Begini Cara Masyarakat Semarang Sambut Ramadan

Begini Cara Masyarakat Semarang Sambut Ramadan

Warak di karnaval Dugderan Semarang © Sumber: Sorot Nusantara

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Ribuan penduduk berbondong-bondong ke pusat kota Semarang, Jawa Tengah, pada hari Sabtu untuk menyambut bulan puasa, yang akan dimulai pada hari Senin.

Mereka bergabung dengan parade jalan Dhugdheran, sebuah tradisi kota yang berasal dari tahun 1881 yang menampilkan Warak (makhluk mitos yang menyerupai naga, kambing, dan unta), yang mewakili leluhur penduduk Semarang.

Karakteristik naga mewakili penduduk keturunan Cina, sedangkan kambing dan unta mewakili mereka yang leluhurnya masing-masing berasal dari Jawa dan Timur Tengah.

Pertunjukan jalanan, Warak, sebuah simbol keserakahan dan kemarahan, menetaskan telur, sebuah simbol kemurnian yang melambangkan semangat Ramadan, mendorong penduduk untuk memerangi keserakahan, kemarahan dan keinginan duniawi lainnya selama bulan suci untuk menyucikan diri mereka.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengambil bagian dalam karnaval tersebut dengan memainkan peran sebagai pemimpin abad ke-19 yang biasanya mengadakan halaqah (konvensi dengan ulama) sebelum memutuskan mulainya Ramadan secara resmi.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menabuh bedug di karnaval Dhugderan | Foto: Suherdjoko / Jakarta Post
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menabuh bedug di karnaval Dhugderan | Foto: Suherdjoko / Jakarta Post

Hendrar memerankan peran sebagai Tumenggung Aryo Purboningrat, bupati Semarang pada tahun 1881, yang memegang halaqah dengan ulama di Masjid Kauman untuk menentukan kapan bulan puasa dimulai.

Pengumuman awal Ramadan kemudian dibawa ke Masjid Agung Jawa Tengah, di mana Kanjeng Mas Raden Tumenggung Probo Hadikusuma - diperankan oleh Ganjar - sedang menunggu.

"Mari kita gunakan bulan ini melakukan perbuatan baik dan memberikan sentimen positif," kata Ganjar setelah membaca hasil halaqah.

Pembacaan tersebut kemudian diikuti oleh suara bedug dan petasan. Suara bedug itu, yang dulunya dideskripsikan oleh penduduk sebagai "dug, dug, dug, der", mengilhami nama karnaval tersebut, yakni Dhugdheran.


Sumber: Jakarta Post

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Ritual Air Suci di Mata Air Wendit Oleh Warga Suku Tengger Sebelummnya

Ritual Air Suci di Mata Air Wendit Oleh Warga Suku Tengger

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan Selanjutnya

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.