Melihat Proses Pembuatan Cokelat di Cau

Melihat Proses Pembuatan Cokelat di Cau

Pemandu di Cau Chocolate menjelaskan tentang budidaya kakao pada pengunjung © Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

  • Cau Chocolate memberikan pengalaman perjalanan menelusuri rantai nilai kakao mulai dari kebun sampai menjadi cokelat batangan siap santap
  • Indonesia memiliki tiga jenis varietas kakao yaitu kriolo, forastero, dan trinitario dengan ciri khas dan keunikan masing-masing
  • Tidak hanya berbisnis, Cau Chocolate juga berusaha meningkatkan pendapatan petani melalui pertanian organik dan kelompok tani
  • Menu es krim cokelat di atas kerapas buah kakao menjadi menu unik dan melengkapi cokelat batangan siap saji sebagai oleh-oleh bersama pengetahuan tentang rantai nilai produk global kakao.

Aroma bubuk cokelat menguar ketika masuk kawasan Cau Chocolate di Desa Cau, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Aroma biji kakao kering juga lamat-lamat tercium di antara kuatnya aroma buku itu.

Chau Chocolate adalah pabrik cokelat di desa berjarak sekitar 35 km dari Denpasar ke arah utara ini. Namun, tak sekadar tempat mengolah kakao menjadi cokelat siap santap, tempat ini juga menyajikan pengalaman perjalanan kakao dari kebun hingga menjadi salah satu santapan paling populer dunia.

Habibur Rahman, pemandu di Cau Chocolate, menyambut kami ketika berkunjung ke sini beberapa waktu lalu. Sebagai pemandu, laki-laki yang akrab dipanggil Abi ini juga menjelaskan informasi lebih lanjut tentang kakao.

Perjalanan di Cau Chocolate mengikuti alur rantai nilai (value chain) kakao dari biji hingga menjadi batangan. Istilah kerennya from bean to bar.

Dari pabrik pengolahan, pengunjung akan diajak ke kebun milik Chau Chocolate setelah terlebih dulu mendapatkan caping petani. Jaraknya tak lebih dari 200 meter dari pabrik.

Pemandu di Cau Chocolate menjelaskan tentang budidaya kakao pada pengunjung | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Mengenal Kakao

Kebun Cau Chocolate yang bentuknya memanjang seluas kira-kira 20 are ini memiliki puluhan pohon kakao. Rata-rata pohonnya sudah berumur belasan tahun.

Sembari menyusuri jalan setapak di tengah kebun, Abi menjelaskan seluk beluk kakao. “Dari ribuan bunga kakao, hanya sekitar lima persen yang jadi buah,” jelasnya kepada pengunjung.

Pada dasarnya, kata Abi, ada tiga varietas utama kakao dunia yaitu kriolo, forastero, dan trinitario. Kakao di Cau Chocolate, seperti umumnya kakao Indonesia, termasuk jenis forastero. Varietas ini biasa disebut pula sebagai kakao lindak. Buah kakao jenis ini tersebar banyak di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan Afrika.

Adapun varietas kriolo ciri-cirinya pod besar, tetapi buahnya kecil. “Kriolo ini termasuk jenis kakao terbaik dunia,” katanya. Secara global, jumlahnya tak lebih dari 10 persen dari total produksi kakao dunia.

Terakhir jenis trinitario yang merupakan persilangan dari dua varietas lainnya. Di Indonesia, kakao jenis ini terdapat di Banyuwangi yang disebut kakao edel.

Gunung Batukaru melengkapi pemandangan di Cau Chocolate | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Meskipun berbeda varietasnya, semua jenis kakao memiliki ciri-ciri sama untuk menunjukkan umur buahnya. Hijau dan merah ketika masih muda. Berubah kuning ketika sudah matang.

“Buah kakao juga tidak suka kena air terlalu banyak. Bisa rusak buahnya,” ujar Abi.

Perjalanan di dalam kebun bisa menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dalam tentang kakao, terutama ketika dia berada di kebun. Pohon dan buah kakao di kebun menjadi objek yang langsung diterangkan Abi kepada pengunjung.

Namun, hal ini juga tergantung musim. Pada musim kakao berbuah, antara Mei – Agustus, pohon-pohon kakao dipenuhi buah, tetapi di luar musim itu hampir tidak ada.

Meskipun demikian bagi pengunjung, pengalaman itu sudah memberikan informasi lebih tentang kakao. “Biasanya hanya dengar sekilas tentang kakao dari orang tua atau nenek, tetapi sekarang jadi lebih tahu,” kata Murni Oktaviani, salah satu pengunjung.

Pengunjung melihat proses pencetakan cokelat di Cau Chocolate | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Nilai Lebih

Dari kebun, perjalanan berlanjut menyusuri sawah. Gemericik air di saluran irigasi menemani pengunjung berjalan menuju pabrik pengolahan cokelat. Selain padi menghijau juga ada kebun gumitir dengan bunga-bunga kuningnya yang menyolok.

Namun, sekali lagi, semua memang tergantung apakah sedang musimnya atau tidak. Berwisata di lahan pertanian haruslah menyesuaikan dengan musimnya. Begitu pula dengan padi dan gumitir di lahan milik Cau Chocolate.

Beda halnya dengan biji kakao yang selalu ada sepanjang tahun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Cau Chocolate. Dan, ini terkait dengan bagaimana Cau Chocolate ini membangun hubungan baik dengan petani kakao di sekitarnya.

Alit Artha Wiguna, pendiri Cau Chocolate, memang mendirikan perusahaan pengolah kakao ini karena ingin membantu petani di desa kelahirannya. Sehari-hari Alit adalah Penyuluh Utama di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPPT) Bali. Dia sudah puluhan tahun bergelut dengan isu-isu pertanian, termasuk kemiskinan di kalangan petani.

Sejak 2013, Alit mendirikan Cau Chocolate karena melihat potensi kakao di desanya. Tak hanya membeli biji kakao dari petani, dia juga mendidik mereka untuk meningkatkan kualitas kakaonya, termasuk melalui kelompok tani.

“Saya membeli biji kakao langsung dari mereka untuk memberi nilai lebih,” kata Alit. Harganya pun lebih tinggi dibandingkan harga pasar. Sekitar Rp50.000 per kg untuk biji kakao organik bersertifikat dan Rp40.000 per kg untuk yang tidak bersertifikat.

Selain dari petani setempat, Alit kemudian membeli kakao juga dari petani di Jembrana, kabupaten produsen kakao terbesar di Bali saat ini. Saat ini, pasokan terbanyak di pabriknya justru dari petani di kabupaten paling barat di Pulau Bali tersebut.

Es krim yang disajikan dengan kerapas buah kakao menjadi sajian unik | Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

Pengolahan

Dari kebun-kebun petani di Tabanan dan Jembrana, biji kakao kering lalu diolah Cau Chocolate. Menariknya, pengunjung bisa melihat proses pengolahan itu dilakukan mulai dari penyimpanan, pembuatan bubuk, pembentukan cokelat, sampai dia berupa cokelat batangan siap makan.

Untuk itu pengunjung ditemani pemandu dan menggunakan pakaian khusus di ruang pengolahan.

Berada di lahan seluas sekitar 1 ha, Cau Chocolate juga menyajikan restoran di lantai dua. Setelah sekitar 1 jam melihat rantai nilai kakao dari kebun hingga menjadi cokelat batangan, pengunjung bisa menikmati sajian lain, es krim cokelat.

Hal unik dari sajian ini adalah karena dia menggunakan kerapas buah kakao sebagai wadah es krim itu. “Kami ingin menunjukkan bahwa semua bagian dari kakao bisa diolah dan dimanfaatkan,” ujar Alit.

Setangkup es krim cokelat di wadah kerapas buah kakao itu menutup perjalanan di Cau Chocolate. Makin lengkap karena menikmatinya sambil melihat Gunung Batukaru di kejauhan.

Tentu saja perjalanan belum lengkap tanpa mampir di toko cokelat pemilik merek Cau Chocolate ini. Aneka jenis dan ukuran cokelat batangan bisa menjadi oleh-oleh bersama pengetahuan tentang bagaimana perjalanan cokelat bisa menjadi produk favorit dunia saat ini.

Sebagai tempat jalan-jalan, Cau Chocolate menyajikan pengalaman yang memuaskan, lahir dan batin.


Sumber: Ditulis oleh Anton Muhajir dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ciptakan Bantalan Rem Ramah Lingkungan, 2 Mahasiswa USU Ini Raih Medali dan Piala Sebelummnya

Ciptakan Bantalan Rem Ramah Lingkungan, 2 Mahasiswa USU Ini Raih Medali dan Piala

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak Selanjutnya

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.