Saatnya Merindu?

Saatnya Merindu?

Ilustrasi mesin ketik © Ana Viegas/Unsplash.com

Perkenalanku dengannya tidak jelas, tanpa sengaja, hanya bermula pandangan mata. Mungkin itu saja. Namun jelas sekali kesan pertama tak akan terlupa, selalu menjadi kenangan sepanjang masa.

Tak hanya diriku, namun sampai ke anak cucu. Bukanlah rupa yang menjadi pesona, namun cocoknya jiwa ini yang telah menggerakkan raga.

Anak muda berseragam putih abu-abu, rasanya itu menjadi masa yang paling membahagiakan. Tak terkecuali diriku. Rutinitas sekolah berangkat pagi pulang sore, dengan segala tugas dan pekerjaan rumah memaksaku untuk terus menerus berada di dalam rumah.

Fokus pada sebuah cita. Namun suatu saat, diri ini menemukan sebuah celah untuk keluar dari batas, dan akhirnya aku menemukan semangat baru dalam hidup.

Majalah Kuntum, kudapatkan dengan cara meminjam dari seorang sahabat. Satu per satu kubuka halamannya, sampailah di sebuah rubrik “Pendapat”.

Sebuah nama terpampang di sana, salah seorang kakak kelas yang sering kujumpai di bis kota. Aku bergumam betapa bangganya dia saat tahu namanya terpampang di salah satu halaman majalah itu. Aku pun ingin juga merasakan kebanggaan itu.

Kuajak sahabatku menulis bersama, kita harus wujudkan sebuah cita: tertulis nama di Majalah Kuntum. Akhirnya berdua kita mencoba menulis satu demi satu susunan kata, merangkai cerita tentang sebuah tema, Jilbab.

Saat itu tulisan kukirimkan setelah melewati proses dengan sebuah mesin ketik. Ya, sejak Sekolah Dasar aku terbiasa dengan alat ini. Saat melihat kakakku menggunakannya untuk menulis tugas akhir perkuliahan. Secara otodidak pula aku bisa mengunakannya dan terbitlah sebuah karya dari mesin ketik tua.

Namun sayang, sahabatku tidak berhasil menyelesaikan tugas menulis bersama. Akhirnya hanya tulisanku yang kukirimkan ke penerbit. Dalam hitungan minggu aku selalu menunggu kabar, baik bahagia maupun kecewa. Lalu sebuah surat pun kuterima di sekolah, sebuah kupon berisi nominal rupiah yang dapat kutukarkan di kantor redaksi.

Artinya tulisanku dimuat di Majalah Kuntum. Alhamdulillah, bahagia sekali rasanya saat itu. Ternyata aku bisa! Honor tulisan pertama sudah diterima dengan nominal Rp 7.500 di tahun 1998 di mana pada masa itu uang bekalku setiap hari hanya Rp 1.000. Bisa untuk 1 minggu uang jajan, batinku yang masih berseragam abu-abu.

Cinta pertamaku telah tiba, meninggalkan jejak cerita.

Akhirnya tulisan selanjutnya pun hadir, meski lebih banyak disimpan untuk sendiri, dipasang di majalah dinding kampus atau menjadi salah satu bagian buletin Jum’at. Alhamdulillah saat tulisan menemukan jodohnya, namaku pun bisa terpasang di majalah nasional, buku antologi Gramedia, koran lokal dan media online era sekarang.

Bahagia itulah yang dirasa, setiap huruf dan kata bisa dinikmati dan dirasakan pembaca. Berbagi inspirasi untuk semua. Inilah rindu yang terus tumbuh di dada. Takkan hilang termakan usia. Meski kadang rasa lelah dan bosan datang mendera, namun yakinlah saat merindu itu tiba... aku akan bersegera.

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara Yufi Eko Firmansyah

UPH Juara 3 Kompetisi Basket 3x3 se-Asia Sebelummnya

UPH Juara 3 Kompetisi Basket 3x3 se-Asia

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019 Selanjutnya

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019

4 Komentar

  • Afin yulia

    Prosesnya panjang, tapi akhirnya mengasyikkan ya Mbak? Semangat!

    • sri suharti

      iya mbak he...terus semangat, insya Allah!

  • Noer Ima Kaltsum

    Pengalaman pertama tembus media tak tak bisa dilupakan. Semangat berkarya!

    • sri suharti

      Kesan pertama takkan terlupa, akan dikenang sepanjang masa. Matur nuwun mbak...

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.