Aku dan Inilah Alasannya Mengapa Harus Menulis

Aku dan Inilah Alasannya Mengapa Harus Menulis

Ilustrasi menulis © Pixabay

Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau akhirnya aku harus larut lebih jauh dalam dunia merangkai kata. Meski dunia ini telah kuakrabi sejak kecil, tetapi kesadaran akan pentingnya menulis baru kurasakan beberapa tahun belakangan ini.

Ketika itu aku tersadar bahwa hidup manusia haruslah diisi dengan hal-hal bermanfaat. Sesuatu yang kelak dapat menjadi amalan jariyah, usai napas tak lagi berembus.

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang memberi manfaat, dan anak yang saleh yang berdoa untuknya." (HR Muslim)

Meski terlahir bukan dari keluarga penulis, aku telah mengenal dunia tulis menulis sejak kelas 5 SD. Entah kecenderungan ini menurun dari mana karena jangankan menulis, membaca pun bukanlah sesuatu yang menjadi kebiasaan di keluarga kami.

Kalaupun ada yang suka membaca, satu-satunya orang itu adalah kakekku, ayah dari ibuku. Sementara ayah dan ibuku sama sekali tidak tertarik dan juga tidak pernah mengenalkan dunia ini kepada kami, anak-anaknya.

Adalah Verni, teman sekelasku yang mengenalkan dunia menulis pertama kali padaku. Waktu itu, Verni menularkan kesukaannya menulis puisi dengan mengajak kami, teman sekelasnya ikut membuat puisi. Puisi-puisi tersebut kemudian dikumpulkan dan dikirimkan ke redaksi koran lokal di daerah kami.

Terus terang, aku tertarik karena melihat nama Verni hampir setiap pekan menghiasi koran lokal. Selain terlihat keren, fee-nya juga menggiurkan.

Dua hal ini yang membuatku tertarik mencoba menulis puisi dan aku termasuk yang paling rajin untuk itu. Qadarallah, tak satupun tulisanku yang dimuat. Akhirnya, setelah setahun menjalani hal ini, aku pun jenuh.

"Aku tak berbakat menulis puisi," putusku kala itu

Sejak itu, aku tak lagi menulis.

Ketika kuliah dan "nyasar" di Fakultas Sastra, saat itulah keinginanku untuk menulis terpicu kembali.

Mengapa menyebutnya "nyasar"? Aku menyebut demikian karena keberadaanku di Fakultas Sastra ibarat orang yang kesasar.

Sebenarnya, aku ingin sekali kuliah di Fakultas Ekonomi dan mendalami akuntansi. Aku telah jatuh cinta pada akuntansi, pelajaran favoritku saat bersekolah di SMEA (SMK)

Qadarallah, takdir menjodohkanku dengan sastra, bukan ekonomi. Meski sempat down, tetapi aku bukan tipe orang yang susah move-on.

Aku pun menerima dan berdamai dengan takdir tersebut. Bahkan, aku bertekad memberikan yang terbaik yang kupunya, meski bukan mauku yang terjadi.

Singkat cerita, aku kemudian mengenal dan cukup akrab dengan beberapa orang senior di kampus. Usut punya usut, sebagian seniorku ternyata adalah para seniman, mereka senang menulis, melukis, maupun berteater.

Meski demikian, ada satu hal yang membuat mereka "galau". Mereka sangat ingin tulisan-tulisannya menembus media cetak.

Sayangnya, hal itu tidaklah mudah. Meski telah berulang kali mengirimkan tulisan, nyatanya tak satu pun yang dimuat.

Kegalauan tersebut membuatku mendadak teringat pada kebiasaanku dulu. Selama setahun lebih, aku juga rajin menulis puisi, tetapi tidak satu pun yang berhasil menembus media cetak.

Entah dorongan dari mana, aku tergerak untuk kembali menulis. Mendadak, aku ingin membuktikan bahwa menaklukkan media cetak tidaklah sesulit yang dibayangkan para seniorku.

Meski aku sendiri belum pernah merasakan hal itu, tetapi pengalamanku ditolak selama setahun ditambah dengan kegilaanku membaca membuatku yakin kalau aku bisa menghasilkan tulisan yang dimuat di media cetak.

Benar-benar aneh tapi nyata, tetapi seperti itulah yang terjadi padaku waktu itu.

Ya, selain sebagai penulis puisi yang gagal, aku juga sangat suka membaca. Bahkan, boleh dibilang aku gila membaca.

Aku sampai rela menghabiskan uang jajanku demi bisa menyewa buku atau majalah dan sesekali membelinya. Kebiasaan membaca ini tidak saja menuntaskan dahagaku akan bacaan dan menambah isi kepalaku. Kebiasaan membaca ini pula yang membuatku kemudian yakin kalau aku bisa menulis.

Usai menantang diri sendiri, aku pun mencoba membuat satu tulisan. Tulisan sederhana, berupa cerita anak. Ide ceritanya kudapat usai memperhatikan tingkah laku adik-adikku.

"Lumayan" ucapku kala itu usai menyelesaikan tulisanku dan berulang kali membacanya.

Berbekal pengetahuanku mengirimkan puisi langsung ke kantor redaksi koran, aku pun kembali melakukan hal yang dulu setiap pekan aku lakukan. Alhamdulillah, tulisanku dimuat dua hari kemudian.

Tak terbayangkan bagaimana senangnya hatiku kala itu. Aku telah berhasil memenangkan “tantanganku”.

Aku pun telah membuktikan bahwa mengirim tulisan ke media bukanlah hal yang sulit. Pembuktian ini yang kemudian kuperlihatkan kepada para senior serta teman-temanku yang memiliki minat yang sama di bidang ini.

Sejak itu aku terus menulis dan menulis, sangat produktif. Bahkan, terkadang dalam seminggu bisa 2-3 tulisanku yang dimuat di koran.

Aku menjadi ketagihan. Apalagi fee-nya lumayan untuk mahasiswa sepertiku. Tentu saja, senang dan bangga rasanya bisa menghasilkan uang sendiri di usia muda.

Sayangnya, waktu itu aku hanya menulis karena kesenangan semata. Genre tulisanku pun full fiksi. Aku hanya menulis apa yang kusuka atau sesekali menulis pesanan temanku yang minta dibuatkan cerpen.

Aku hanya berpikir bagaimana bisa menulis sebanyak mungkin agar bisa menghasilkan materi juga sebanyak mungkin.

Alhamdulillah, hidayah Allah datang menyapa. Aku kemudian aku mulai rutin mengaji dan mulai menyadari bahwa menulis bukan sekadar "bersenang-senang" dengan tulisan.

Sebuah tulisan juga bisa menjadi media dakwah, sarana untuk mengajak kepada kebaikan. Apalagi, sebagai seorang muslim, kita semua dikenai kewajiban untuk berdakwah.

Bukankah kita diperintahkan untuk menyampaikan yang haq, meskipun hanya satu ayat.

Rasulullah SAW bersabda, "Sampaikankanlah dariku walaupun hanya satu ayat." (H.R.Bukhari)

Buku-buku yang telah kutulis

Atas kesadaran itulah, aku mulai memperbaiki diri dan tulisanku. Aku bertekad untuk hanya menulis yang baik-baik saja dan menulis hal-hal yang berguna saja.

Aku ingin, sekiranya tulisanku tidak bisa mengajak kepada kebaikan, minimal tidak mengajak kepada satu kemungkaran.

Tekad inilah yang kemudian membuatku melahirkan buku Para Abdullah di Sekitar Rasulullah, Tiket ke Surga 1001 Amalan Ringan Berpahala Besar untuk Perempuan, Brain Game, serta Nabi Muhammad The Real Motivator.

Selain itu, aku juga menulis beberapa buku anak, buku antologi, serta aktif sebagai kontributor tetap di sebuah media dakwah, dan aktif menulis artikel di beberapa media online.

Semoga, untaian kata yang bisa kuhasilkan dari merangkai butiran-butiran kata menjadi amalan pemberat kelak di hari akhir. Amin.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Aku Menulis Maka Aku Ada Sebelummnya

Aku Menulis Maka Aku Ada

SEA Games 2019: Indonesia ke Final Lagi Setelah 6 Tahun! Selanjutnya

SEA Games 2019: Indonesia ke Final Lagi Setelah 6 Tahun!

Haeriah Syamsuddin
@haeriah

Haeriah Syamsuddin

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.