Shark Diving, Memadukan Pariwisata Selam dan Penelitian Hiu di Morotai

Shark Diving, Memadukan Pariwisata Selam dan Penelitian Hiu di Morotai

Kumpulan hiu Blacktip Reef shark (Carcharhinus melanopterus). Ditemukan di perairan terumbu karang yang sehat hingga kedalaman 40 meter. Ia bisa tumbuh hingga 180 cm © Foto: Wahyu Mulyono

  • Destinasi tujuan pariwisata melihat hiu di alam di Indonesia semakin berkembang, untuk itu diperlukan penelitian tentang perilaku hiu.
  • Selama ini penelitian hiu di Indonesia terbatas pada hiu tangkapan nelayan yang mendarat di pelabuhan perikanan. Tak banyak yang membahas tentang perilaku hiu.
  • Darmawan Ahmad Mukharror adalah perintis “shark diving” di Morotai, sekaligus melakukan penelitian tentang perilaku hiu di alam bebasnya.
  • Jenis ikan hiu yang ada di Morotai, meliputi hiu sirip hitam, hiu sirip putih, hiu karang abu-abu, hiu paus, halmahera walking shark, hammer head shark hingga bull shark.

Di kedalaman 21 meter di bawah perairan Pulau Morotai, Maluku Utara, belasan hiu sirip hitam atau blacktip reef shark berenang hilir mudik di sekitar kami. Inilah schooling atau kumpulan hiu sirip hitam terbanyak yang pernah saya jumpai selama hampir 25 tahun menyelam di seluruh perairan Indonesia.

Shark Diving” atau menyelam dengan hiu adalah ikon utama yang menjadi daya tarik utama menyelam di perairan ini. Menyelam bersama hiu, sejatinya bukan hanya menikmati keindahan dan kegagahan mereka sebagai penguasa lautan. Di situ, kita belajar mengenal lebih jauh tingkah laku hiu sirip hitam di habitatnya.

Darmawan Ahmad Mukharror alias Gharonk, adalah perintis “shark diving” di Morotai. Kecintaannya pada hiu berawal dari kegiatan penyelaman yang menjadi hobi barunya kala itu. Ia terbilang telat belajar menyelam, karena saat itu usianya sudah 34 tahun.

Film “The Sharkman” menjadi inspirasinya. Selama ini spesies hiu lebih banyak dikenal karena perilaku ganasnya. Jarang sekali informasi tentang pentingnya mereka bagi ekosistem laut dan manusia. Film-film yang beredar juga lebih banyak mengisahkan kengerian dan teror oleh hiu kepada manusia.

Kumpulan hiu Blacktip Reef shark (Carcharhinus melanopterus). Ditemukan di perairan terumbu karang yang sehat hingga kedalaman 40 meter. Ia bisa tumbuh hingga 180 cm | Foto: Wahyu Mulyono

Hal itu lalu membuat Gharonk tertarik semakin mengenal hiu. Pada 2014, ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang memiliki sertifikat PADI AWARE Shark Conservation Diver Instructor atau instruktur selam spesialis konservasi hiu.

Setelah menjadi instruktur selam spesialis konservasi hiu, langkah Gharonk tak berhenti. Ia ingin total mengenal hiu. Insinyur Teknik Kimia jebolan ITB ini justru melanjutkan studi S2 nya di Program Magister Ilmu Kelautan, FMIPA Universitas Indonesia.

Hiu pun lalu menjadi obyek penelitiannya. Namun saat itu hatinya miris saat mencari literatur tentang hiu. Literatur perilaku hiu di perairan Indonesia umumnya ditulis oleh orang asing. Mungkin karena penelitian perilaku hiu harus berjangka panjang, tak cukup setahun dua tahun. Bisa memakan waktu hingga puluhan tahun.

“Ini mengusik saya. Seperti apa sih perilaku mereka di alam. Kalau kita pancing dengan sesuatu, apakah mengalami perubahan tingkah laku atau tidak,” katanya.

Penelitian hiu selama ini di Indonesia katanya, biasanya terbatas pada hiu tangkapan nelayan yang mendarat di pelabuhan perikanan. Sehingga pembahasan lebih pada aspek biologi dan fisik serta pakan hiu. Tak banyak yang membahas tentang perilaku hiu di Indonesia.

Di Bahama, satu penelitian tentang perilaku hiu ini sudah berlangsung sekitar 30 tahun. Hasil penelitian menyebutkan tidak ada perubahan perilaku selama 30 tahun tersebut.

Namun kondisi berbeda dengan penelitian yang dilakukan di Polinesia. Peneliti senior hiu Eric Clua, menyimpulkan adanya perubahan perilaku ikan hiu karena interaksinya dengan manusia.

Untuk menunjang penelitian hiu di habitatnya ini, Gharonk lalu memutuskan membuat jasa wisata selam “Shark Diving Indonesia”. Tujuannya, agar ada dana untuk meneruskan penelitian ini secara kontinyu.

“Karena tidak ada yang mendanai penelitian di bidang ini, saya berpikir bagaimana agar hal ini bisa tetap kita lakukan. Dengan tamu yang datang dan dari hasil wisata serta sumbangan pribadi saya, itu yang kami gunakan untuk penelitian.”

Dari usaha wisata selamnya, sudah sembilan mahasiswa Universitas Padjadjaran dan Universitas Diponegoro yang ikut penelitian dan mengambil skripsi soal hiu di Morotai. Para mahasiswa ini turut membantu Gharonk mengamati tingkah laku hiu di tempat tinggalnya.

“Satu hal yang harus kita ingat bahwa mereka adalah hewan buas dan tidak bakal bisa dijinakkan dalam waktu dekat. Itu yang harus kita yakini.”

Interaksi Gharonk Bersama Blacktip Reef Shark. Salah satu metode penelitian untuk melihat perilaku Hiu Karang di habitatnya | Foto: Wahyu Mulyono

Paradigma Baru Penelitian Hiu

Penelitian yang dilakukan Gharonk sendiri mengambil tema “Kajian Hiu Karang dan Interaksinya dengan Manusia di Perairan Morotai dan Halmahera, Maluku Utara”.

Metode penelitian yang dilakukan menggunakan Baited Remote Underwater Video(BRUV), Underwater Video Census (UVC), dan pengambilan gambar saat perlakuan gangguan indera penerima listrik hiu ketika berinteraksi dengan manusia.

BRUV adalah salah satu sistem yang digunakan dalam penelitian biologi kelautan. Kamera akan merekam umpan yang ditaruh ke site penelitian. Kamera bisa dikendalikan dari jarak jauh dari atas kapal. Teknik ini akan merekam perilaku spesies, keragaman dan juga kelimpahan ikan.

Teknik ini dikenal ramah lingkungan dan juga murah untuk pemantauan perilaku spesies dalam jangka panjang.

Sementara teknik UVC merupakan pengembangan dari sensus visual di dalam air. Ini akan memudahkan memahami perilaku spesies, sensus dilakukan dengan perekaman video di lokasi penelitian dengan penyelaman berulang.

Sedangkan lewat teknik perlakuan gangguan indera, penerima listrik hiu “dihipnotis” ketika berinteraksi dengan manusia. Hiu dibuat seperti “terhipnotis” dalam kondisi imobilitas tonik.

Teknik ini juga pernah dilakukan oleh peneliti dunia, Cristina Zenato. Dia adalah penyelam scuba sekaligus peneliti di Bahama, yang memiliki kemampuan untuk menghipnotis hiu.

Christina “memikat” hiu sepanjang tiga meter hingga dapat diseimbangkan secara vertikal di satu tangan. Teknik ini dia digunakan untuk menghilangkan kail dan parasit pada spesies hiu karang.

Menurut Gharonk, dengan menghipnosis hiu kita dapat memiliki satu cara untuk mengamati atau meneliti hiu tanpa menyakiti spesies ini.

“Ini lebih ramah dibandingkan jika kita mengambilnya, mengukur panjangnya, meneliti penyakitnya dan lain-lain,” tambahnya.

Jenis ikan hiu yang diteliti oleh Gharonk adalah blacktip reef shark (Carcharhinus melanopterus) atau hiu sirip hitam. Hiu ini adalah jenis yang paling banyak perjumpaannya di Morotai. Kemudian Whitetip Reef Shark (Triaenodon obesus) atau hiu sirip putih dan halmahera walking shark atau Hemiscyllium Halmahera.

Kendati demikian, Gharonk kerap menjumpai hiu-hiu jenis lainnya. Hiu karang abu-abu (grey reef shark), hiu paus (whale shark), hammer head shark dan bull shark, adalah jenis-jenis hiu yang pernah dijumpai di perairan Morotai dan Halmahera.

Darmawan Ahmad Mukharror alias Gharonk, Peneliti Hiu di habitat aslinya dan pendiri Shark Diving Indonesia | Foto: Wahyu Mulyono

Penelitian Perilaku Hiu Berguna untuk Konservasi dan Pariwisata

Gharonk meyakini hasil kajian tentang perilaku hiu yang dia buat akan mendukung pariwisata lingkungan yang ada. Apalagi Indonesia kini dinobatkan menjadi negara dengan penghasilan ke-empat terbesar di dunia dari pariwisata hiu.

“Karena saya juga pelaku pariwisata, studi perilaku dibutuhkan untuk mempelajari interaksi yang bertanggung jawab antara hiu karang dan manusia, dalam konteks pariwisata hiu dan konservasi.”

Pengelolaan pariwisata hiu yang baik, juga dapat menyediakan dukungan kepada kehidupan komunitas lokal masyarakat pesisir. Juga menjadi acuan untuk menyusun aturan perilaku wisatawan saat menyelam dengan hiu karang.

“Hiu ini seperti anjing. Kita harus tahu kapan dia mulai bermain-main, kapan dia mulai masuk dalam tahap menyerang atau agresif, atau kapan saat dia pasif atau dalam mode mengamati,” jelas Gharonk.

“Nah itu jadi tantangan yang kita perlu tahu, agar pariwisata tidak terpukul balik dengan kejadian yang tidak kita inginkan.”

Gharonk merasa sangat senang dengan meningkatnya gairah pariwisata perairan di Morotai saat ini. Dari dulunya hanya dia seorang diri yang memiliki dive centre, kini kegiatan ini semakin berkembang. Kebanyakan guidenya adalah murid-murid selamnya.

Jumlah penyelam yang kini datang ke Morotai juga mengalami peningkatan sejak tahun 2013. Per tahunnya sekitar 400 – 1.000 orang pengunjung datang ke Morotai. Bukan hanya bagi pegiat selam, industri pariwisata ini tentunya memberikan efek baik bagi ekonomi masyarakat.

“Tujuan untuk penelitian dan wisata diving, pada akhirnya berkembang untuk pembangunan di Morotai secara umum,” pungkasnya.

* Wahyu Mulyono, pendiri sekolah selam “Sahabat Selam Indonesia”, profesional underwater cameramen and photographer.


Sumber: Ditulis oleh Wahyu Mulyono dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mangrove Pasir Sakti yang Kini Hijau Lagi Sebelummnya

Mangrove Pasir Sakti yang Kini Hijau Lagi

Tok! Provinsi ini Diputuskan akan Menjadi Lokasi Baru Ibukota Negara Selanjutnya

Tok! Provinsi ini Diputuskan akan Menjadi Lokasi Baru Ibukota Negara

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.