Menulis sebagai Terapi Jiwa dan Penyembuh Diri

Menulis sebagai Terapi Jiwa dan Penyembuh Diri

Menulis sebagai terapi jiwa dan penyembuh diri

Aku dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ya, menulis sudah jadi bagian dari hidupku. Tiada hari tanpa menulis. Meski badan kurang sehat, tapi saat menulis aku seperti memperoleh energi lebih.

Aku suka menulis sejak mengenal huruf dan bisa merangkai sebuah kata menjadi kalimat dan paragraf. Sebenarnya menulis adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia.

Namun sayangnya banyak yang menilai jika menulis itu susah. Alasan yang klise adalah bingung bagaimana caranya untuk memulai menulis.

Sebenarnya menulis itu tidak susah, tidak perlu bakat. Hanya diperlukan latihan yang terus menerus hingga menjadi mahir.

Jika sudah terbiasa, dengan mudah dan dalam hitungan detik kamu bisa menuliskan apa yang kamu pikirkan, dengarkan, rasakan, dan juga kamu lihat.

Mulailah menulis dengan metode free writing yaitu menulislah apa yang ada di pikiranmu, tanpa memikirkan tentang ejaan, susunan kata aturan baku dalam menulis.

Menulislah secara sangat bebas tanpa mempedulikan struktur kalimat dan tata bahasa. InsyaAllah kamu akan terbebaskan dari segala beban pikiran.

Menulis membuat hidupku jadi lebih bersemangat. Ada sebuah gairah yang mengalir di dalam tubuh saat jari tangan menggoreskan pena di atas kertas atau saat jari tangan menari-nari di atas keyboard.

Bagiku menulis adalah sebuah kebebasan. Menulis bukan sekedar merangkai sejumlah kata-kata hingga menjadi sebuah alur cerita yang memiliki makna.

Menulis bisa membuat perasaan bahagia yang luar biasa. Menyembuhkan berbagai trauma dan menjadi terapi jiwa dan penyembuh diri.

Menulis dapat menghindarkan diri dari stress dan trauma

Menulis dapat menghindarkan diri dari stress dan trauma (Foto : Pixabay.com)

Aku menuliskan semua hal yang ingin aku tuliskan. Tanpa dibatasi ruang dan waktu. Menulis aku jadikan sebagai healing theraphy. Menulis aku pilih dan sangat cocok dengan kepribadianku yang introvert. Pendiam. Tak banyak bicara.

Saat sulit terbuka dan berbagi beban dengan orang lain, maka menulislah solusinya. Diary adalah tempat bercerita paling rahasia. Bukankah tidak baik jika seseorang memiliki perasaan kesal atau marah yang bertumpuk? Karena itu bisa menyebabkan gangguan pada fisik juga mental.

Orang yang terlalu sering memendam permasalahan di dalam dirinya cenderung akan depresi dan stres. Jadi kamu jangan terlalu sering memendam suatu permasalahan tanpa mengungkapkanya ya. Saat hati terluka, sedih maka menulislah. Tentu saja menulis segala isi hati dengan cara yang elegan.

Menyalurkan kemarahan, kebencian dan kekecewaan dengan menulis bisa memberikan efek positif. Ada kelegaan yang didapat sama dengan kepuasan saat orang-orang yang biasa curhat dengan teman atau sahabatnya.

Ada perasaan lega dan nyaman saat aku sudah bisa mencurahkan apa yang aku rasakan dalam sebuah tulisan.

Menulis sebagai terapi jiwa dan penyembuh diri dari gangguan psikologis atau mengalami trauma tertentu. Dengan menuliskan pengalaman buruk atau kenyataan pahit yang dialaminya, trauma seseorang bisa berkurang. Jika hal ini dilakukan secara intensif, bukan hal yang mustahil kesembuhanlah yang akan didapat.

Ketika tidak mengerti maksud sebuah tulisan kamu bisa membaca berulang-ulang hingga memahaminya (Foto : Pixabay)

Aku menulis karena aku menyukainya. Menulis adalah caraku untuk mengungkapkan apa yang tak bisa aku katakan secara lisan. Dengan menulis kamu bisa membaca berulang-ulang hingga kamu memahaminya meski kutulis secara tersirat.

Aku menulis karena aku ingin dikenang dan tetap hidup meski aku telah kembali padaNya. Menulis adalah salah satu langkah menuju keabadian. Aku hidup dibatasi oleh usia. Namun, tulisanku hidup untuk selamanya.

Jika tugasku sudah selesai di dunia ini dan Tuhan memanggilku kembali padaNya, karyaku akan tetap hidup. Aku ingin tulisanku bisa memberikan manfaat dan inspirasi bagi para pembaca.

Tulisan bersifat lebih abadi daripada bahasa lisan. Setelah mendengar orang bicara, selang beberapa menit kamu akan melupakannya.

Berbeda dengan tulisan, ketika kamu lupa tentang apa yang kamu baca, maka kamu dapat membaca kemudian mengingatnya kembali. Selain itu, ketika tidak mengerti maksud sebuah tulisan, kamu dapat membaca dan mempelajarinya berulang-ulang sampai memahaminya.

Aku akan terus menulis hingga akhir hidupku!

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Jemunak, Makanan Lezat yang Hanya Ada di Bulan Ramadhan Sebelummnya

Jemunak, Makanan Lezat yang Hanya Ada di Bulan Ramadhan

Pencapaian Misi Feedloop Yang Didanai East Ventures Selanjutnya

Pencapaian Misi Feedloop Yang Didanai East Ventures

3 Komentar

  • Afin yulia

    Wah, iya. Saya juga nulis untuk self healing. Efeknya memang melegakan perasaan, setelah beberapa saat terhimpit beban.

  • Agustina Purwantini

    Begitulah adanya. Menulis itu melegakan dan menenangkan. Kayak pil penenang.

  • Wahyu Sri Lestari_08

    Setuju menulis adalah terapi. Memberi efek positif yang menyemangati hidup.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.

Artikel Terkait