20 Mei 1908, Munculnya Kesadaran untuk Merdeka

20 Mei 1908, Munculnya Kesadaran untuk Merdeka

Ilustrasi © Pemilik Gambar

Pada tahun-tahun lalu (mudah-mudahan tahun ini dan seterusnya) bangsa Indonesia selalu merayakan tanggal 20 Mei 1908 sebagai hari Kebangkitan Nasional. Hari di mana muncul kesadaran untuk merdeka dan mandiri dari segala bentuk penjajahan. Salah satu tokoh sentral dalam pergerakan untuk memuncul kesadaran merdeka ini adalah Dr. Soetomo dari Surabaya.

Penulis merasa bahagia dan bangga ketika almarhum abah saya KH. Hamzah (wafat tahun 1956) meninggalkan sebuah buku yang lusuh tapi sangat bersejarah, yaitu buku catatan perjalanan Dr. R. Soetomo ke beberapa negara seperti Belanda, Ceylon (Sri Lanka), Turki, Mesir, Jepang, Inggris dan sebagainya pada tahun 1936.

Buku yang berjudul “POESPITA MANTJA NAGARA” yang diterbitkan Poestaka Nasional Soerabaja (ejaan lama) pada tahun 1937 dan dalam bahasa Jawa, mengisahkan perjalanan pahlawan nasional ini melihat kemajuan dan bertemu dengan tokoh-tokoh penting di negara-negara tersebut.

Kisah beliau dalam buku itu sangat mengharukan bagi penulis (atau siapapun yang membacanya) karena meskipun beliau keluar negeri, beliau selalu bangga sebagai bangsa Indonesia, selalu berpikir positif akan negerinya sendiri yang tercinta, bahkan menolak anggapan bangsa asing bahwa jelek bagi orang Indonesia makan nasi. Beliau menolak anggapan itu bahwa nasi itu lebih sehat bagi bangsa Indonesia.

Mengharukan juga karena Dr. Soetomo di Afrika Selatan dan Ceylon (Sri Lanka) bertemu dengan bangsa Indonesia yang dibuang oleh penjajah Belanda. Beliau mencatat misalnya pada tahun 1706 Soesoehoenan Mangkoerat Mas, ratu “ing tanah Djawa” (raja di Jawa) dibuang Belanda di Ceylon, tahun 1723

Sawijineng princes panggedening kaoem pemberontak ing Betawi lan 40 wong kaoeme, dening pemerintah Walanda diboeang ing Ceylon." (salah satu ratu tokoh kaum pemberontak di Betawi/Jakarta dan 40 orang pengikutnya dibuang pemerintah Belanda di Ceylon).

Meskipun waktu itu belum ada perkiraan kapan Indonesia merdeka dari penjajah, tapi angan-angan dan semangat bangsa Indonesia terbentuk sejak dulu untuk merdeka mandiri dan memiliki harga diri yang tinggi dari bangsa penjajah.

Misalnya kisah beliau ketika tiba di Mesir pada tanggal 16 Agustus 1936, beliau menceritakan tentang begitu bahagia dan semangatnya pada mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir kala itu menyambut Dr. Soetomo, beliau menulis]

Para stoedent bangsa kita dhewe, ora karoewan boengahing atine. Kebeneran banget dene ing mangsa ikoe dinna wajahe arep nandha tangani perdjandjian kamardikaane Mesir, moela aja ora eram jen kang padha mapag akoe ikoe, padha kebak semangat kamardikan, ambal-ambalan para moeda maoe padha mbengok “Hidoep Pak Tom”, “Hidoep Indonesia Merdeka”

Singkatnya, itu menceritakan para mahasiswa Indonesia di Mesir ketika menjemput Dr. Soetomo meneriakkan kata-kata “MERDEKA”. Semoga semangat para pahlawan di hari Kebangkitan Nasional ini masih menggelora di hati kita masing-masing.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Museum Sebelummnya

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Museum

Reyog Jazz Ponorogo; Kolaborasi Budaya Lokal dengan Musik Jazz Selanjutnya

Reyog Jazz Ponorogo; Kolaborasi Budaya Lokal dengan Musik Jazz

Ahmad Cholis Hamzah
@achamzah

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.