Kenikmatan Durian di Desa Blimbing

Kenikmatan Durian di Desa Blimbing

© Dok. Penulis

Tanaman perkebunan di kecamatan Mojo, khususnya di desa Blimbing, ada yang membudidayakan tanaman durian. Tanaman ini memiliki beragam karakter, ada yang warnanya hijau, ada yang kuning, dan ada yang semu kecoklatan.

Babinsa Desa Blimbing Pelda Kambali membedah serba serbi durian produk lokal di desa tersebut, dan untuk mengetahui lebih dalam, ia mengunjungi rumah Marsudi, salah satu petani durian, pada Selasa (23/4)

Dijelaskan Marsudi, panen durian di desa ini ada dua masa. Untuk daerah di sisi barat desa, rata-rata panen terjadi saat musim hujan, dan di sisi timur desa, panen terjadi saat pra musim hujan.

Ini bisa terjadi karena geografis desa yang terbagi dua, yang satu berada di lereng dan dan satunya di puncak Gunung Wilis.

Ia menambahkan, untuk daerah sekitar desa Blimbing ini, hasil buah duriannya berstatus musiman atau hanya bisa dipetik setiap setahun sekali.

Situasional musim panen di Desa Blimbing, terbagi dua, yang di bawah atau masih berada di areal lereng Gunung Wilis, tergantung sistem pengairan. Kemudian yang di atas atau dekat sekali dengan puncak Gunung Wilis, tergantung dari curah hujan.

“Varietas durian di sini sudah sangat terkenal dan berulang kali tampil dalam festival durian yang rutin tiap tahun diselenggarakan di kecamatan Kandangan,” jelas Marsudi.

Prestasi varietas lokal durian di desa Blimbing sukses menjadi yang terbaik alias juara pertama se-kabupaten Kediri pada tahun 2017 lalu.

Penilaian tim dewan juri mengacu pada warna durian, baik kulit maupun buahnya, kadar alkohol dalam durian, dan rasa buah. Sistem penilaian ini sudah umum dilakukan pada event-event sejenis.

“Penjualan yang umum dilakukan petani disini, pembeli tidak perlu menunggu dari pihak ketiga, tetapi bisa langsung bernegosiasi langsung,” kata Marsudi.

Menurutnya, biasanya pembeli membeli secara berkelompok. Pembelian dilakukan sistem borong pohon dan sistem ini tidak bisa sama satu sama lain, karena tergantung banyaknya buah yang menggantung dalam satu pohon.

Dalam sistem borong pohon, petani bisa meraup rupiah hingga Rp 1 juta per pohon, tetapi ini sangat jarang alias tidak semuanya bisa menembus angka rupiah ini.

Tetapi ia mengakui, bahwa ada juga yang bisa meraup nominal Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta, namun ini sangat langka dan jarang terjadi dalam negosiasi yang tergantung matematika antara pohon dengan jumlah pohon.

Dari keterangan Pelda Kambali, rata-rata buah durian yang dijual langsung dari petani relatif sangat murah dibanding membelinya di pasar-pasar. Satu buah durian ditawarkan Rp 25.000 hingga Rp 35.000, tergantung besar kecilnya durian tersebut. Namun bila durian tersebut sudah berada di pasar-pasar, harganya naik menjadi Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per buah. (dodik)


Sumber: Babinsa dan petani desa Blimbing

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Ayo Mengenal Warisan Budaya Tudung Batak Sebelummnya

Ayo Mengenal Warisan Budaya Tudung Batak

Alasan Sri Sultan Hamengkubuwono Menjadi PNS Pertama di Indonesia Selanjutnya

Alasan Sri Sultan Hamengkubuwono Menjadi PNS Pertama di Indonesia

Dodik Suwarno
@dodiksuwarno7

Dodik Suwarno

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.