Seberkas Cahaya Islam di Gemerlapnya Makau

Seberkas Cahaya Islam di Gemerlapnya Makau

Pawai menjelang Ramadhan bersama para Pekerja Migran Indonesia © Dompet Dhuafa Hongkong

MAKAU,HONGKONG— Apa yang terlintas ketika mendengar istilah Macau? Sebuah wilayah di pesisir selatan Republik Rakyat Tiongkok. Jika kalian menulis Macau di mesin pencari internet. Maka banyak sekali hal yang dapat ditemukan tentang Macau. Walaupun mungkin hal yang sering muncul berkaitan tentang wisata dunia malam yang liar dan sangat jauh dengan nilai-nila keislaman. Namun Ustadz Sukron Makmun , dalam kunjungannya sebagai Dai Ambassador Dompet Dhuafa untuk Hongkong dan Macau, menuturkan hal yang berbeda.

“Ketika saya keluar dari apartemen tempat saya tinggal, banyak tulisan dilarang buang sampah sembarangan, di setiap koridor. Dan memang sepanjang tangga itu sama sekali tidak ada sampah. Sedangkan di tanah air, belum tentu kita melihat kenyataan seperti ini. Padahal bukankah menjaga kebersihan juga bagian dari ajaran islam?” ujar Ustadz Sukron (Sabtu, 18/05).

Memang terkesan sepele namun hal-hal seperti ini yang menurut Sukron menjadi pembeda orang Indonesia dengan Macau. Sepele namun berkesan ketimbang besar tapi menakutkan. Serta ini juga merupakan pembelajaran sekaligus peringatan.

“Ketika hendak berjalan di jalan raya, saya lebih kagum lagi, karena mereka akan memberi prioritas pada pejalan kaki. Begitu juga dengan yang ada di lampu merah. Tidak ada tuh yang suka ‘nyelonong.’ Apalagi melihat anak di bawah umur yang ugal-ugalan. Tidak ada sama sekali,” lanjut Ustadz Sukron.

Kekaguman-kekaguman di atas merupakan hal yang menarik bagi Ustadz Sukron. Menurutnya, kita tidak bisa serta-merta menilai segala sesuatu dari bungkusnya saja. Walaupun memang tidak dipungkiri kalau Macau terkenal dengan wisata malam, yang berseberangan dengan budaya islam. Akan tetapi dibalik itu banyak sisi yang menarik dan bisa dijadikan contoh. Sebagaimana ungkapan “al-Ibratu bil Jawahir, la bil Mazahir,” yang memiliki arti: yang penting subtansi, bukan simbol atau bungkusnya.

“Di kota yang tidak pernah tidur seperti ini. Semua orang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Maka jarang ditemukan ada orang yang ‘kepo’ dengan orang lain, hingga berujung melakukan gosip. Semua memang sudah terpaku dengan diri mereka sendiri. Dan karena ini pula, terutama bagi orang-orang Indonesia yang merantau ke sini, jauh lebih nyaman. Karena mereka mampu mengekspresikan nilai-nilai kepercayaan dan keindonesiannnya dengan leluasa, seperti dengan berbakaian yang menutup aurat atau menggelar pengajian rutin,” tutup Ustadz Sukron.


Sumber: (Dai Ambassador Dompet Dhuafa-Hongkong & Makau)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kata-Kata dari Tokoh Indonesia yang Bisa Jadi Inspirasimu Sebelummnya

Kata-Kata dari Tokoh Indonesia yang Bisa Jadi Inspirasimu

Merayakan Keberagaman dengan Jamuan dari Hutan Selanjutnya

Merayakan Keberagaman dengan Jamuan dari Hutan

0 Komentar

Beri Komentar