Komunitas Tempat Aku Dilahirkan sebagai Penulis

Komunitas Tempat Aku Dilahirkan sebagai Penulis

Penulis bersama dengan Kompasianer di Kompasianival tahun 2015 © Ina Tanaya

Latar belakangku bukan penulis seperti yang telah kuceritakan pada bagian pertama "Perjalanan Hidup Seorang Penulis" .

Aku seorang yang mencoba terjun ke dunia penulisan karena awalnya perkenalanku dengan komunitas penulis di suatu platform, Ketapels dan Kompasiana. Tidak pernah terbayangkan sama sekali bahwa jalur inilah yang membawaku ke dunia yang sekarang kugeluti.

Barangkali aku juga tak pernah bermimpi kenapa aku bisa berkenalan dengan komunitas penulis. Dunia di mana aku melihat bagaimana menulis itu antara konsep, kreativitas, dan daya imajinasi yang tinggi dengan berbagai bentuk referensi dan wawasan yang memenuhinya.

Ketika aku bertemu dengan penulis-penulis di suatu komunitas, aku melihat bagaimana tiap orang itu sebenarnya punya kemampuan untuk menulis.

Fundamental untuk jadi penulis adalah motivasinya. Ketika motivasi itu hanya sekadar untuk tren karena dunia blog saat itu memang sedang naik daun.

Contoh motivasi yang tidak kuat lainnya, mencari materi semata, maka motivasi itu akan melunturkan keinginannya untuk menulis jika materi tak terpenuhi.

Tetapi komunitas yang baru kukenal itu memang beragam latar belakangnya. Mereka itu belajar secara otodidak sebagai "netizen journalist" untuk menuliskan berita baik dalam bentuk fitur atau opini.

Mereka itu punya ide dan imajinasi kuat ditambah dengan kreativitas untuk menunjang tulisannya biasanya disertai dengan foto-foto.

Salah satu keunikan berkumpul atau nongkrong bersama teman-teman penulis yang disebut dengan "Kompasiana" adalah tidak ada gap antara penulis senior maupun junior.

Semua boleh menuliskan apa saja sesuai dengan kategori dalam platform dengan gaya bahasa sesuai dengan gaya bahasa penulisnya (ada yang bersifat formal, ada yang lugas, ada yang terbuka).

Tentu ada beberapa kaidah yang harus dipatuhi seperti tidak boleh menulis yang bersifat diskriminasi, porno, dan lain-lainnya.

Beruntung sekali aku ikut jadi anggota "Kompasiana" karena aku sempat belajar dari CEO yang jago menulis. Mas Isjet panggilannya, nama lengkapnya Iskandar.

Beliau mantan jurnalis. Beliau sering mengadakan nangkring bersama atau workshop informal untuk mendalami dunia penulisan. Dari beliau, aku memahami syarat-syarat penlisan yang mengikuti pola 5W.

Apa pola 5W?

Setiap penulis pastinya punya paket agar tulisannya punya bobot baik untuk pembacanya. Agar tulisan berbobot maka harus mengikuti pola 5W +1H. Pola 5W adalah what (apa), who (siapa), when (kapan), where (di mana), why (kenapa) dan how (bagaimana).

Dengan pola 5W +1H tulisan itu akan lengkap memenuhi kaidah suatu tulisan berbobot. Untuk dapat menulis dengan pola itu 5W+1H perlu latihan yang konsisten dan kesinambungan.

Tak pernah berhenti untuk menggali dan mengeksplorasi untuk bisa menulis dengan gaya kreativitas tinggi, sehingga pembaca mampu membaca tulisan kita dari awal hingga akhir.

Kesempatan emas datang, saya pernah ikut workshop dengan nara sumber Mas Isjet tentang "Creative Writing".

Aku menunggu dengan sabar. Mas Isjet membuka dengan satu kalimat yang sangat mengagetkanku.

"Judul tulisan adalah pintu gerbang satu tulisan". Apa artinya?

Jika tulisan kamu ingin dibaca oleh pembaca, buatlah judul itu semenarik mungkin. Beberapa orang ditunjuk untuk memberikan ide contoh membuat judul tulisan.

Aku terperangah tanpa menyadari bahwa judul itu begitu penting sekali. Aku tak punya imajinasi tinggi, sulit menemukan judul yang menggelitik, bahkan menimbulkan pertanyaan atau ketertarikan bagi pembaca.

Berikutnya, satu slide yang berjudul "Berceriteralah". Mas Isjet mengatakan buatlah tulisan anda itu sebuah tulisan yang menggambarkan dan mendeskripskan secara rinci, jelas, dan lengkap apa dan di mana suatu kejadian.

Bukan dalam bentuk reportase. Reportase itu tak menarik. Aku jadi berpikir lagi, inilah kelemahanku selama ini, aku tipe orang yang selalu "straighforward", tanpa bisa menjelaskan deskripsi lengkap karena aku tidak dalam posisi pembaca.

"Story telling" ini jadi bahasa tutur, vokalisasi dan gerak tubuh dan memunculkan cerita sambil merangsang imajinasi pendengarnya. Yah, aku perlu belajar berimajinasi tinggi.

Begitu melihat ada gambar komputer, buku, Tesaurus Bahasa Indonesia, aku menebak pasti inilah perlengkapan seorang penulis. Betul, itulah yang perlu dimiliki oleh seorang penulis yang baik.

Jangan sampai menulis sebuah kata, berulang dari satu paragraf ke paragraf lain. Kekayaan kosakata harus dimiliki dengan punya kamus Tesaurus.

Sebuah stories memiliki elemen yang sangat penting, inspiratif, pemikiran (satunya kok saya lupa).

Proses sebuah story dimulai dari kaidah, faktual dari dua belah pihak, disajikan dengan runut dan ringkas. Bahasanya sangat sederhana, mudah dimengerti, dan harus diingat bahwa ditulis untuk orang lain bukan untuk diri sendiri.

Saat menulis dibuka dengan anekdot/kejadian spesifik, beralih kepada pokok persoalan, diuraikan pokok persoalan, ditutup dengan anekdot yang berkaitan dengan awal.

Inilah alasan utama saya ikut berkomunitas dengan penulis. Ada banyak ilmu, pengalaman yang perlu digali dan ilmu menulis terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman dan tidak pernah berhenti karena menulis adalah sesuatu yang dinamis bukan statis.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Tersingkapnya Inspirasi Menulis Tanpa Henti Sebelummnya

Tersingkapnya Inspirasi Menulis Tanpa Henti

Warung Kopi Indonesia dibuka di Montmarte Paris Selanjutnya

Warung Kopi Indonesia dibuka di Montmarte Paris

2 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Saya juga belajar menulis di Kompasiana. Mantap tulisannya, Mbak. Sukses selalu

  • Afin Yulia

    Seperti hidup ya Mbak Ina, belajar menulis itu tidak boleh berhenti. Terus, karena ilmunya pun berkembang

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.