Aku dan Menulis

Aku dan Menulis
info gambar utama

Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah ….” (Tafsir al-Qurthubi, 2002)

Entah kapan mulai suka menulis, aku sendiri sudah lupa. Seingatku adalah ketika masih bersekolah di SD, saat-saat di mana aku baru mulai mengenal huruf pada kegiatan membaca dan menulis pertama. Namun bila ditanya persisnya kapan, sungguh aku tidak teringat.

Sejak dulu aku memang menyukai dunia tulis menulis. Meskipun pada permulaan baru sebatas melaksanakan tugas dari guru, yaitu seputar mencatat, merangkum, menuliskan kembali, dan atau mengarang bebas.

Kusadari betul, pola belajarku hingga saat ini pun tidak terlepas dari tulis menulis. Aku terbiasa menguji diri sendiri untuk mengetahui seberapa paham materi pelajaran yang diajarkan guru dengan menuliskan kembali apa saja yang kupelajari tanpa jeda sesuai isi di kepala.

Jika bisa menuliskan banyak hal tentang materi itu, berarti telah memahaminya dengan baik. Sebaliknya apabila hanya mampu menuliskan sedikit hal mengenai materi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa aku belum menguasainya sehingga harus belajar lagi.

Sedari kecil aku telah rutin menulisi buku harian. Sebuah buku khusus tempat aku bercerita dengan bebas tentang apa saja yang kualami seharian. Pengalaman hidup setiap hari dari bangun tidur hingga menjelang tidur tersurat di sana. Termasuk kesan-kesan yang dapat kusimpulkan dari setiap peristiwa yang terjadi dan rencana-rencana esok hari.

Setelah mengenal apa yang disebut puisi, aku memiliki buku khusus untuk menuliskan puisi. Baik puisi karya orang lain maupun hasil tulisanku sendiri. Untuk buku yang berisi tulisan puisi ini aku memilih buku merek Kiky.

Kenapa? Karena selain kualitas kertasnya yang lebih bagus (menurutku), desain bukunya juga lucu-lucu. Aku suka.

Kapan dan ke mana saja aku pergi, dua buku itu selalu kubawa serta di dalam tas. Kecuali jika lupa membawanya atau tertinggal, maka aku akan menulis di kertas, bloknote, atau apapun yang bisa kutulisi. Tulisan itu akan tersimpan dengan rapi di tas hingga kupindahkan ke dalam buku diary selepas di rumah.

Tanpa menulis aku merasa gelisah tak berujung. Ada sesuatu yang kurang, tidak lengkap, dan kosong. Meskipun itu sekadar satu atau dua kata, jika sudah menuliskannya maka dadaku terasa lega. Entah mengapa bisa begitu, aku sendiri tidak mengerti.

Dengan menulis aku mampu menceritakan apapun yang kualami dengan nyaris sempurna. Tidak ada yang tersembunyi. Semuanya terdeskripsi. Ya, semuanya. Termasuk bagaimana aku menilai bahkan menganalisa sesuatu.

Tanpa kehadiran seorang teman yang nyata, aku merasa punya sahabat sejati yang baik dan setia. Buku yang kutulisi itulah sahabatku. Bersamanya aku merasa bahagia karena bisa mengungkapkan semua perasaan dengan ringan dan asyik.

Senang, sedih, cemas, benci, bingung, berbunga-bunga, juga amarah. Semua perasaan bisa tertulis dengan baik tanpa merasa was-was rahasiaku bakal terbongkar.

Di antara kegiatan menulis yang aku sukai adalah membuat kartu quote. Sebuah kartu kecil berisi kata-kata mutiara yang apik dan ditulis dengan indah. Ini berawal dari kesukaanku memburu dan mengoleksi kartu quote dari Harvest yang selalu bisa membuatku terpukau dan tertarik untuk memilikinya.

Aku membuat kartu quote sendiri dengan meniru kata-kata yang terangkai dalam kalimatnya, menggunakan beraneka jenis kertas warna-warni yang sengaja kutulisi dan kuhias dengan cantik.

Eposide berikutnya adalah aku mendapatkan job dari teman-teman. Mereka biasanya memesan tulisan berupa puisi dan kartu ulang tahun yang lengkap dengan kartu quote. Aku akan membuat sesuai pesanan dengan gaya tulisanku. Sekali waktu pernah juga ada teman yang minta dibuatkan surat pribadi.

Aku selalu meluangkan waktu untuk menulis di sela-sela hari. Kapanpun itu. Tidak ada waktu khusus, tetapi paling sering aku melakukannya ketika tengah malam. Saat hanya ada sedikit orang yang terjaga.

Majalah dinding di sekolah adalah makanan favoritku. Hampir tidak ada yang tertinggal dalam setiap terbitannya. Tulisanku pasti ada di sana dengan berbagai bentuk tentunya. Terkadang puisi, cerpen, artikel, quote, dan lainnya.

Beranjak remaja hingga menjelang dewasa aku mulai mengenal dan mengakrabi media cetak yang saat itu masih sangat terbatas. Di antaranya majalah Media Pelajar (MOP), Anita Cemerlang, Aneka Yes. Waktu itu belum ada media sosial seperti sekarang ini.

Begitulah, pada intinya aku merasa bahagia ketika bisa menulis. Bisa berangan dan melambungkan harap atas semua hal. Hilang sudah segala resah, sedih, dan perasaan negatif yang sempat mampir di dada. Lenyap tak berbekas dengan menulis.

Hingga datanglah episode perjalanan hidup yang membuatku mengalami trauma psikis luar biasa. Kegiatan menulisku terhenti dan terenggut dengan paksa. Aku dihadapkan pada pilihan yang tidak bisa memilih selain meninggalkan dunia menulis. Sungguh, tak terbayangkan yang bakal terjadi saat itu. Yang pasti aku merasa masa depanku berubah warna menjadi hitam kelabu.

Seseorang yang kuharap memberi sayap untuk terbang justru mematahkan sayap itu dengan sukses. Suamiku ternyata tidak menyukai kesukaan menulisku.

Semua hasil tulisan dievaluasi, dianalisa dan dicurigainya sebagai bentuk ekspresi batin yang negatif dengan justifikasi sepihak. Aku tak bisa berkutik selain menikmati hatiku yang kian berdarah.

“Kamu menulis tentang siapa, sih? Ada hubungan apa kamu sama dia? Oh, ingin tenar, ya,” ucapnya dengan muka nyinyir, berlalu sambil melempar tulisan ke mukaku.

Aku terdiam tanpa mampu memberi penjelasan sepatah katapun. Sebab, dia tidak pernah mau menerima apapun yang akan aku paparkan. Baginya penilaiannya adalah mutlak, tak bisa dibantah apalagi dikoreksi. Itu hal yang sangat tabu.

Suatu hari ketika aku tetap keukeuh menulis, suamiku kembali dengan tuduhannya yang tak beralasan hanya karena sebuah puisi dan sebaris quote yang aku tulis.

“Katakan siapa nama lelaki itu!” teriaknya dengan muka memerah menahan amarah. Suaranya lantang dan bergetar. Aku bergidik dibuatnya.

“Lelaki yang mana?” tanyaku dengan sedikit gugup.

“Lelaki dalam puisi dan tulisanmu ini,” jawabnya seraya melemparkan gulungan majalah yang sedari tadi dibawanya. Seperti biasanya, majalah itupun menyapa mukaku dengan manis. Aku mencoba mengelak, tetapi lemparannya yang begitu cepat dan kuat tak mampu kuhindari.

“Tidak ada lelaki lain di sana. Tak ada siapa-siapa,” paparku membela diri meskipun aku tahu hanya akan sia-sia. Setidaknya aku telah berusaha menjelaskan.

“Alaaah, jangan bohong. Mesra sekali kamu sebut dia kekasih. Dasar pengkhianat!” ucapnya sinis menatapku dengan bara.

Semua cara aku tempuh untuk memberinya pemahaman bahwa kekasih tidak selalu bermakna pasangan lawan jenis, laki-laki, atau pacar. Kekasih bisa bermakna Tuhan atau apa saja yang tersemat di hati.

Namun, lagi-lagi kegagalan yang kutemu. Jalan itu buntu, hingga kuputuskan untuk berhenti menulis.

Bertahun-tahun hidup terpasung dan tanpa mampu menuliskan satu kata pun. Sungguh membuatku sangat tersiksa. Langkah seakan terhenti, ibarat hidup segan mati tak mau. Namun tidak berdaya untuk berbuat sesuatu.

Bumi terus berputar seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan sejarah kehidupanku yang terus bergulir mengikuti skenario Tuhan yang telah tertulis di langit. Entah bagaimana awalnya manakala takdirNya menuntun kembali pada duniaku yang pernah hilang.

“Pergilah. Aku tak bisa hidup dengan seorang penulis,” ucapnya pelan tetapi tegas pada suatu malam yang kelam. Di sebelah kirinya berdiri seorang perempuan bermata sipit berambut ombak panjang sebahu.

Kulitnya yang putih dan licin menandakan kalau terawat dengan baik. Ia berikan sebuah senyuman padaku, senyum kemenangan.

Malam itu aku segera pergi meninggalkan bangunan serupa istana yang telah memasungku bertahun-tahun lamanya dan mencoba menjejak kembali di jalan setapak yang pernah kulalui dahulu.

Meskipun dengan tertatih tetapi tidak membuatku merasa letih. Kututup sudah memori kelam di masa silam. Perlahan dan pasti kutinggalkan sepenuh hati, menyambut pagi dengan senyum terkembang dan tarian pena yang meliuk berdansa bersama jemari.

Sujud syukur yang tak terkira atas semua karunia itu. Allah telah mengembalikan satu dunia yang mampu membuatku merasa hidup dan bermakna. Sebuah dunia yang pernah terenggut dengan paksa tanpa perasaan. Dunia menulis.

***

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TJ
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini