbasis Energi Terbarukan di Institut Pertanian Bogor (12/4).

Pada bagian awal paparannya, Dadan Kusdiana menyampaikan tugas Kementerian ESDM adalah menyediakan energi secara merata dengan harga yang terjangkau, meningkatkan penerimaan negara, sekaligus memacu pertumbuhan dan investasi.

Dadan menjelaskan Kementerian ESDM telah memberikan kontribusi cukup besar terhadap pemasukan negara bukan pajak (PNBP). Tahun 2018 realisasi PNBP nasional dari sektor ESDM sebesar 53,4% senilai Rp 217, 5 triliun.

Realisasi PNBP Kementerian ESDM mencapai 181% dari target dan 2,3 triliun berasal dari energi baru terbarukan.

Empat tahun terakhir subsidi energi makin tepat sasaran setelah dialihkan untuk belanja yang lebih produktif

Selanjutnya Dadan menjelaskan Indonesia telah menetapkan implementasi mandatori biodiesel (B20) sejak tahun 2016.

Dari tahun ke tahun produksi dan pemanfaatan biodiesel terus meningkat. Konsumsi domestik diharapkan meningkat melalui perluasan B20 Non-PSO (Public Service Obligation).

Tahun 2019 konsumsi domestrik ditargetkan 45persen atau sekitar 3,75 juta kiloliter dibandingkan 2017.

Dadan mengungkapkan, “Tidak ada negara di manapun yang menggunakan B20, kecuali Indonesia”.

Pada tahun 2015 pemerintah bersama sejumlah pihak telah melakukan beragam pengujian termasuk uji jalan dan uji kendaraan menggunakan B20.

Di samping pemanfaatan sawit untuk B20, Indonesia juga berupaya meningkatkan pemanfaatan sawit sebagai bahan premium.

“Kita akan menjadi negara pertama yang merubah sawit menjadi bensin melalui proses coprossesing“ lanjut Dadan.

Minyak sawit dicampurkan ke kilang dengan proses cracking, menggunakan katalis Merah Putih, yang juga merupakan produksi anak bangsa dan akan menghasilkan bensin dan LPG di akhir proses,

Berdasarkan kebijakan energi nasional, pemerintah menetapkan lima prioritas pengembangan energi nasional, yakni memaksimalkan penggunaan energi terbarukan, meminimalkan penggunaan minyak bumi, mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi dan energi baru, menggunakan batubara sebagai andalan pasokan energi nasional serta memanfaatkan nuklir sebagai pilihan terakhir.

Upaya untuk memaksimalkan penggunaan energi terbarukan dilakukan melalui implementasi pembangunan pembangkit listrik biomassa, biogas, pembangkit listrik tenaga sampah, PLTBn Crude Palm Oil (CPO).

Pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi untuk pedesaan, melalui kebijjakan BBM satu harga, konverter kit nelayan dan petani, listrik EBT off grid, listrik pedesaan on grid PLN dan jaringan gas.

Pada tahun 2018 Kementerian ESDM mengalokasikan 54% anggaran untuk belanja infrastruktur rakyat, di antaranya pembangunan jaringan gas kota (jargas), konverter kit untuk nelayan, lampu tenaga surya hemat energi dan sumur bor untuk daerah sulit air.

Realisasi BBM Satu Harga hingga Desember 2018 mencapai 131 titik. Tahun 2019 ditargetkan 40 titik tambahan SPBU kompak, sehingga total 171 titik SPBU telah menerapkan BBM Satu Harga.

Berkat bantuan konverter kit BBM ke LPG untuk perahu, ribuan nelayan dapat mengurangi biaya operasional melaut hingga Rp 50.000 per hari. Sejak tahun 2016, nelayan yang mendapat bantuan konverter kit sebanyak 47.554 unit.

Jaringan gas kota untuk sambungan rumah tangga dapat menurunkan biaya pengeluaran hingga Rp 90.000 per rumah tangga. Penggunaan jargas lebih baik karena lebih praktis, aman, dan bersih dibandingkan LPG 3 Kg.

Pembangunan jaringan gas kota untuk sambungan rumah tangga secara kumulatif dari tahun 2014-2018, pemerintah telah membangun 463.619 sambungan dan 325.773 menggunakan APBN.

Kementerian ESDM mengalokaskan anggaran untuk memasang 89.906 sambungan dari 90.429 sambungan yang dibangun pada tahun 2018. Tahun ini diharapkan bertambah 78.216 rumah tangga yang dapat menikmati jargas.

Sebagai wujud energi berkeadilan, pemerintah juga gencar membagikan lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE) ke berbagai provinsi, terutama daerah terpencil, daerah perbatasan dan pulau terluar.

Selama dua tahun pemerintah membagikan 351.033 LTSHE yang tersebar di 16 provinsi. Upaya ini turut memberikan kontribusi 0,37% terhadap peningkatan rasio elektrifikasi hingga 98,30%.

Badan Litbang ESDM juga turut berkontribusi terhadap peningkatan pemanfaatan batu bara melalui teknologi gasifikasi mini batubara.

GasMin batubara adalah suatu reaktor skala IKM untuk mengubah batubara menjadi bahan bakar gas melalui proses gasifikasi.

Pengoperasiannya mudah, dapat diintegrasikan pada berbagai pemanfaatan (internal maupun eksternal combustion), muatan lokal mencapai 90%. Harga unit GasMin tidak mahal/terjangkau dan dapat menghemat penggunaan energi sampai 40%.

GasMin batubara akan mendorong berkembangnya industri hilir dan jasa dalam negeri yang mampu menjawab tantangan energi, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan nilai tambah.

Di samping Dadan Kusdiana, empat pembicara lainnya adalah pakar bioenergi IPB Erliza Hambali dan Armansyah Tambunan, Direktur Penyaluran Dana BPDPKS Edi Wibowo, dan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan (ER)

Sumber: Badan Litbang ESDM

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu