'Mantiq Attair', Karya Sogan dan Rajah Melenggang di Muffest 2019

'Mantiq Attair', Karya Sogan dan Rajah Melenggang di Muffest 2019
info gambar utama

Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST) berlangsung hingga Sabtu, 4 Mei 2019 di Jakarta Convention Center (JCC). Ajang peragaan busana muslim ini menghadirkan para desainer muslim Tanah Air, tak terkecuali Yogyakarta.

Salah satu perwakilan dari Tanah Gudeg ini yakni featuring antara Sogan Batik dan Batik Rajah yang kedua batik tersebut dinakhodai oleh Iffah M. Dewi selaku owner Sogan Batik dan Kaji Habeb selaku pemilik Batik Rajah.

Dalam ajang MUFFEST 2019 kali ini, Iffah M. Dewi dan kaji Habeb menampilkan karya yang bercerita tentang kisah seorang penyair asal Nisyapur, Persia, Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau lebih dikenal dengan Fariduddin Attar.

"Fariduddin adalah seorang sufi sekaligus guru yang melahirkan banyak karya syair yang terkenal sampai saat ini," kata Iffah, sapaan akrab Iffah M. Dewi, Jumat (3/5).

Ia mengungkapkan, salah satu syair yang terkenal karya Fariduddin Attar berjudul Mantiq Attair. "Di dalam karya kami ini menggambarkan sebuah kisah perjalanan spiritualnya yang dituliskan dalam kitabnya Mantiq Attair," ujarnya.

Iffah dan Kaji Habeb mencoba menarasikan syair sufi tersebut ke dalam sebuah pakaian dengan menggunakan batik cap khas Jogja berwarna hitam, coklat, dan merah, dikombinasikan dan batik tulis dengan banyak warna.

Karya tersebut diolah dengan elemen-elemen kisah Fariddudin Attar dan berbagai pernik perjalanan hidupnya yang digambarkan olehnya dengan perjalanan sekawanan burung yang berkelana jauh mencari Simurhg, Raja Agung yang mereka rindukan di Gunung Qaf.

Lanjut kisah, burung Hud-hud sebagai pemimpin sekawanan burung itu dalam perjalanan menembus langit, menyeberangi lautan, gunung, lembah, dan gurun.

Mereka dihadapkan pada tujuh lembah pengujian yakni lembah pencarian, cinta, keinsyafan, kebebasan, keesaan murni, keheranan/takjub, dan ketiadaan.

Bertahun-tahun perjalanan suci itu ditempuh bersama ribuan burung, namun hanya tiga puluh saja yang berhasil menemui Simurgh di Istananya.

Mereka akhirnya tiba di gerbang Istana, kemudian memasukinya dan ternyata dalam istana itu kosong, tidak ada siapapun ada didalamnya, kecuali mereka sendiri yang menyadari bahwa kebertuhanan ada didalam diri masing masing.

"Kisah ini kami gambarkan dengan warna warna khas Persia kuno, yaitu dominan merah, hitam, coklat dan beberapa warna warna cerah, seperti kuning, pink, biru," paparnya.

Kaji Habeb sebagai seniman lukis di dalam karya mereka mengatakan, syair Mantiq Attair sangat menarik, karena kisah tersebut memuat simbol-simbol perjalanan spiritual manusia menuju insan kamil.

"Pencarian, perjalanan, menuju kesejatian memang berat dan membutuhkan kesabaran dan pengendalian diri dan hawa nafsu," ujarnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CK
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini