Menulis Sebagai Self-Healing Therapy

Menulis Sebagai Self-Healing Therapy

© Pixabay

Sebagian orang mengatakan bahwa menulis itu membutuhkan bakat khusus. Bahwa menulis itu hanya untuk para penulis. Benarkah demikian?

Tahukah kalian? Pada hakikatnya, kita semua terlahir sebagai penulis. Menulis bisa sangat bermanfaat bagi kita. Menulis bisa dijadikan terapi. Mengapa? Karena melalui kegiatan menulis, kita mampu mengeksplorasi perasaan. Kita mampu mengungkapkan apa apa yang terpendam dalam pikiran.

Menulis itu ibarat kita sedang berbicara kepada diri kita yang lain. Saat otak terasa 'gaduh', menulis bisa dijadikan terapi mengurai 'kegaduhan'. Ada kalanya kita merasa kesulitan mengungkapkan sesuatu secara lisan.

Kita cenderung menyimpan energi-energi negatif dalam diri kita. Namun, ketika kita mencoba menuliskannya, maka secara tidak langsung hal tersebut justru 'menyembuhkan'.

Saya akan memberi contoh tentang bagaimana menulis bisa memberikan efek luar biasa bagi tubuh. Kita tentu tahu betapa berat bapak Habibie menjalani hari-hari tanpa ibu Ainun.

Dikutip dari Liputan 6, pria yang pernah menjadi presiden Republik Indonesia kedua tersebut mengalami Psikosomatik Malignant. Beliau mengalami depresi setelah kepergian sang istri tercinta.

Saat itu tim dokter mengajukan 4 opsi pemulihan bagi beliau, yakni harus masuk rumah sakit jiwa, tinggal di rumah dengan pengawasan dokter, curhat ke orang terdekat, atau beliau menyelesaikannya sendiri. Beliau pun akhirnya memutuskan untuk memilih opsi keempat, menyelesaikannya sendiri.

Pak Habibie menuliskan semua romansa yang beliau alami bersama sang istri. Tentu tidak mudah menuliskannya. Perasaan beliau sudah dipastikan mengalami pasang surut.

Namun, akhirnya beliau bisa melewati masa-masa tersebut. Beliau menulis puisi-puisi untuk mengurangi beban depresi yang menghimpit karena kehilangan kekasih hati. Beliau ungkapkan semua perasaan yang beliau rasakan lewat tulisan. Dan ternyata, hal itu sangat ampuh.

Lalu, bagaimana jika kita ingin menulis tetapi tidak tahu apa yang harus ditulis? Kita bisa melakukan tiga hal ini:

Menulis bebas. Tulis saja apa yang saat ini kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan. Kita tidak perlu menyortir apa-apa yang tidak semestinya kita tulis. Pokoknya tuliskan saja, entah itu perasaan bahagia, sedih, marah, bahkan benci sekali pun.

Contoh, "Hari ini aku terbangun dengan perasaan kacau. Aku tidak menemukan suamiku di sampingku. Aku lantas mencarinya ke mana-mana. Betapa kagetnya aku ketika di meja makan, aku menemukan secarik kertas bertuliskan 'Sayang, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Hari ini aku berangkat kerja lebih awal. Love you'. Aku tersenyum."

Atau bisa juga: "Aku benci orang-orang itu. Mereka selalu menyudutkanku. Aku tidak pernah dianggap berarti. Aku yang harus selalu memahami mereka."

Inti dari menulis adalah mengungkapkan uneg-uneg agar hati merasa lega. Saya juga suka menulis tentang perasaan saya atau hal-hal yang sekiranya pernah dialami orang-orang terdekat saya.

Saya lalu mencoba memposisikan diri saya berada di posisi mereka. Setelah itu, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Seperti ketika seseorang harus kehilangan kekasih yang sangat dicintainya. Saya mencoba berempati dan merasakan penderitaannya. Kemudian, lahirlah satu tulisan.

Menulis puisi. Kelihatannya sih sulit, tetapi tidak ada salahnya dicoba. Menulis puisi tidak harus sesuai pakem. Kita bisa menulis puisi di luar aturan-aturan yang ada.

Apa yang bisa kita lakukan untuk memulainya? Cobalah untuk merekam kejadian-kajadian saat kita masih kecil. Lalu tuliskan apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan saat kenangan tersebut terlintas. Tuliskan dalam beberapa kata yang tidak terlalu panjang.

Menulis surat. Saya memiliki pengalaman yang cukup menarik tentang ini. Jadi, ketika saya jatuh cinta dengan sahabat saya dan saya takut mengatakannya, saya mencoba menulis surat untuknya.

Saya ungkapkan semua perasaan saya lewat surat tersebut. Namun, saya tidak pernah mengirimkan surat itu kepadanya, saya menyimpannya di suatu tempat yang tidak akan bisa saya temukan.

Apa yang terjadi setelah itu? Saya merasa lebih lega.

Saat kita mengalami hal-hal buruk, tulis saja sepucuk surat tanpa harus mengirimkannya ke orang yang bersangkutan.

Satu-satunya kunci agar menulis bisa menjadi bagian dari self-healing therapy adalah dengan jujur kepada diri sendiri. Jangan pernah membohongi perasaan kita. Pun, jangan menyangkalnya.

Menulis... Mungkin hanyalah kegiatan remeh, tetapi dia bisa menjadi sumber kekuatan ketika kita menuliskan apa yang ada dalam pikiran kita.

So, what's in your mind?

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Ada Kuliner Apa Saja di Jakarta Fair 2019? Sebelummnya

Ada Kuliner Apa Saja di Jakarta Fair 2019?

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan Selanjutnya

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.