Perjalanan Menulisku, dari Diary Menjadi Ghost Writer

Perjalanan Menulisku, dari Diary Menjadi Ghost Writer
info gambar utama

Aku mengenal aktivitas menulis saat berusia sembilan tahun. Waktu itu aku terpilih sebagai salah seorang dokter kecil di sekolah. Setelah selesai pendidikan sebagai dokter kecil, kami diberi sebuah buku catatan yang judulnya Buku Harian Dokter Kecil. Setiap hari buku catatan harian ini harus diisi.

Kebiasaan menulis di diary ini berlanjut hingga masa sekolah. Masa SMP dengan kecerian anak SMP yang masih polos, SMA dengan kisah penuh semangat kegiatan ekskul-ekskul yang diikuti. Terakhir adalah diary waktu kuliah yang berisikan percikan-percikan asmara dari salah satu dan salah dua teman kuliah.

Kesukaanku menulis berbanding lurus dengan minatku terhadap bacaan. Semua genre aku baca. Baik fiksi maupun non-fiksi. Cerpen, teenlit, novel hingga biografi.

Dari sekian banyak bacaan tersebut, ternyata aku menyukai non-fiksi. Mengapa? Karena aku bisa membagi apa yang ada di pikiranku lewat tulisan non-fiksi.

Mengenal Sekolah Perempuan

Di pertengahan 2013 aku bergabung dengan Sekolah Perempuan besutan Indscript. Merupakan sekolah menulis online dengan target menghasilkan satu buku, yang masih satu atap dengan IIDN.

Ini adalah kesempatanku untuk belajar menulis dengan benar. Selama tiga bulan belajar di Sekolah Perempuan ini, aku berhasil menulis satu buah buku solo yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo tahun 2014.

Menyusul buku berikutnya di tahun yang sama. Hanya saja di buku yang kedua ini, aku menulis sebagai ghost writer untuk seorang financial planner. Lalu kemudian menyusul buku ketiga, keempat, dàn seterusnya.

Perjalanan di dunia maya membawaku ke sebuah situsweb freelance. Di situsweb ini aku mengajukan penawaran untuk berbagai project menulis. Mulai dari menulis konten untuk situsweb perusahaan, content placement di blog, hingga penulisan buku.

Dua tahun bergelut dengan situsweb freelance, aku merangkum step by step pengalaman mengajukan penawaran kerja di sana. Rangkuman materi ini bisa dilihat pada kelas Berburu Job di Website Freelance. Yup, aku diminta share pengalaman sebagai freelance kepada teman-teman seperjuangan.

Selain itu aku juga share tentang pengalamanku sebagai ghost writer. Materinya simpel khusus untuk Ibu-ibu. Sebab aku bernaung di bawah Indscript dan Ibu-ibu Doyan Nulis, maka akupun mengusung misi yang sama. Yaitu pemberdayaan perempuan dari rumah melalui aktivitas menulis.

Terbukti, menulis merupakan keahlian yang bisa dijadikan sumber penghasilan. Selain itu, kelebihan dari aktivitas menulis adalah aktivitas ini bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Sepanjang 2016 hingga 2019, aku mengikuti suami berpindah tiga provinsi. Mulai dari Tangerang Selatan ke Palembang, kemudian pindah ke Maluku Utara, lalu balik lagi ke Palembang.

Belum lagi menemani beliau ke pulau-pulau pesisir Maluku, Ambon, Ternate, Manado, Tomohon, Tondano, hingga daerah-daerah di Pulau Jawa. Kondisiku yang mobile membuat aktivitas menulis adalah pilihan karier yang tepat.

Menulis sebagai karier

Aku sendiri tidak percaya dengan kenyataan ini. Aku bukanlah penulis yang berbakat dengan diksi-diksi indahnya. Aku juga bukan penulis super yang bisa mengerjakan naskah ratusan halaman dalam hitungàn hari doang.

Lalu, bagaimana aku bisa menghasilkan buku-buku tersebut. Jawabannya cuma satu, yaitu konsisten. Walaupun sedikit, jika dilakukan dengan konsisiten, InsyaAllah akan keliatan hasilnya.

Akan tetapi, ilmu menulis itu terus berkembang. Ibaratkan mencelupkan ujung jari di lautan ilmu, maka tidak ada yang tersisa di jari kita. Begitu luasnya lautan ilmu. Oleh karena itu, aku pun masih menyempatkan diri mengikuti training-training menulis serta ilmu turunannya.

Sampai kapan aku akan menulis?

Menulis sudah menjadi sebuah habits yang sulit ditinggalkan. Seperti halnya makan dan minum yang dibutuhkan oleh tubuh, maka menulis juga dibutuhkan oleh jiwa dan pikiranku. Selama Allah SWT memberikan kesehatan, InsyaAllah aku akan terus menulis sepanjang hidupku.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

EK
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini