Rekam Jejak Menulis

Rekam Jejak Menulis

Ilustrasi menulis © Pixabay

“Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama tidak menulis dia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Tour)

Menulis itu menuangkan apa yang ada dalam pikiran atau pun hati. Seiring dengan perkembangan teknologi, kini banyak media sosial untuk mencatat ungkapan kita. Tidak hanya dalam bentuk curahan hati, tetapi juga berbentuk fiksi, puisi, nonfiksi, dan lain sebagainya.

Kini, dunia kepenulisan berkembang pesat, di mana menulis dapat dijadikan sumber penghasilan tanpa harus bertatap muka dengan orang lain. Apakah menulis memerlukan bakat? Tidak juga.

Seperti salah satu quote penulis, Pramoedya Ananta Tour, orang boleh pandai, berbakat setinggi langit, tetapi selama tidak menulis dia akan akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Artinya, menulis tidak memerlukan pandai atau bakat seseorang, tetapi lebih kepada konsistensinya.

Terjun ke dunia kepenulisan

Terjun dalam dunia menulis, bagiku bukan suatu kebetulan. Setelah resign dari dunia pendidikan sebagai tenaga pendidik anak usia dini, ada dua pilihan yang akan menemani keseharianku, berjualan atau menulis. Namun, aku sadar, masalah waktu yang terkadang membelenggu aktivitas ke luar rumah.

Yang terpikirkan, bagaimana caranya tetap memiliki aktivitas yang dapat dilakukan di rumah atau di mana saja. Akhirnya, mantap menjatuhkan pilihanku kepada dunia menulis, selain lebih fleksibel dalam waktu, aku juga sudah bergabung dengan salah satu grup kepenulisan khusus perempuan di Facebook, yaitu IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) yang digawangi seorang perempuan tangguh, Indari Mastuti.

Nah, setelah berselancar di grup IIDN dan Facebook-nya Teh Indari, ada satu hal yang menarik, yaitu training secara daring. Penasaran dong, apa training daring itu.

Singkat cerita, setelah wari-wiri di linimasa Teh Indari, langkah awalku ikut training bikin artikel. Perlahan mengunyah materi, lalu praktekkan. Masih penasaran di mana passion-ku, lalu ikut training lainnya, seperti trik menjebol media, editor, resensi, writing traveling, dan banyak lainnya.

Penghasilan dari menulis

Dari training ini, aku lebih luas mengenal dunia kepenulisan, mengenal perempuan-perempuan hebat di bidang menulis. Selain Teh Indari Mastuti, aku mengenal sebuah nama Ummi Aleeya, perempuan tangguh dalam mengajak, menempa perempuan untuk berpenghasilan dari rumah dengan menulis.

Teh Indari dan Ummi Aleeya inilah yang selalu jadi motivatorku untuk terus menggali ilmu dari leher ke atas. Hal baru yang bikin kepo dan ikut kelas-kelas daringnya untuk meningkatkan kemampuanku.

Setelah tiga bulan mengikuti berbagai kelas, aku mulai mengecap manisnya penghasilan dari menulis. Berawal dari tiga artikel hasil pendampingan kelas menembus salah satu platform, berlanjut pada penawaran untuk menjadi penulis konten Islam, freelancer, hingga menjadi admin website joeragan-artikel.com dan editor.

Belum lagi dari IIDN, alhamdulillah, suka dicolek buat gabung jadi penulisnya.

Writer block

Menjadi penulis apa pun, tentunya tidak terlepas dari writer block. Ada rasa jenuh, menurunnya daya kreatif, dan imaji. Kondisi ini agak sulit dihindari mengingat rutinitas penulis menjalaninya setiap saat.

Beberapa bulan lalu, aku mengalaminya. Apalagi, ketika klien yang memesan artikel melepas begitu saja kontrak tanpa alasan jelas. Hhh, aku hanya bisa menarik napas, embuskan perlahan sambil menahan sesak di dada.

Sampai sebulan lebih, aku hanya menjalani aktivitas sebagai admin situsweb, menyunting artikel harian. Benar-benar kecewa. Pada saat di titik nadir ini, aku tersadar, kalau hanyut di dalamnya, hanya akan menjadi butiran debu.

Aku harus bangkit, menjaga pondasi yang telah kubangun. Mau tahu langkah apa yang kuambil?

  1. Keluar dari zona nyaman membuat artikel, yaitu masuk dunia fiksi. Dunia yang selama ini aku hindari karena passion-ku bukan di sana.
  2. Ikut pelatihan fiksi dengan harapan, fiksi mampu menampung segala resah dan imaji liarku.
  3. Terus mencari ilmu sebagai pendamping dunia fiksi.

Aku akan tetap menulis dalam bentuk apa pun. Meliarkan imaji, berkembang terus untuk menjadi penulis yang lebih baik.

Meninggalkan jejak literasi, saat dunia tidak bersamaku, kelak.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Mahasiswa Asal Maumere Temukan Snack Sehat Aman Bagi Penderita Diabetes Sebelummnya

Mahasiswa Asal Maumere Temukan Snack Sehat Aman Bagi Penderita Diabetes

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan Selanjutnya

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan

3 Komentar

  • Rohyati Sofjan

    Menjadikan menulis sebagai jalan pilihan beroleh finansial memang tak mudah, akan ada banyak kendalanya. inilah titian awal. Semoga tetap istiqomah berjuang. Insya Allah suatu saat kelak akan sukses dan berkah.

  • Agustina Purwantini

    Yup, yup, semangat berliterasi.

    • Winy Rifmawati

      Betul Mbak Agustina, semangat! Salam literasi, makasih sudah mampir 🤗

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.