Budidaya Vanili Organik di Sota ala Petrus Ndiken

Budidaya Vanili Organik di Sota ala Petrus Ndiken

Petrus Ndiken, pemuda asal Kampung Sota, Merauke, dengan latar belakang kebun vanili. Dia giat, mengembangkan vanili di Kabupaten Merauke dengan pola tanam organik © Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

  • Kampung Sota, berada di dalam Taman Nasional Wasur, Papua. Warga menggantungkan hidup pada hasil bumi secara tradisional seperti keladi, pisang, sagu, petatas, jagung, nangka, mangga, nenas, dan ketela pohon. Juga berbagai sayuran seperti seperti kol, sawi, tomat, cabai dan lain-lain.
  • Petrus Ndiken, pemuda Sota, tergerak budidaya vanili karena melihat di tetangga sebelah, PNG, tanaman ini berkembang dan menghasilkan nilai ekonomi menjanjikan. Satu lagi, tanam vanili berarti tanam pohon karena tanaman ini hidup mesti menumpang pepohonan untuk merambat.
  • Petrus pun mulai menyemai bibit dan menanamnya di pekarangan rumah dengan pola tanam organik, tanpa pupuk kimia, tetapi memanfaatkan pupuk kandang dan dedanunan tua.Menanam vanili juga diikuti warga lain, bahkan Petrus mendampingi beberapa kampung dalam mengembangkan ‘emas hijau’ yang bernilai jutaan perkg ini.

Sota, begitu nama kampung yang masuk Taman Nasional Wasur, Merauke, Papua ini. Kampung yang tepat di Tugu Nol Kilometer itu, berbatasan dengan Papua New Guinea (PNG) ini berlahan subur. Beragam tanaman pangan tumbuh dari petatas, kombili, pisang, sagu, sukun dan lain-lain.

Urbanus Bohoji, Kaur Pembangunan Kampung Sota, menyebut, Kampung Sota, ada sekitar 425 keluarga. Mereka menggantungkan hidup pada hasil bumi secara tradisional seperti keladi, pisang, sagu, petatas, jagung, nangka, mangga, nenas, dan ketela pohon. Juga berbagai sayuran seperti seperti kol, sawi, tomat, cabai dan lain-lain.

Adalah pemuda Petrus Ndiken. Melihat lahan subur, muncul keinginan mengembangkan vanili. Niatan ini berawal kala sang ayah ke PNG dan melihat vanili tumbuh subur di sana. Vanili mempunyai nilai ekonomi tinggi. Sesama satu daratan, dia berpikir, di Sota juga bisa lakukan hal serupa. Petrus pun melanjutkan keinginan sang ayah.

Dia bilang potensi sangat berlimpah, dengan tanah sangat subur. Petrus pun mencoba menanam vanili di pekarangan rumah.

Tampak vanili di sela-sela tanaman ‘penjaganya’. Di lahan yang masih tersisa, warga tumpang sari dengan beragam tanaman seperti ketela pohon, jagung, keladi, pisang dan lain-lain. Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia
Tampak vanili di sela-sela tanaman ‘penjaganya’. Di lahan yang masih tersisa, warga tumpang sari dengan beragam tanaman seperti ketela pohon, jagung, keladi, pisang dan lain-lain | Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

Dia memulai bikin tempat persemaian semacam kotak seluas 3 x3 dan ditutup rapat dengan paranet–semacam kelambu untuk menghindari sinar matahari langsung.

Di belakang rumah, dia bikin bangunan serupa untuk tanaman yang telah bertunas . Di sebelahnya lagi ada bedeng seluas 2×6 meter. Di setiap bedengan ditancapkan bibit gliresida ini. Petrus menanam vanili secara organik, tanpa pupuk kimia.

Pada tiap tegakan, dia tanam pohon guna membantu vanili merambat. Di setiap pohon, dia tabur arang kayu, abu tungku kotoraan ternak juga dedaunan dari pohon gliresida.

Vanili tumpang sari dengan tanaman gamal (gliresida), katanya, berikan banyak manfaat. Daun gliresida sangat membantu humus tanah dan bisa lindungi vanili dari sinar matahari langsung, sekaligus memasok air bersih untuk tanaman ini.

Petrus bilang, bertanam vanili sangat bagus, selain menjaga tanah Marind juga bisa menghasilkan nilai ekonomi. “Ini sesuatu untuk generasi ke depan, memberikan keuntungan lebih dan menjaga warga jangan terlalu memanfaatkan pupuk kimia,” katanya.

Kala kuliah di salah satu kampus di Jakarta, dia bertekad harus berbuat hal baru di kampung. Setelah kuliah, dia kembali ke kampung halaman. Dia pun merangkul kaum muda bertanam vanili. Awalnya, Petrus bergabung dengan kelompok ojek, dan karang taruna tetapi upaya mengajak mereka belum sukses. Dia pun coba tanam sendiri. “Tahun awal warga belum merespon karena mereka belum tahu manfaatnya. Tahun berikutnya, warga tahu bahwa prospek sangat bagus,” katanya.

Belakangan dia mulai menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Merauke, Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, dana sosial BRI, Balai Taman Nasional Wasur, Dinas Pariwisata, sampai Dinas Perindustrian, maupun Kantor Karantina Pertanian. Aparat Kampung Sota, Distrik Sota, begitu antusias.

Mereka meminta warga menyiapkan lahan untuk mengembangkan vanili dengan dampingan Petrus. “Sekarang hampir semua jalur di Sota, sudah kembangkan tanaman ini.”

Petrus dan keluarga sedang membawa bibit vanili hasil semaian mereka | Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

Kampung lokal dampingan Petrus, antara lain, Kampung Yanggadur, Onggaya, Toray, Baidup, Bupul. Ia masuk dalam program anggaran belanja kampung.

Petrus mengajak 80 warga memulai mengembangkan vanili. Dia mulai bentuk kelompok usaha pertanian lokal, termasuk pengurus kelompok usaha vanili Kampung Sota. Dia mengajak juga tukang ojek dan karang taruna.

Dia dan keluarga merasakan hasil vanili sangat membantu. Petrus menjual vanili basah ke Jayapura perkg Rp 4 jutaan. Kalau di Sota Rp1 jutaan dan Merauke, Rp2 jutaan perkg, bahkan di Surabaya sampai Rp5 jutaan per kg. Harga vanili kering lebih mahal, di Sota, saja perkg sekitar Rp8 juta. Sampai ada istilah, vanili sebagai emas hijau (green gold).

Petrus sempat berkomunikasi dengan pengusaha vanili yang ingin membeli hasil panen vanili. Dia juga meminta Pemerintah Merauke, membuka jalan pemasaran vanili produksi warga.

Petrus pun bergabung dalam Perkumpulan Petani Vanili Indonesia, yang baru terbentuk Desember 2018 di Bondowoso, Jawa Timur. Dari sana, dia banyak mendapatkan berbagai informasi seputar bisnis tanaman ini.

Dia berupaya berpikir jangka panjang. Orang Merauke, dan Papua, harus mandiri, dengan mengembangkan potensi yang ada, salah satu vanili.

Gunawan Setijadi, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian, Perkebunan, Hotikultura Kabupaten Merauke bilang, sekitar 13 hektar pekarangan rumah tanam vanili. Daripada lahan warga Sota terlantar, katanya, mereka mendorong tanam vanili.

Meskipun begitu, Setjadi menyadari kalau kampung itu masuk Taman Nasional Wasur, hingga tak bisa begitu saja memperluas lahan tani. Dia membatasi warga buka lahan sampai 14 hektar saja, kecuali di luar taman nasional.

Musdar, Kepala Kantor Karantina Tanaman Merauke, sudah melihat warga bertanam vanili, dan sangat bagus. Karantina, katanya, mengawasi dana meneliti soal bibit dari PNG guna memastikan tak ada terkandung penyakit.

“Kami terus memantau tanaman dari PNG hingga pertumbuahan. Jangan sampai penyakit dari PNG menyerang tanaman kita,” katanya.

Petrus juga menyadari hal itu. Mereka harus hati-hati menggunakan bibit. Untuk itulah, dia menggalakkan persemaian bibit vanili agar warga atau petani lain menggunakan bibit-bibit semaian di Sota.

vanili, telah bertunas di lokasi tersendiri, karena hewan penggangu dan pencurian bibit | Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia


Sumber: Ditulis oleh Agapitus Batbual dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga36%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi57%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Makna Apem dan Kolak Dijelaskan Pada Tradisi Apeman Sebelummnya

Makna Apem dan Kolak Dijelaskan Pada Tradisi Apeman

Merayakan Keberagaman dengan Jamuan dari Hutan Selanjutnya

Merayakan Keberagaman dengan Jamuan dari Hutan

0 Komentar

Beri Komentar