Menyambut Ramadan ala Masyarakat Klaten

Menyambut Ramadan ala Masyarakat Klaten
info gambar utama

Tradisi asal Pulau Jawa nyadran merupakan sebuah ritual yang dirayakan oleh penduduk desa Krapyak di Jogonalan, Klaten di Jawa Tengah. Penduduk desa yang bekerja di luar desa pulang ke rumah untuk acara tahunan ini, yang diadakan setiap tahun selama beberapa hari sebelum bulan puasa Ramadhan.

Nyadran adalah sebuah ritual ketika penduduk desa membersihkan kuburan leluhur mereka dan bersatu kembali dengan anggota keluarga.

Pada hari Minggu, 28 April, hujan turun dengan deras di desa. Tapi nyadran harus tetap dijalankan. Warga desa sudah menyiapkan makanan, buah-buahan, telur, ayam, dan makanan ringan dalam kotak kayu panjang yang disebut jodang.

Penduduk desa membawa jodang | Foto: Magnus Hendratmo / Jakarta Post
info gambar

Pada siang hari, hujan berhenti dan orang-orang berkeliaran di jalan-jalan untuk pergi ke Pemakaman Krapyak. Ratusan jodang disusun di sepanjang jalan utama sementara keluarga berkumpul di sekitar jodang tersebut.

Nyadran dimulai dengan membersihkan kuburan dan menebarkan bunga di kuburan. Doa dan makan bersama mengikuti ritual.

Yang membuat nyadran di Krapyak istimewa adalah pemandangan reruntuhan candi yang tersebar di sekitar kuburan. Setiap kali penduduk desa menyiapkan makam dan penggalian baru, mereka akan menemukan sisa-sisa masa lalu: batu-batu candi yang saling bertautan.

Seorang warga yang sedang mendoakan anggota keluarganya pada ritual Nyadran | Foto: Magnus Hendratmo / Jakarta Post
info gambar

Penduduk desa, Setyo Purwanto, 45, mengatakan bahwa mereka sering menemukan artefak di desa mereka, yang terletak di sebelah Sungai Woro, hulu di antaranya mengalir dari puncak Mt. Merapi. Dia mengatakan sisa-sisa kuil tak dikenal juga ditemukan di sepanjang sungai. Setyo menduga bahwa di bawah kuburan terdapat kuil-kuil suci dari zaman Mataram Kuno, yang menyaksikan dinasti Hindu dan Budha.

Bagi penduduk desa, nyadran adalah cara untuk melestarikan budaya Jawa. Namun, itu juga menyenangkan, terutama bagi anak-anak yang berlomba menuju makanan sambil bersenang-senang dan tertawa.


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini