Ritual Air Suci di Mata Air Wendit Oleh Warga Suku Tengger

Ritual Air Suci di Mata Air Wendit Oleh Warga Suku Tengger
info gambar utama

Sebuah upacara unik baru-baru ini diadakan di Mata Air Wendit di desa Mangliawan, Malang, Jawa Timur.

Upacara Grebek Tengger Tirto Aji tahunan ini dilakukan pada hari Minggu oleh orang-orang dari suku Tengger yang tinggal di desa Ngadas, Poncokusumo, dan Gubuk Klakah di Malang.

Ritual ini secara rutin dilakukan pada bulan kesembilan dari kalender Tengger, yang biasanya sesuai dengan bulan April.

"Ritual ini merupakan bentuk [ungkapan] rasa terima kasih atas kemakmuran, kesehatan, dan kedamaian yang Tuhan berikan kepada kita," kata Tareman, seorang dukun desa di desa Ngadas.

Persembahan yang diarak oleh warga desa | Foto: Aman Rochman / Jakarta Post
info gambar

Upacara dimulai dengan parade persembahan yang terdiri dari buah-buahan dan sayuran yang dipanen dari pertanian lokal, serta nasi kuning dan hidangan tradisional lainnya yang dibentuk menjadi kerucut raksasa dan dihiasi. Persembahan kemudian diarak ke pendhapa, sebuah paviliun dibangun di atas tiang-tiang. Persembahan tersebut kemudian diberkati oleh dukun desa.

Setelah itu, pemerintah daerah seperti kepala desa dan Plt Bupati Malang, Sanusi, memulai ritual mengekstraksi air dari mata air. Penduduk setempat bergantian mengisi botol-botol air. Sementara itu, para peserta menggunakan air untuk mencuci muka dan tangan mereka.

Para peserta dan penduduk setempat mengambil air untuk mencuci muka dan tangan mereka | Foto: Aman Rochman / Jakarta Post
info gambar

Mujianto, kepala desa Ngadas, mengatakan ritual tahunan telah dilakukan sejak 1774. Pada tahun 2016, telah dimasukkan dalam agenda tahunan pemerintah Malang.

“Air di Mata Air Wendit diyakini sebagai air suci yang mengalir dari Gua Widodaren di Gunung Bromo. Air dari situ biasanya digunakan sebagai unsur dalam ritual tradisional Tengger,” kata Mujianto.

Di akhir ritual, penduduk setempat berebut untuk mendapatkan beberapa persembahan untuk dibawa pulang. Biasanya mereka mengambil nasi kuning untuk dimakan di rumah dan untuk diberikan kepada ayam dan bebek mereka di peternakan mereka.

Peserta dan warga lokal yang hadir berebut persembahan | Foto: Aman Rochman / Jakarta Post
info gambar

Warga lokal juga mengambil air suci untuk dicampur dengan persediaan air rumah mereka. Mereka percaya itu akan membawa kesehatan, kemakmuran, dan kelimpahan hasil kebun.

Upacara tersebut menyatukan tiga agama besar di Tengger: Islam, Hindu, dan Budha. Para peserta berdoa bersama untuk persembahan sesuai dengan agama masing-masing.

Upacara tersebut juga mengingatkan penduduk setempat untuk selalu melindungi alam.

“Para dukun desa selalu mengingatkan penduduk setempat untuk hanya mengambil air sebanyak yang dibutuhkan, serta selalu melestarikan lingkungan, terutama hutan, untuk menjaga pasokan air tetap aman untuk generasi berikutnya,” kata Mujianto.


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini