Hanya Rafflesia di Hati Sofi Mursidawati

Hanya Rafflesia di Hati Sofi Mursidawati
info gambar utama
  • Rafflesia merupakan bunga berumah dua yang hanya memiliki satu jenis alat kelamin [putik saja atau benang sari saja]. Hanya ada satu bunga pada satu tanaman
  • Di Indonesia, ada 13 jenis Rafflesia, dari 30 spesies di dunia, yang dilindungi pemerintah berdasarkan peraturan 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi
  • Tumbuhan yang tersebar di hutan Sumatera, sebagian Kalimantan dan Jawa ini merupakan indikator alami ekosistem hutan yang baik. Puspa ini hanya tumbuh pada habitat hutan yang masih utuh, alami, dan belum terganggu
  • Januari 2018, telah dibentuk Forum Rafflesia dan Amorphophallus Indonesia [Foramor Indonesia], wadah komunikasi pelestarian jenis Rafflesia dan Amorphophallus

Rafflesia, nama yang sering disebut. Flora membanggakan ini merupakan puspa langka nasional yang digunakan juga sebagai lambang Taman Nasional Kerinci Seblat. Di Indonesia, ada 13 jenis Rafflesia, dari 30 spesies di dunia, yang dilindungi pemerintah berdasarkan peraturan P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

13 jenis ini adalah rafflesia raksasa [Rafflesia arnoldii], rafflesia bengkulu [Rafflesia bengkuluensis], rafflesia gadut [Rafflesia gadutensis], tindawan biring [Rafflesia hasseltii], rafflesia lawang [Rafflesia lawangensis], rafflesia Meyer [Rafflesia meijeri], rafflesia mulut kecil [Rafflesia micropylora], rafflesia Prise [Rafflesia pricei], perud kibarera [Rafflesia rochussenii], bunga patma [Rafflesia tuan-mudae], patma/kembang banyu [Rafflesia zollingeriana], patma sari [Rafflesia patma], dan rafflesia kemumu [Rafflesia kemumu].

Rafflesia merupakan bunga berumah dua yang berarti hanya memiliki satu jenis alat kelamin [putik saja atau benang sari saja]. Hanya ada satu bunga pada satu tanaman. Rafflesia tidak dapat melakukan penyerbuan sendiri, secara alami serbuk sari akan terbawa oleh perantara.

Rafflesia arnoldii yang mekar di wilayah Bukit Kaba, Rejang Lebong, Bengkulu, Kamis [5/4/2018] | Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia
info gambar

Beberapa penelitian menyebutkan, ada beberapa jenis lalat yang membantu penyerbukan pada jenis Rafflesia zollingeriana. Sebut saja lalat hijau [Lucilia sp.], lalat biru [Protocalliphora sp.], lalat bercak kehitaman/abu-abu [Sarcophaga sp.], lalat buah [Drosophila sp.], dan lalat bermata hijau [Tabanus sp.].

Sementara, fauna yang berperan sebagai penebar biji adalah rayap tanah [famili Rhinotermidae], semut merah [famili Formicidae], babi hutan [Sus scrofa L], landak [Hystrix brachyura L], tupai [Tupaia glis] dan muntjak [Muntiacus muntjak]. Babi dan kijang sebagai penebaran biji yang tumbuh di akar, untuk tupai [Tupaia tana] dan semut penebar biji wilayah batang.

Selain butuh bantuan penyerbukan, Rafflesia nyatanya tergolong holoparasit, hidupnya seratus persen bergantung pada inang. Jenis tumbuhan merambat tetrasigma [Tetrasigma sp] merupakan inangnya yang tercatat ada 10 jenis yaitu T. tuberculatum, T. curtisii, T. pedunculare, T. Scortechinii, T. diepenhorstii, T. papillosum, T. quadrangulum, T. glabratum, T. harmandii, dan T. loheri.

Rafflesia bengkuluensis yang mekar pada 21 Januari 2015 di Desa Manau Sembilan, Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur, Bengkulu | Foto: Noprianto
info gambar

Apa peran penting Rafflesia? Tumbuhan yang tersebar di hutan Sumatera, sebagian Kalimantan dan Jawa ini merupakan indikator alami ekosistem hutan yang baik. Puspa ini hanya tumbuh pada habitat hutan yang masih utuh, alami, dan belum terganggu, meski pada beberapa individu ditemukan di hutan sekunder.

Upaya bersama pun dilakukan berbagai pihak demi menyelamatkan bunga terbesar di Indonesia ini. Januari 2018, telah dibentuk Forum Rafflesia dan Amorphophallus Indonesia [Foramor Indonesia], wadah komunikasi pelestarian jenis Rafflesia dan Amorphophallus.

Tujuannya, mendorong kerja sama antar-pemangku kepentingan untuk mewujudkan pelestarian Rafflesia dan Amorphophallus berkelanjutan di Indonesia. Forum ini dibuat setelah ada Strategi dan Rencana Aksi Konservasi [SRAK] Rafflesia dan Amorphophalus tahun 2015-2015 yang dikeluarkan pada September 2015.

Bonggol atau calon bunga Rafflesia arnoldii ini terpantau di wilayah Sukaraja, Lampung. Rafflesia arnoldii merupakan puspa kebanggaan Indonesia | Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia
info gambar

Sofi Mursidawati, peneliti Rafflesia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI] yang juga Ketua Foramor Indonesia dan Kurator Koleksi Rafflesia di Kebun Raya Bogor menceritakan harapannya tentang masa depan Rafflesia di Indonesia.

Berikut wawancara Mongabay Indonesia dengan Sofi Mursidawati saat pembuatan Rencana Jangka Panjang [RPJPn] Taman Nasional Kerinci Seblat sekaligus penyebaran informasi Foramor Indonesia dan Konservasi Rafflesia di Sumatera, Rabu [24/4/2019].

Sofi memotret Rafflesia patma di Kebun Raya Bogor pada 2018 | Foto: Dok. Sofi Mursidawati
info gambar

Mongabay: Ada berapa jenis Rafflesia saat ini dan di mana saja terpantau?

Sofi: Raflesia di Indonesia secara keseluruhan ada sekitar 12-13 jenis, tetapi tidak semua terpantau dengan baik. Rafflesia yang paling banyak terdeteksi di Bengkulu karena memang ada ahlinya di sini, Agus Susatya dari Universitas Bengkulu.

Dia concern terhadap Rafflesia yang ada di Bengkulu, sehingga terperhatikan dengan baik dibanding tempat lain. Selain di Bengkulu, juga ada di Sumatera Utara, Padang, dan Lampung, namun belum semua tergali.

Mongabay: Bagaimana kondisi dan ancaman Rafflesia saat ini?

Sofi: Secara alami jenis ini memang tergolong langka, tahun ke tahun yang sering terpantau menunjukkan ada penurunan karena habitatnya terdegradasi. Tidak bisa dihindari bila habitat rusak, raflfesia akan punah, seperti memutus mata rantai, karena Rafflesia sangat tergantung dengan ekosistemnya.

Ancaman paling utama adalah aktivitas manusia. Di Bengkulu, Rafflesia banyak tumbuh di pinggir jalan provinsi, masyarakat sangat mudah untuk melihat dan masuk ke lokasi, karena menjadi daya tarik. Namun juga menjadi ancaman, karena tidak semua pengunjung punya etika yang baik, bisa jadi akibat ketidaktahuan.

Contoh kasus, saat swafoto dengan rafflesia, justru akar-akar yang menjadi tempat tumbuhnya Rafflesia diinjak-injak. Kesadaran untuk melestarikan dan menjaga habitat Rafflesia belum tumbuh.

Rafflesia meijerii yang telah melewati masa mekar di Taman Nasional Batang Gadis | Foto: Jhon Marthali Simamora
info gambar

Mongabay: Apa yang membuat Rafflesia begitu menarik?

Sofi: Bunga ini merupakan bunga paling besar di dunia. Bila bertanya ketertarikan jenis ini pada orang asing, mereka tidak hanya melihat seperti memandang fenomena alam yang langka. Berbeda dengan ketertarikan orang Indonesia yang masih bertumpu pada besar dan warna. Pola pikirnya berbeda.

Mongabay: Bisa dijelaskan tentang forum Rafflesia?

Sofi: Forum Foramor Indonesia baru diresmikan Februari 2018. Dokumen sudah berlaku karena ada SK dari menteri. Diharapkan, SK ini menjadi panduan rencana kedepan dan dasar kerja Rafflesia.

Anggota Foramor Indonesia terdiri beberapa elemen masyarakat, LSM, universitas, lembaga penelitian, dan pemerintah daerah. Terutama pemerintah daerah di Bengkulu, kami sudah bekerja sama dengan baik, karena sudah mengadakan simposium internasional Rafflesia arnoldi dan Bunga Bangkai di Bengkulu, 2015 lalu.

Salah satu habitat Rafflesia meijerii di zona rimba di Taman Nasional Batang Gadis | Foto: Jhon Marthali Simamora
info gambar

Mongabay: Bagaimana perkembangan SRAK Rafflesia dan Amorphophalus saat ini?

Sofi: SRAK Rafflesia dan Amorphophalus masih terus kami sosialisasikan karena forum juga baru terbentuk. Saya diundang Taman Nasional Kerinci Seblat sekaligus sebagai mengenalkan forum dan SRAK. “Ini lho ada SRAK Rafflesia dan Amorphophalus, dan ini adalah SRAK pertama tumbuhan, tanaman lain belum ada.”

Dengan mendengarkan rencana jangka panjang TNKS dan segala kesulitan mencari Rafflesia hingga dekat jurang, satu sisi saya senang karena tidak terjangkau dan dapat menjadi cadangan masa depan karena tidak banyak gangguan. Di tempat lain gangguan terhadap Rafflesia sangat tinggi.

Mongabay: Bagaimana gairah peneliti Rafflesia di Indonesia?

Sofi: Peneliti Rafflesia harus memiliki waktu dan tenaga besar, disamping juga biaya. Penelitian yang paling menjanjikan adalah riset taksonomi menemukan jenis baru. Meskipun membutuhkan waktu cukup lama dan banyak tantangan karena perlu pengakuan dunia.

Saya yang bekerja di dunia konservasi ex situ, butuh enam tahun untuk bisa memindahkan Rafflesia ke habitat baru. Peneliti lain yang ditargetkan menghasilkan banyak publikasi tidak mungkin harus menunggu waktu selama ini.

 Rafflesia adalah nama yang terukir di hati Sofi Mursidawati | Foto: Fransisca N Tirtaningtyas/Mongabay Indonesia
info gambar

Mongabay: Apa yang harus dilakukan kedepan agar penemuan jenis baru atau penelitian lebih banyak?

Sofi: Harus memiliki dan menumbuhkan kecintaan terhadap jenis ini, mungkin bisa dimulai dari staf taman nasional yang sudah ada informasi keberadaan Raffesia. Mereka bisa memantau keberadaan jenis tumbuhan inang lebih dulu atau langsung mengidentifikasi Rafflesia yang mekar. Harusnya, pekerjaan ini lebih mudah karena dilakukan banyak orang.

Mongabay: Harapan Anda untuk kelestarian Rafflesia?

Sofi: Saya selalu berharap Rafflesia tetap milik Indonesia. Negara lain yang juga memiliki Rafflesia adalah Malaysia dan telah sukses mengenalkan ke dunia internasional sebagai satu ikon pariwisatanya. Mereka menggaungkan Rafflesia melalui pariwisata.

Indonesia sendiri tidak kalah menarik, jenis Rafflesia juga banyak. Meskipun, tempat penemuannya banyak di hutan, namun di beberapa lokasi seperti di Batang Palupu, Padang, sangat dekat permukiman. Potensi ini harusnya bisa dikembangkan untuk pariwisata. Jangan kalah dengan negara lain.

Literatur:

Marthali, S.J., Zuhud, E., Agus, H. 2017. Ekologi dan Konservasi Rafflesia meijerii Wir. & Sari di Taman Nasional Batang Gadis Sumatera Utara. Thesis. Falultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

Ramadhani, D.N. 2016. Populasi dan Kondisi Lingkungan Rafflesia (Rafflesia Arnoldii) di Rhino Camp Resort Sukaraja Atas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.


Sumber: Ditulis oleh Fransisca N Tirtaningtyas dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini