Perjalanan Hidupku dalam Bidang Kepenulisan

Perjalanan Hidupku dalam Bidang Kepenulisan

Creative Writing with Maggie © Ina Tanaya

Aku terlahir bukan dari keluarga penulis. Tidak ada seorang pun di keluargaku yang punya profesi sebagai penulis.

Ketika aku masuk bangku SD hingga perguruan tinggi pun, tak terbesit sama sekali untuk ingin jadi penulis dalam bidang apa pun. Yang sangat kuingat betul, nilai bahasa Indonesia dan mengarang ketika belajar di SD maupun SMA, sangat minim sekali, 6 atau maksimal 7.

Lalu dari mana aku mampu menulis? Tidak pernah terpikirkan dalam benak sanubariku bahwa suatu ketika aku harus menulis untuk mengubah diriku maupun lingkunganku.

Datangnya sungguh tak terduga sama sekali. Aku hampir tak percaya sama sekali. Ketika aku jelang pensiun dini setelah bekerja hampir 28 tahun, aku harus memikirkan apa aktivitasku setelah pensiun.

Kucoba untuk berjualan secara online, membantu temanku yang bergerak di bidang properti, mencoba untuk mengajar anak-anak kelas SD secara volunteer.

Semua kegiatan yang sudah kulakukan itu tak membuahkan hasil yang maksimal. Sekadar kulakukan tanpa sepenuh hati. Seperti orang yang sedang mencari passion di tengah hutan belantara. Seolah mencari emas dalam tambang yang luas dan dalam.

Tanpa disengaja aku bertemu dengan teman yang mengajakku datang di komunitas penulis. Komunitas itu bernama Ketapels, singkatan Komunitas Penulis Tangerang Selatan.

Awalnya sempat berpikir, agak gentar. Tapi berpikir kenapa tidak dicoba? Motivasi dan alasannya hanya sekadar ingin mengetahui apa yang ditawarkan dan apa manfaat untuk diriku.

Tema dari pertemuan itu cukup berat, "Tips Cara Menulis Reportase dengan Wawancara Narasumber". Melihat teman, ada keraguan dalam diriku apakah aku tepat datang ke workshop informal ini karena aku bukan belum terjun dalam bidang penulisan.

"Kelihatannya aku belum cocok loh untuk datang ke workshop, teman", kataku.

"Loh ini komunitas penulis yang sama-sama sedang belajar, yang menjadi narasumber juga seorang penulis senior dari komunitas. Mereka itu sama-sama belajar!" jawabnya tegas.

Kata-kata "belajar" itu membuat diriku bangkit. Oh, jadi mereka sedang belajar, jadi jika aku belum paham aku tidak malu dan tidak merasa bersalah karena masih junior dalam kelompok itu.

Aku memberanikan diri datang. Benar juga apa yang dikatakan oleh temanku. Semua yang datang itu bermacam profesinya tapi tujuan semua belajar bagaimana menulis sebuah reportase yang baik, bagaimana cara mewancara narasumber dan mempersiapkannya.

Di sana aku belajar bahwa ada bermacam-macam jenis penulisan, feature, opini, reportase, dan tesis. Tentunya aku perlu belajar satu per satu untuk dapat menguasai ilmu dari setiap penulisan.

Tapi bagaimana caranya? Kelihatannya aku masih bingung. Tanpa disangka-sangka, aku disuruh mendaftar di suatu komunitas yang bernama Kompasiana. Di sini aku banyak belajar menggali ilmu menulis. Sering kali diadakan workshop atau nangkring, tidak sekadar nongkrong, tapi belajar beberapa ilmu dari narasumber.

Aku mulai belajar menulis dari beberapa workshop yang diadakan oleh Kompas, salah satunya Creative Thinking. Menulis bukan hanya sekadar teori saja, Perlu latihan, praktek, dan belajar secara sistematis dan berkesinambungan.

Menantang diriku untuk bisa ikut berbagai lomba penulisan dengan maksud supaya dapat mengukur kemampuan penulisanku sampai di mana. Ternyata tidak mudah karena juri sudah punya kriteria yang cukup mumpuni yang belum kukuasai dengan baik.

Aku belum berhasil menembus tantangan itu, artinya aku belum menang lomba penulisan.

Sepertinya aku tidak menyerah, semakin aku memperbaiki diri dan belajar untuk menambah wawasan dengan banyak membaca referensi bahkan buku-buku yang menunjang tulisanku. Aku berlatih untuk memperbaiki kesalahan dan kelemahan dalam penulisanku.

Satu demi satu langkah kutempuh. Walaupun konten masih jauh dari harapan untuk tulisan yang berkualitas terbaik, tetapi teknik tulisanku sudah makin membaik.

Memberanikan diri untuk terus bergabung dalam beberapa komunitas penulis. Aku tak pernah berhenti menulis. Tempat yang kujadikan untuk latihan menulis adalah blog pribadiku.

Tentu tulisan di blog bukan sekadar untuk curhat, tetapi lebih dalam lagi dalam beropini atau justru memberikan tips, opini, review jurnalistik, atau reportase pendek.

Ketika mengikuti lomba jurnalistik skala kota Tangerang Selatan, aku berhasil menjadi pemenang ke-III, juga dalam skala nasional tahun lalu aku juga mendapat kemenangan sebagai pemenang lomba favorit di Kementerian Pendidikan Indonesia.

Menulis tidak semudah membalikkan tangan, harus berjuang untuk terus belajar membaca demi wawasan yang luas agar penulisan lebih bagus.

Jalan panjang dan terjal harus kulalui, tetapi aku yakin bahwa aku sudah menemukan passion menulis itu ada di dalam diriku.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Jalan Pedang dan Titian Masa Depan Sebelummnya

Jalan Pedang dan Titian Masa Depan

Warung Kopi Indonesia dibuka di Montmarte Paris Selanjutnya

Warung Kopi Indonesia dibuka di Montmarte Paris

2 Komentar

  • Afin yulia

    Betul Mbak Ina, menulis itu tak semudah membalik telapak tangan. Semakin dalam kita belajar, kita semakin tahu banyak yang tidak kita paham.

  • Noer Ima Kaltsum

    Mantap benar, semangatnya luar biasa! Lanjutkan!

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.