Inilah Beberapa Fakta tentang Laut Indonesia

Inilah Beberapa Fakta tentang Laut Indonesia

Ikan hasil laut Indonesia © Sumber: KKP News

Konferensi Earth Summit di Rio De Jeneiro, Brasil pada 1992 telah menetapkan setiap tanggal 8 Juni diperingati sebagai World Ocean Day atau Hari Laut Dunia setiap tahunnya. Yang kemudian disahkan oleh PBB pada akhir 2008.

Pada dasarnya, Hari Laut Sedunia ditetapkan untuk menghargai keberadaan lautan di seluruh dunia, mengingat bahwa laut merupakan bagian sangat penting bagi kehidupan umat manusia di dunia.

Indonesia sendiri merupakan Negara kepulauan, dengan 2/3 wilayahnya adalah laut, ikut menyumbang kontribusi bagi laut dunia, baik dalam artian positif maupun negatif. Dan inilah beberapa fakta tentang Indonesia dan laut :

  1. Destinasi Wisata Laut Terbaik

Sebagai Negara maritim dengan wilayah laut yang sangat luas, serta ratusan destinasi wisata selam yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia dinobatkan menjadi destinasi terbaik pilihan pembaca Dive’s Magazine dalam kategori destinasi selam terbaik dunia, di London, Inggris, Senin (6/11/2017). Dalam kompetisi ini Indonesia mengalahkan rival kelas berat seperti Filipina, Azires, Meksiko, Maldives, Mesir, Bahama, Thailand, Fiji dan Papua Nugini.

Ikan dan terumbu karang yang ditemukan di perairan Puru Kambera di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur | Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia
Indahnya terumbu karang dan biota laut di perairan Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara | Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia
Seorang nelayan tradisional sedang menangkap ikan lion fish di perairan Desa Les, Buleleng, Bali | Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia
Panorama bawah air yang menakjubkan di Uluna, Danau Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara | Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia

2. Produksi Ikan Terbesar

Badan Pangan Dunia (FAO) pada 2014 menetapkan Indonesia pernah menjadi negara terbesar kedua produksi perikanan tangkap sebanyak 6 juta ton pada 2014. Peringkat pertama ditempati oleh Tiongkok dengan kemampuan produksi mencapai 14 juta ton.

Ikan roa yang terjaring nelayan di perairan Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara | Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia
Segerombol ikan kaca atau glassfish | Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia
Hasil tangkapan ikan di Sulawesi Utara | Foto: Rhett A. Butler
Suasana pengolahan ikan di Pelabuhan Perikanan Nizam Zachman Muara Baru, Jakarta Utara pada November 2016 | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Keramaian yang terlihat di tempat pelelangan ikan | Foto: Junaidi Hanafiah
Seorang nelayan sedang menjemur ikan di Muara Angke, Jakarta Utara | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

3. Biodiversitas Tertinggi

Indonesia menjadi Negara kedua dengan tingkat keanekaragaman tertinggi di dunia. Mungkin akan lebih tinggi dibandingkan dengan Brazil apabila semua sumber daya hayati yang ada di !aut dan di darat sudah dijelajahi semua.

Gelar tersebut wajar mengingat Indonesia terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia; dan dua samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudra Hindia; serta bentuk negara kepulauan dengan iklim tropisnya.

Sudah 13.466 pulau yang dikenali dan diberi nama dari total sekitar 17.000 pulau. Luas daratan Indonesia yaitu 1.919.440 km dan luas perairan 3.257.483 dengan garis pantai sepanjang 99.093 km.

Kepiting porselen alias porcelain crab di perairan Manado, Sulawesi Utara | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Sepasang kelinci laut jenis Chromodoris kunei di perairan Padangbai, Bali | Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia

Dalam bidang sumber daya ikan, Indonesia lebih dari 8.000 jenis ikan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.300 merupakan jenis ikan air tawar, atau sekirar 10% dari total jenis ikan air tawar dunia, selebihnya merupakan jenis ikan air laut Hingga juni 2014 sudah 32.800 jenis ikan yang berhasil dideskripsikan, di antaranya 1.218 jenis ikan air tawar.

Berdasarkan angka-angka tersebut, maka diperkirakan Perairan Indonesia memiliki sekitar 20-25% dari populasi ikan di seluruh dunia. Sehingga Indonesia merupakan negara biodiversitas kedua dalam hal ikan setelah Brazil.

Pemandangan dari bawah perairan Desa Jemeluk, Karang asem, Bali | Foto: Wisuda
Sepasang clownfish atau ikan badut jantan dan betina di perairan Bali | Foto: Wisuda
Seekor ikan Pictured Dragonet dari kawasan perairan Bali | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Sekelompok ikan batfish di perairan Bali | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

4. Produsen Sampah Terbesar

Sayangnya Indonesia ternyata menjadi penyumbang sampah terbesar kedua di dunia, sebesar 187,2 juta ton, setelah Tiongkok di peringkat pertama dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Adapun urutan ketiga Filipina sebanyak 83,4 juta ton, selanjutnya Vietnam sebanyak 55,9 juta ton, dan Sri Lanka sebanyak 14,6 juta ton per tahun. Data tersebut dari hasil riset Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, yang dipublikasi pada 2015.

Seorang anak sedang bermain di sela-sela limbah dan sampah di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara pada April 2018 | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Seorang diver yang menyelam diantara sampah di perairan pantai Manado, Sulawesi Utara | Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia
Troley bayi, salah satu sampah yang ada di perairan Selat Lembeh, Sulawesi Utara | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Sampah plastik di lautan | Foto: NOAA

5. Reklamasi Pantai

Indonesia pun banyak terbentur dengan masalah reklamasi pantai yang notabene merusak lingkungan laut dan kehidupan di dalamnya, seperti Tanjung Benoa Bali, Teluk Jakarta, Pantai Manado, dan tempat-tempat lainnya.

Sebuah kapal nelayan melintas di perairan Teluk Jakarta, Muara Angke, Jakarta Utara. Teluk Jakarta mengalami tekanan lingkungan yang tinggi, salah satunya karena proyek reklamasi | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Reklamasi yang terus berlangsung di pantai Manado, Sulawesi Utara | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Aktivitas reklamasi di Center Point of Indonesia, Makassar, Sulsel, masih terus berlangsung dengan menggunakan pasir yang ditambang dari perairan Takalar. Mengabaikan surat dari KKP, Dinas ESDM Sulsel menerbitkan perizinan baru untuk perusahaan baru, yaitu PT Alefu Karya Makmur | Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia
Aksi menolak reklamasi dari Tanjung Benoa, Bali pada Minggu (28/02/2016) | Foto: Forbali
Foto udara dari aksi pembentangan spanduk di Teluk Benoa mendukung gerakan warga dan ForBALI menolak rencana reklamasi | Foto: Arsip ForBALI

***

Agaknya, Indonesia memang harus lebih giat lagi berbenah dengan lautnya. Karena pemulihan laut dan isinya yang telah rusak, tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang dengan waktu yang singkat saja. Butuh koordinasi dan keterlibatan serta ketekunan semua pihak yang terkait untuk menyehatkan kembali laut Indonesia. Terutama dalam membersihkannya dari sampah plastik yang memang menjadi tema Hari Laut Dunia 2018 yaitu “preventing plastic pollution and encouraging solutions for a healthy ocean”.


Sumber: Ditulis oleh Anton Wisuda dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih33%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau67%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Boy Candra Sulap Sampah Plastik jadi Pipa Berharga Sebelummnya

Boy Candra Sulap Sampah Plastik jadi Pipa Berharga

"Hikmah" Perang Dagang, Dua Perusahaan Mobil Listrik Akan Bangun Pabrik di Indonesia Selanjutnya

"Hikmah" Perang Dagang, Dua Perusahaan Mobil Listrik Akan Bangun Pabrik di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.