Jalan Pedang dan Titian Masa Depan

Jalan Pedang dan Titian Masa Depan
info gambar utama

Bagiku menulis adalah semacam jalan pedang, jalan pilihan karena keadaan dan keyakinan. Alur hidup yang membuatku menjadi seperti sekarang, aku memilih menulis karena hasrat sekaligus minat.

Hasrat karena hidup telah membentukku untuk menyukai literatur, sehingga dengan sepenuh keyakinan menggulati dunia literasi. Minat karena sepertinya inilah dunia yang sesuai bagi hidupku yang memiliki keterbatasan fisik, agar bisa mengembangkan diri sekaligus jalan beroleh rezeki secara efektif.

20 tahun sudah aku memasuki dunia menulis. Ya, sejak awal tahun 1999, kala usiaku baru 23 tahun. Sungguh memalukan pencapaianku yang lebih banyak stagnan. Aku kerap terhenti di perjalanan karena banyak hal, sehinggga langkahku tersendat-sendat. Ibarat pejalan yang lebih banyak merangkak atau malah merayap.

Di saat orang lain dalam kurun waktu seperti itu barang kali telah beroleh pencapaian yang luar biasa, aku malah biasa-biasa saja dan bisa jadi tak membanggakan. Namun bagiku pencapaian itu sudah cukup luar biasa, ada luka dan air mata dalam langkah yang ditapaki.

Jalur yang kulalui tidaklah bisa disamakan seperti orang lain. Alur takdir atau garis nasib bisa jadi pilihan dari langkah yang telah diambil sebelumnya, atau malah ada peran besar yang menentukan karena kau tak bisa hidup sendirian tanpa campur tangan pihak lain. Semuanya bagian dari Qodratullah.

Buku adalah amunisi penulis, dan amunisi yang kuperoleh merupakan akumulasi dari apa yang kubaca sejak kecil sampai sekarang. Tanpa buku rasanya aku akan hidup dalam tempurung perspektif sempit yang bisa membuatku picik.

Segala sesuatu yang kutahu selalu bermula dari indra netra. Ya, mata memindai huruf dan peristiwa yang tersaji dalam bahan bacaan apa saja. Inilah pilihanku, lebih tepatnya alternatif agar tak sepi sendiri dalam dunia sunyi yang kerap membuatku merasa terasing.

Ah, mengapa tulisanku jadi mellow gini?

Ketika menulis menjadi hasrat

Semakin banyak yang kau baca, semakin inginlah kau beropini. Mendedahkan apa yang meruah dalam diri. Berkaitan dengan pemikiran dan imajinasi. Rasanya lega jika kau bisa menuangkan semua dalam tulisan yang bisa dibaca ulang, untuk dokumentasi pribadi atau dibagikan pada siapa saja yang berkenan membacanya.

Seperti kataku dalam paragraf pertama tentang menulis sebagai hasrat, kurasa semuanya tepercik kala aku masih SD dan dilanggani majalah Bobo oleh ayahku yang bekerja sebagai PNS di Bandung.

Aku suka sekali dengan rubrik di majalah Bobo yang mengundang para bocah pembacanya untuk turut beropini. “Bobosiana”-kah namanya? Aku lupa.

Bobo ajukan suatu pertanyaan yang tentunya masih berkaitan dengan dunia anak, lalu anak-anak yang berminat menjawab akan kirim jawabannya lewat kartu pos. Jawaban yang terpilih akan dimuat dan beroleh hadiah.

Tentu saja aku ingin ikut dan mencoba menulis jawaban sesuai pemikiranku akan suatu topik bahasan tertentu, kala itu aku kelas 6 SD.

Setelah selesai, kutunjukkan opiniku itu yang terdiri dari satu paragraf panjang pada ayahku. Aku bangga sekali karena merasa telah berhasil menyelesaikan suatu misi besar dengan cara yang kuanggap terbaik. Sayang opini itu tak dikirim ke Bobo.

Ya, begitulah. Bahkan kala aku terpaksa berhenti sekolah setamat SD karena tak diterima di sekolah umum dan orang tuaku enggan menyekolahkanku ke SLB. Aku menjadikan membaca (apa saja) sebagai upaya belajar-bermain-sekaligus pelipur sepi.

Anggap saja aku meng-homeschooling-kan diri karena terpaksa dan itulah satu-satunya cara. Home schooling selama tiga tahun sampai aku bisa diterima di sekolah umum lagi dan menamatkan SMU-ku.

Membaca membentukku untuk memiliki hasrat pada dunia literatur, lalu pada akhirnya aku pun dengan haqqul yaqin menjadikan hasrat itu agar menggulati dunia literasi (kepenulisan).

Hasrat itu membuatku lebih percaya diri. Aku belajar membuka diri sekaligus berinteraksi dengan banyak orang yang menulis maupun bukan. Interaksi semacam itu membantuku membangun semacam jaringan, sekaligus mengikis sifat introferku menjadi ambifer.

Yah, kadang aku merasa separuh introvert, separuh ekstrovert. Yang jelas aku cenderung merasa nyaman sendirian tetapi tetap butuh kebersamaan dengan banyak orang.

Pada akhirnya menulis menjadi minat

Kau tahu pemikiran bersifat abstrak, tak terbentuk dan bisa melebar ke mana-mana. Demikianlah tulisanku yang merupakan cerminan dari pemikiran sekaligus perasaan. Akan tetapi, aku tetap meminati dunia menulis, ada ruang yang selalu bisa kuisi sekaligus mengisiku.

Aku merasa tak punya pilihan lain dalam karier dengan keterbatasan yang kumiliki. Maka, bagaimana caranya agar bisa beroleh rezeki halal namun tetap sesuai passion atau hasrat yang melekat?

Menulis adalah minatku agar aku bisa lebih mengembangkan diri dengan cara yang kubisa, meski belum profesional benar.

Dulu aku memulainya dengan cara kuno, dengan mesin ketik bekas, seiring waktu lanjut ke komputer di rental dan warnet. Makanya, perjalananku termasuk panjang dan lambat karena sarana. Sampai, alhamdulillah, beroleh kemudahan dalam hal sarana dan prasarana sampai sekarang. Akan tetapi, itu ada banyak aralnya.

Minat yang kupilih bukanlah jalan mudah, orang lain bisa saja menitikberatkan pada hasil materi secara cepat, aku harus berproses dengan sabar meski lambat.

Mengapa menulis membutuhkan kesabaran?

Karena kerja otak itu pun harus melalui proses panjang. Apalagi sekarang media massa cetak banyak bertumbangan, jadi aku harus mengalihkan diri pada media daring yang banyak tersebar sekaligus media sosial sebagai sarana jalan rezeki baru yang memungkinkan. Blog adalah salah satunya.

Merintis jalan agar sukses itu tidak mudah. Kau tidak bisa hanya mengandalkan dirimu saja, butuh orang lain sebagai mitra sejajar agar bisa berkembang. Ada kode etik dalam pergaulan yang dipahami sebagian narablog serius. Mereka membangun jaringan silaturahim dengan asas kebersamaan dan saling membutuhkan.

Karena itulah, minatku tak salah tempat. Aku yakin bisa berkembang dan beroleh rezeki secara leluasa, seperti teman-teman narablog lain yang sudah mapan, berkat menulis karena ruang gerakku menjadi lebih luas.

Aku masih menyasar media massa cetak berhonor yang tepercaya dalam hal honor pemuatan, makanya aku pilih-pilih media, soalnya kapok dengan kasus honor tak dibayar, haha.

Alhamdulillah, kemarin ada pesan masuk ke nomor WA-ku. Dari RiauPos yang melampirkan bukti transfer honor pemuatan. Esai bahasa masih menjadi andalanku dalam beroleh rezeki. Meski dimuatnya beberapa bulan lalu di awal tahun.

Aku jarang kirim tulisan ke media massa cetak sekarang, karena fokus pada blog dan seabrek lombanya yang menuntutku agar kian rajin membangun jaringan pertemanan sekaligus pengetahuan.

Arti jalan pedang

Bacaan favoritku adalah Musashi, sebuah novel epik tentang kisah samurai berikut situasi pada zamannya. Miyamoto Musashi meyakini jalan pedangnya sebagai ronin, samurai pengembara, yang tak terikat pada tuan mana pun. Jalan pedang yang dimaksud bukan mengenai kekerasan dan pertumpahan darah.

Aku suka alur cerita dan gaya bahasanya yang berat mengalun, nyastra dan tak mengabaikan esensi makna. Kaya filosofi dan perenungan. Eiji Yoshikawa sebagai penulisnya mampu menggiring imajinasiku untuk membayangkan kehidupan di era restorasi Meiji. Bagiku itu sangat menarik.

Lalu apa kaitannya dengan pembahasan tulisan ini?

Ada! Novel itu memengaruhiku agar memiliki tekad yang kuat dalam meyakini sesuatu, apalagi jika berkaitan dengan pilihan hidup. Seperti menulis yang kerap dipandang sebelah mata karena dianggap pekerjaan sia-sia.

Sia-sia?

Secara materi aku belum mencapai tingkat mapan. Sedih juga karena teman-teman narablog seangkatan yang mulai produktif ngeblog pada tahun 2014 sudah sukses, sedang aku yang sempat terhenti harus mulai dari awal lagi.

Optimis saja bahwa suatu saat kelak, cepat atau lambat, aku bisa semapan mereka. Hanya butuh kerja keras dan keyakinan. Fokus dan konsistensi. Jangan lupa doa dan silaturahmi agar bisa memanjangkan jalan rezeki.

Tentang titian masa depan

Pernahkah kau merasa pekerjaan sebagai beban?

Bagiku menulis bukanlah beban meski pada prakteknya itu bukanlah hal yang mudah. Sama seperti pekerjaan lain dengan label profesi yang berbeda, menulis pun butuh kerja keras agar bisa menghasilkan.

Ketika aku menulis esai bahasa, tentang topik yang sedang hangat-hangatnya, aku butuh referensi untuk menunjang tulisanku agar berisi. Maka aku pun butuh modal: komputer, ponsel sebagai hotspot portabel, uang untuk beli pulsa agar paket data internet sepuasnya selama dua pekan bisa terisi. Jangan lupa waktu, makanan, nutrisi, dan dukungan dari keluarga.

Intinya, menulis bukanlah pekerjaan bermodal dengkul. Ada banyak hal yang harus mendukung. Semua itu dilakukan agar masa sekarangmu berarti dan masa depanmu bisa lebih baik lagi.

Ya, menulis adalah semacam titian masa depan.

Maka, yakinilah dunia pilihanmu. Kau bisa saja menganggapnya istimewa atau biasa. Bagiku itu bukanlah pekerjaan main-main atau sekadar hobi, apalagi pengisi waktu senggang. Aku merasa tak punya hobi sekarang. Umur telah beranjak dan waktu yang kumiliki seakan terbatas, seiring berkurangnya jatah umur yang ditandai dengan kalender pergantian tahun.

Lalu, sampai di mana kau?

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini