Begini Cara Masyarakat Semarang Sambut Ramadan

Begini Cara Masyarakat Semarang Sambut Ramadan

Warak di karnaval Dugderan Semarang © Sumber: Sorot Nusantara

Ribuan penduduk berbondong-bondong ke pusat kota Semarang, Jawa Tengah, pada hari Sabtu untuk menyambut bulan puasa, yang akan dimulai pada hari Senin.

Mereka bergabung dengan parade jalan Dhugdheran, sebuah tradisi kota yang berasal dari tahun 1881 yang menampilkan Warak (makhluk mitos yang menyerupai naga, kambing, dan unta), yang mewakili leluhur penduduk Semarang.

Karakteristik naga mewakili penduduk keturunan Cina, sedangkan kambing dan unta mewakili mereka yang leluhurnya masing-masing berasal dari Jawa dan Timur Tengah.

Pertunjukan jalanan, Warak, sebuah simbol keserakahan dan kemarahan, menetaskan telur, sebuah simbol kemurnian yang melambangkan semangat Ramadan, mendorong penduduk untuk memerangi keserakahan, kemarahan dan keinginan duniawi lainnya selama bulan suci untuk menyucikan diri mereka.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengambil bagian dalam karnaval tersebut dengan memainkan peran sebagai pemimpin abad ke-19 yang biasanya mengadakan halaqah (konvensi dengan ulama) sebelum memutuskan mulainya Ramadan secara resmi.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menabuh bedug di karnaval Dhugderan | Foto: Suherdjoko / Jakarta Post
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menabuh bedug di karnaval Dhugderan | Foto: Suherdjoko / Jakarta Post

Hendrar memerankan peran sebagai Tumenggung Aryo Purboningrat, bupati Semarang pada tahun 1881, yang memegang halaqah dengan ulama di Masjid Kauman untuk menentukan kapan bulan puasa dimulai.

Pengumuman awal Ramadan kemudian dibawa ke Masjid Agung Jawa Tengah, di mana Kanjeng Mas Raden Tumenggung Probo Hadikusuma - diperankan oleh Ganjar - sedang menunggu.

"Mari kita gunakan bulan ini melakukan perbuatan baik dan memberikan sentimen positif," kata Ganjar setelah membaca hasil halaqah.

Pembacaan tersebut kemudian diikuti oleh suara bedug dan petasan. Suara bedug itu, yang dulunya dideskripsikan oleh penduduk sebagai "dug, dug, dug, der", mengilhami nama karnaval tersebut, yakni Dhugdheran.


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ritual Air Suci di Mata Air Wendit Oleh Warga Suku Tengger Sebelummnya

Ritual Air Suci di Mata Air Wendit Oleh Warga Suku Tengger

Mengenal Lebih Dekat P2P Lending dan Fintech di Indonesia Selanjutnya

Mengenal Lebih Dekat P2P Lending dan Fintech di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.