Tanjak Khas Siak, Kewibawaan di Mata Dunia

Tanjak Khas Siak, Kewibawaan di Mata Dunia

Pemberian tanjak dari Bupati Siak ke presiden Kolombia © LTKL

  • Di forum The Tropical Forest Alliance Annual Meeting 2019, disampaikan pula bagaimana Kabupaten Siak mengatur zonasi tata ruang usai kebakaran hutan dan lahan di tahun 2015.
  • Bupati Siak yang sekaligus Sekjen LTKL, menjabarkan bagaimana Siak berhasil mengurangi deforestasi.
  • Selain itu juga ada serah terima tanjak, ikat kepala khas suku Melayu Siak, dengan presiden Kolombia.

Keberhasilan Kabupaten Siak dalam menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan ditunjukkan di acara The Tropical Forest Alliance Annual Meeting 2019. Forum tersebut adalah acara tahunan yang diadakan oleh The Forest Alliance (TFA).

Dalam acara yang digelar di Bogota, Kolombia, 9 Mei 2019 lalu, Drs. H. Alfedri, M.Si selaku Bupati Siak dan Sekretaris Jenderal Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), berbicara di depan forum mengenai inisiatif yang mengatur zonasi tata ruang untuk konservasi, perkebunan, industri, dan pemukiman.

Sebagai kabupaten yang berada di Provinsi Riau, rumah bagi lahan gambut terluas di Indonesia, tentu tidak mudah mengelolanya. Apalagi di tahun 2015, Siak sempat mengalami kebakaran hutan dan lahan yang banyak menyebabkan kerugian. Namun saat ini, keadaannya sudah jauh berbeda.

BACA JUGA: "Inisiatif Siak Hijau" dan Pembelajarannya di Forum Internasional

Kini Kabupaten Siak telah berhasil mengurangi deforestasi, menggalakan konservasi dan restorasi gambut, menangani dan mencegah kebakaran hutan dan lahan, mengembangkan ekowisata, serta memanfaatkan pemanfaatan varietas bernilai ekonomi ramah gambut di lahan Tanah Objek Reformasi Agraria (TORA).

Bapak Alfedri tidak hanya menarik perhatian seluruh peserta dengan “Inisiatif Siak Hijau”-nya. Beliau juga menarik perhatian peserta dengan tanjak khas Kabupaten Siak yang dililitkan di kepalanya. Dengan menggunakan tanjak, ikat kepala khas suku Melayu Siak, bapak Alfedri juga menceritakan tentang nilai-nilai kearifan yang dianut masyarakat Melayu Siak dalam hal budaya dan lingkungan.

“Memakai tanjak khas Siak adalah bentuk pelestarian budaya khas Melayu di kalangan masyarakat. Sama halnya dengan menjaga alam, bentuk penghargaan alam sebagai bagian kesatuan ekologis dengan manusia,” ucap Bapak Alfedri.

Delegasi Indonesia pada Tropical Forest Annual Meeting 2019 | Foto: LTKL

Saat ini, Masyarakat Siak berkeinginan kuat untuk tidak lagi menebang hutan alam. Masyarakat Siak mulai mengembangkan produksi melalui intensifikasi lahan, dan menghentikan konsensi perkebunan sawit yang baru.

Baginya, lestari adalah lingkungan terjaga dan masyarakat sejahtera, sehingga kolaborasi pemerintah, masyarakat, serta organisasi masyarakat sipil sangat dibutuhkan dalam mewujudkan visi Siak Hijau ini.

BACA JUGA: 2.778 Hektar Hutan Leuser Telah Direstorasi

Cerita sukses Kabupaten Siak memukau Ivan Duque Marquez, presiden Kolombia. “Kolombia dan Kabupaten Siak memiliki komitmen yang sama kuat untuk menjaga dan menghormati alam,” ucapnya.

Bapak Alfredi pun memberikan tanjak khas Siak kepada presiden Kolombia sebagai tanda kewibawaan dan kearifan orang Melayu.

Beliau juga menyampaikan bahwa “Indonesia siap menjadi tuan rumah pelaksanaan Tropical Forest Alliance (TFA) internasional tahun 2020, sehingga dunia bisa langsung melihat implementasi Siak Hijau yang sedang berjalan.“ tutup Alfedri.**

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

"Inisiatif Siak Hijau" dan Pembelajarannya di Forum Internasional Sebelummnya

"Inisiatif Siak Hijau" dan Pembelajarannya di Forum Internasional

7.000 km Jalur Baru Kereta Api Akan Dibangun hingga 2030 Selanjutnya

7.000 km Jalur Baru Kereta Api Akan Dibangun hingga 2030

0 Komentar

Beri Komentar