5 Cara PINTAR Kembangkan Calon Guru Berbudaya Baca

5 Cara PINTAR Kembangkan Calon Guru Berbudaya Baca

Ruang tunggu LPPM UIN Suska Riau menjadi tempat selasar membaca untuk mahasiswa

Program PINTAR atau Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran, yang dikembangkan Tanoto Foundation bekerja sama dengan Kemdikbud, Kemenag, dan Kemrinstekdikti, telah melatih 252 dosen pedagogi untuk menyiapkan calon guru yang berbudaya baca.

Pelatihan yang berlangsung dari Januari-Maret 2019 ini memfasilitasi para dosen mengembangkan beragam kegiatan budaya baca dan menerapkan perkuliahan yang menekankan pada kegiatan praktek.

Program PINTAR sudah diimplementasikan di 10 LPTK yang tersebar di lima provinsi, yaitu Universitas Mulawarman, IAIN Samarinda (Kalimantan Timur), Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), UIN Walisongo (Jawa Tengah), Universitas Jambi, UIN Sultan Thaha Saifuddin (Jambi), Universitas Riau, UIN Sultan Syarif Kasim (Riau), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, dan UIN Sumatera Utara.

Berikut adalah lima cara yang dilakukan oleh LPTK Mitra Program PINTAR untuk memastikan para mahasiswa calon guru memiliki budaya membaca.

Mahasiswa PGSD membaca setiap hari

Implementasi hasil pelatihan Program PINTAR sudah mulai dirasakan mahasiswa dalam perkuliahan. Seperti yang dilakukan oleh Dr. Yantoro, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Jambi (UNJA).

Sebelum perkuliahan dimulai, dia mengajak mahasiswanya membaca senyap. Mahasiswa membaca buku atau bahan bacaan yang disediakan selama 15 menit.

”Kegiatan ini oleh-oleh dari pelatihan Tanoto Foundation. Saya ingin membiasakan mahasiswa membaca buku atau bahan bacaan perkuliahan,” tukasnya.

Pada kegiatan membaca senyap tersebut, mahasiswa diperbolehkan membaca buku dari gawai pintar yang mereka miliki. Mereka bisa mengunduh buku-buku bacaan tersebut dari elektronik file yang diberikan melalui aplikasi WhatsApp.

“Yang terpenting kegiatan ini bisa membuat mahasiswa terbiasa dan senang membaca. Mereka akan menjadi guru yang mengajak siswanya untuk senang membaca, sehingga mahasiswa perlu ditumbuhkan kesenangan membaca buku,” ujar Yantoro, yang juga mengaku program membaca ini diterapkan untuk mahasiswa Pascasarjana.

Mahasiswa ternyata merespons positif kegiatan ini. Mereka merasa minat bacanya dibangunkan setelah lama tertidur.

“Kegiatan membaca senyap ini membuat saya menjadi lebih fokus dalam membaca. Saya sudah merasakan dampaknya, sehingga kalau saya menjadi guru, saya akan menerapkan membaca senyap ini untuk siswa-siswa saya,” kata Putri Bekti WR, mahasiswa PGSD UNJA.

Membaca minimal lima buku

Untuk membiasakan mahasiswa calon guru senang membaca, Arsinah Sadar M.Si, dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Samarinda, Kalimantan Timur, menargetkan mahasiswa minimal membaca lima buku pada mata kuliahnya di satu semester. Dia berusaha mengintegrasikan mata kuliahnya dengan literasi.

“Jadi setiap mata kuliah, saya berusaha integrasikan dengan budaya baca. Saya juga telah kenalkan pada mereka membaca senyap yang telah dikenalkan oleh Tanoto Foundation waktu pelatihan,” ujarnya.

Tidak hanya membaca, para mahasiswa juga diminta berbagi isi buku yang dibaca di depan teman-temannya. Hal ini untuk menguatkan pemahaman mahasiswa terhadap isi buku yang mereka baca.

Buat selasar baca di ruang tunggu kampus

Membuat mahasiswa mau membaca maka buku perlu didekatkan dengan mahasiswa. Ide tersebut yang membuat Dr. Sukma Erni, Dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, membuat selasar baca di ruang tunggu LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UIN Suska Riau.

Untuk merealisasikannya, Sukma membuat pertemuan kecil antara beberapa teman dosen di LPPM dan mahasiswa. Ide dari pertemuan tersebut adalah membuat leaflet digital untuk sedekah buku bacaan.

Program selasar buku ini perlu dukungan buku-buku bacaan yang menarik. Leaflet tersebut disebar melalui media sosial WhatsApp grup kampus.

Ternyata banyak dosen dan mahasiswa yang mendukung. Terbukti dengan lebih dari 100 buku yang terkumpul. “Kami langsung merealisasikan selasar baca di ruang tunggu LPPM,” katanya.

Setelah dibuka, respons mahasiswa sangat antusias. Sambil menunggu di ruang tunggu LPPM, mereka bisa membaca buku-buku yang menarik. Novel menjadi buku favorit yang dibaca mahasiswa.

“Dengan adanya selasar baca ini, saya berharap mahasiswa menjadi semakin tertarik dengan buku-buku bacaan yang variatif sehingga waktu senggang dimanfaatkan untuk membaca,” imbuhnya.

Perkuliahan di perpustakaan

Di UIN Sumatra Utara, Dr. Tien Rafidad dosen FITK, juga mengajak mahasiswanya rutin mengunjungi perpustakaan fakultas. Menurutnya, para mahasiswa calon guru masih jarang mengunjungi perpustakaan.

Untuk itu dalam perkuliahan bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG), dia mengajak para calon guru tersebut untuk belajar dan menumbuhkan budaya baca di perpustakaan.

“Kegiatan perkuliahan juga kami lakukan di perpustakaan fakultas. Mahasiswa diminta membaca beberapa buku yang relevan. Dengan diawali kegiatan membaca, mahasiswa memiliki bekal pengetahuan, sehingga mereka menjadi lebih aktif berdiskusi dalam perkuliahan,” ujarnya.

FITK UINSU juga mengembangkan pojok literasi atau sudut baca. Mahasiswa bisa membaca buku-buku bacaan yang disediakan di pojok literasi tersebut. Ini adalah upaya UINSU menumbuhkan minat membaca mahasiswa para calon guru.

Membaca dalam perkuliahan

Kegiatan budaya baca dalam perkuliahan juga dilakukan oleh Sri Haryati, M.Pd dosen Bahasa Inggris FKIP Universitas Sebelas Maret.

Beliau mengembangkan intensive reading (membaca teks pendek) dan extensive reading (membaca secara luas dan banyak) pada perkuliahan Business English Writing (BEW).

“Dalam perkuliahan saya membiasakan mahasiswa membaca buku bacaan. Lalu dengan teknik literature circle mahasiswa menceritakan kembali buku yang dibaca dan ada proses tanya jawab di situ. Di akhir semester, saya meminta mahasiswa membuat poster presentation berdasarkan buku yang sudah dibaca,” terangnya.


Sumber: Universitas Jambi, IAIN Sumarinda, UIN Sumatera Utara, Universitas Sebelas Maret, UIN Suska Riau, dan Tanoto Foundation

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Asyik! Kereta Bandara ke YIA Sudah Mulai Beroperasi Nih... Sebelummnya

Asyik! Kereta Bandara ke YIA Sudah Mulai Beroperasi Nih...

50 Tahun Pendaratan Manusia Pertama di Bulan, dan Era Space Race Baru Selanjutnya

50 Tahun Pendaratan Manusia Pertama di Bulan, dan Era Space Race Baru

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.