Indahnya Perbedaan: Vihara di Malang Ini Berbagi Makanan Berbuka Pada Saudara Muslim yang Berpuasa

Indahnya Perbedaan: Vihara di Malang Ini Berbagi Makanan Berbuka Pada Saudara Muslim yang Berpuasa
info gambar utama

Komunitas Budha Paguyuban Metta dari vihara Sanggar Suci di Malang, Jawa Timur, membagikan nasi soto, es campur, teh hangat, dan makanan ringan di halaman dekat Jl. Dr. Wahidin pada hari Senin sore.

Sejak pukul 4:30 sore, penduduk setempat serta para wisatawan yang kebetulan berada di daerah itu, berbondong-bondong ke tempat itu untuk mendapatkan makanan gratis.

"Distribusi makanan buka puasa selama 30 hari Ramadan telah menjadi tradisi sejak dimulai pada tahun 1998," kata penasihat komunitas, Winantea Listiahadi yang berusia 72 tahun, di Malang, Selasa.

"Lima belas tahun yang lalu, kegiatan itu diadakan di halaman vihara, tetapi karena kerumunan besar, sejak itu telah dipindahkan ke ruang kosong di dekat vihara."

Winantea menambahkan bahwa piring gratis untuk membatalkan puasa awalnya diberikan pada tahun 1998 untuk membantu penduduk setempat mengalami kesulitan keuangan setelah krisis ekonomi di Indonesia.

Warga yang mengantre untuk makanan berbuka gratis yang disajikan oleh vihara | Foto: Aman Rochman / Jakarta Post
info gambar

"Kami telah mempertahankan tradisi itu sampai sekarang. Awalnya, sekitar 60-80 orang akan datang setiap hari selama bulan Ramadan, tetapi angkanya kemudian meningkat menjadi 100 sehari," katanya, seraya menambahkan bahwa komunitas Buddhis datang dengan uang untuk [membeli] makanan tersebut karena mereka bertujuan untuk mengekspresikan cinta mereka kepada tetangga Muslim mereka.

"Kami memastikan semua makanan dan peralatan memasak halal dengan melibatkan tetangga Muslim kami ketika menyiapkan makanan atau memesannya dari pihak ketiga. Pada hari terakhir Ramadhan, kami biasanya menyediakan nasi kuning dan memberi selamat kepada umat Islam yang merayakan Idul Fitri."

"Saya kebetulan lewat dari Malang ke Pasuruan dan melihat penduduk setempat berbaris. Saya kemudian berhenti berbuka puasa dengan makanan yang disediakan," kata Yuniarti, pengunjung yang tinggal di Purwodadi.

Sementara itu, Suprayitno yang berusia 37 tahun mengatakan dia biasanya mengunjungi tempat itu setelah bekerja untuk berbuka puasa. "Bagi saya, kegiatan seperti itu sangat membantu; Saya biasanya meminta anggota komite untuk mengepak makanan untuk saya bawa pulang."


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini