Nelayan Kepiting Ini Merasakan Manfaat Rehabilitasi Mangrove

Nelayan Kepiting Ini Merasakan Manfaat Rehabilitasi Mangrove
info gambar utama
  • Aksi menanam mangrove oleh ASCM (Aquatic Study Club Makassar) dan ACC (Aquaculture Celebes Community) dan dukung oleh WWF Indonesia, ditanggapi positif nelayan di Desa Bonto Bahari, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan
  • Beberapa tahun terakhir tangkapan kepiting nelayan mulai menurun. Ukurannya pun relatif kecil, sehingga banyak nelayan yang merantau ke tempat yang lebih jauh, yaitu di pulau-pulau yang ada di Kabupaten Pangkep.
  • Kabupaten Maros merupakan salah satu kabupaten di Sulsel yang melakukan konversi mangrove besar-besaran sejak tahun 60-an. Pemanfaatan hutan mangrove untuk usaha budidaya tambak telah mencapai lebih dari 50 persen pada tahun 1988.
  • Penanaman ini merupakan rangkaian agenda rehabilitasi kawasan pesisir WWF-Indonesia bersama PT. Bogatama Marinusa, yang didukung oleh JCCU. Total penanaman hingga 14 April 2019 ini sebesar 26.885 pohon, setengah dari target sebanyak 57.000 pohon.

Syarif (35), sedang duduk menunggu nelayan kepiting ketika sekitar 60-an anak muda menyusuri pesisir pantai yang berlumpur setinggi paha orang dewasa. Di kejauhan ia memandang serius tanpa ekspresi. Hari masih pagi namun cuaca sangat terik.

Syarif adalah pedagang pengepul di Desa Bonto Bahari, Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Setiap hari dia datang ke dermaga menunggu nelayan kepiting membawa hasil tangkapan. Kondisi mangrove yang cukup lebat di kawasan itu menjadi ekosistem yang bagus untuk kepiting.

Melihat puluhan mahasiswa datang menanam mangrove dia merasa bersyukur, apalagi di kawasan itu akan dibuka tambak baru yang akan mempersempit kawasan mangrove.

“Bagus, bagus,” katanya ketika Mongabay-Indonesia menanyakan tanggapannya terkait aksi penanaman mangrove yang dilakukan oleh ASCM (Aquatic Study Club Makassar) dan ACC (Aquaculture Celebes Community) dan didukung oleh WWF Indonesia.

Kepiting Rajungan menjadi sumber mata pencarharian utama nelayan di Desa Bonto Bahari, Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros, Sulsel. Keberadaan mangrove turut melestarikan kepiting, meski kini terancam dengan rencana konversi mangrove ke tambak | Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia
info gambar

Menurut Syarif, sebagian besar nelayan di desa tersebut menggantungkan hidup sebagai nelayan kepiting sehingga keberadaan mangrove yang subur bisa menjadi ekosistem yang baik untuk kepiting.

“Kalau di sekitar mangrove itu kebanyakan kepiting besar, kalau agak keluar ke laut tangkapan nelayan biasanya kepiting rajungan yang lebih kecil,” katanya.

Syarif sendiri lebih banyak membeli kepiting rajungan untuk dijual kembali ke pihak industri. Ia membeli dari nelayan seharga Rp25 ribu/kg. Kepiting itu diolah dengan cara dikupas, lalu dijual dalam bentuk daging yang sudah dikemas ke sebuah perusahaan di Kawasan Industri Makassar (KIMA).

“Ini diolah di rumah oleh istri dibantu beberapa tetangga. Begitu kepiting datang langsung diolah supaya kondisi tetap segar.”

Sangat penting daging kepiting dijual dalam kondisi yang masih segar karena terkait kualitas. Seringkali punggawa yang lebih besar, yang menjadi pengepul perantara dalam mata rantai bisnis kepiting, menolak produk olahan yang sudah berbau.

“Bulan lalu produk olahan saya ditolak hingga 17 kg karena kondisinya sudah tidak bagus lagi. Meski biasa disiasati namun saya memilih menarik kembali produk tersebut untuk menjaga kepercayaan mereka,” katanya.

Nilai 17 kg sendiri sangat besar bagi Syarif, karena modalnya yang sangat terbatas. Dengan harga per kg-nya Rp150 ribu, artinya ia akan rugi sekitar Rp2,5 juta. Untunglah ia sudah mengantisipasi situasi tersebut.

“Daging kepiting yang dikembalikan itu saya olah menjadi abon untuk dijual. Hanya saja keuntungannya tak sebanyak dibanding dijual mentah,” katanya.

Penanaman 3.000 bibit mangrove dari jenis Rhizophora mucronate dilakukan WWF-Indonesia kerjasama dengan komunitas mahasiswa diharapkan bisa memperbaiki kondisi mangrove di Bonto Bahari di tengah ancaman konversi menjadi tambak | Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia
info gambar

Menurut Syarif, dalam beberapa tahun terakhir tangkapan kepiting nelayan mulai menurun. Ukurannya pun relatif kecil, sehingga banyak nelayan yang merantau ke tempat yang lebih jauh, yaitu di pulau-pulau yang ada di Kabupaten Pangkep.

“Kalau di pulau biasanya kepitingnya lebih banyak dan lebih besar. Di sini kebanyakan masih kecil-kecil, mungkin karena sudah jumlah nelayan yang banyak.”

Darwis, salah seorang nelayan setempat, juga mengakui tangkapan nelayan semakin berkurang akhir-akhir ini. Dalam sehari tangkapannya tak lebih dari 10 kg. Pagi itu ia mendapat tangkapan 5 kg, yang memberinya penghasilan Rp125 ribu. Dengan pengeluaran untuk BBM sebesar Rp50 ribu, ia hanya memperoleh penghasilan bersih Rp75 ribu.

“Ini pas-pasan pak untuk kebutuhan keluarga. Saya punya tiga anak di rumah. Apalagi kebutuhan hidup sekarang mahal-mahal,” katanya.

Jumlah tangkapan nelayan biasanya akan ditentukan jumlah rakkang yang dimiliki. Rakkang adalah alat tangkap kepiting berupa perangkap besi yang dibentangkan melalui seutas tali yang panjang. Biasanya nelayan memiliki ratusan hingga seribuan rakkang. Darwis sendiri hanya memiliki 300 rakkang.

Darwis mengakui selama ini tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Mungkin karena ia tak tergabung dalam kelompok nelayan, sebagai salah satu syarat untuk mendapat bantuan.

“Kebutuhan utama sih rakkang dan bahan bakar. Itu diharapkan bantuan dari pemerintah,” katanya sambil tertawa.

Ia bersyukur dengan adanya penanaman mangrove pagi itu, meski berharap agar penanaman diatur rapi dan tidak menutup akses perahu nelayan.

Nelayan kepiting di Bonto Bahari menggunakan rakkang sebagai alat tangkap. Jumlah tangkapan akan tergantung pada jumlah rakkang yang dimiliki, yang berkisar antara 300 hingga 1.000 rakkang. Hasilnya sekitar 5 – 15 kg sekali melaut | Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia
info gambar

Penanaman Mangrove

Penanaman mangrove pagi itu adalah kelanjutan aksi sebelumnya di Kabupaten Pangkep, yang dilakukan oleh WWF-Indonesia bekerja sama dengan komunitas mahasiswa.

Menurut Idham Malik, AquacultureStaff WWF-Indonesia, jumlah bibit yang mereka tanam di Bonto Bahari sebanyak 3000 bibit. Jenis mangrove yang ditanam adalah Rhizophora mucronata.

Meski lokasi ini hanya sebagai pengganti lokasi yang seharusnya di Kabupaten Pinrang, namun penting juga menanam di sini karena merupakan area yang genting untuk penanaman mangrove,” katanya.

Menurut Idham, Kabupaten Maros merupakan salah satu kabupaten di Sulsel yang melakukan konversi mangrove besar-besaran sejak tahun 60-an. Pemanfaatan hutan mangrove untuk usaha budidaya tambak telah mencapai lebih dari 50 persen pada tahun 1988. Pada tahun tersebut lahan pertambakan sudah seluas 11 ribu ha yang terdiri atas lahan tambak (6.395 ha), lahan rawa-rawa (1.255 ha) dan lahan sawah (3.350 ha).

Konversi ini masih terus berlanjut. Hal ini terlihat pada saat penanaman mangrove ini dilakukan terdapat lahan mangrove yang dikonversi untuk dijadikan tambak. Padahal, menurut konvensi Ramsar (kesepakatan internasional untuk pengelolaan lahan basah), konversi mangrove tidak diperbolehkan lagi sejak tahun 1999.

“Namun, hal ini belum menjadi perhatian pemerintah untuk menjaga eksistensi mangrove. Sehingga, perlu ada upaya dari pemerintah dan pihak-pihak yang peduli untuk terus menyosialisasikan agar tidak diperbolehkan lagi konversi lahan mangrove menjadi lahan tambak.”

Apalagi, lokasi penanaman mangrove di Bonto Bahari sebenarnya merupakan lokasi ekowisata mangrove. Masih terlihat infrastruktur berupa jalanan kayu untuk menyusuri hutan mangrove. Namun, tampak bangunan kayu sudah rusak dan sepertinya kayunya diambili oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Menurut Idham, rusaknya fasilitas bangunan dan tracking mangrove di daerah tersebut karena ulah warga sekitar yang menilai keberadaan fasilitas disalahgunakan pemuda-pemudi setempat untuk pacaran.

“Seandainya kawasan ini dikelola secara profesional, kejadian-kejadian seperti itu dapat diminimalisir.”

Aksi penanaman mangrove di kawasan wisata mangrove Dewi Biringkassi, Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulsel, Minggu pagi (7/4/2019) oleh puluhan mahasiswa dari Aquaculture Celebes Community (ACC), dan pencinta alam Greenfish Perikanan Universitas Hasanuddin | Foto: Wahyu Chandra/ Mongabay Indonesia
info gambar

Idham menilai keberadaan ekowisata mangrove memiliki nilai positif karena pemerintah dan masyarakat bisa saling bersinergi untuk menjaganya.

“Mangrove penting dijaga karena bisa menghasilkan oksigen. Ini penting sebagai upaya bersama dalam mencegah terjadinya perubahan iklim. Selain itu, kawasan mangrove sebagai habitat kritis, beragam hewan-hewan bergantung hidup di kawasan tersebut.”

Idham berharap, penanaman 3.000 bibit mangrove di desa tersebut bisa menjadi momentum untuk melihat ulang lagi pengelolaan wisata mangrove tersebut, serta mencegah konversi mangrove yang saat ini masih sedang berlangsung.

“Selain itu, keberadaan mangrove ini akan sangat dirasakan manfaatnya bagi nelayan, khususnya nelayan kepiting yang banyak di sekitar sini,” tambahnya.

Dijelaskan Idham bahwa setelah penanaman mangrove di daerah tersebut, akan dilanjutkan di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, awal Mei mendatang.

Penanaman ini merupakan rangkaian agenda rehabilitasi kawasan pesisir WWF-Indonesia bersama PT. Bogatama Marinusa, yang didukung oleh JCCU. Program ini telah berlangsung sejak 5 Juli 2017 dan dikonsentrasikan di beberapa kawasan pesisir yang dekat dengan area pertambakan. Total penanaman hingga 14 April 2019 ini sebesar 26.885 pohon, setengah dari target sebanyak 57.000 pohon.


Sumber: Ditulis oleh Wahyu Chandra dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini