Lukisan Figuratif Satwa Tertua di Dunia Ada di Pulau Kalimantan

Lukisan Figuratif Satwa Tertua di Dunia Ada di Pulau Kalimantan

Lukisan gua © NBC

Karst Sangkulirang tak pernah bosan memberi kejutan. Setelah menunjukkan bukti peradaban manusia purba berupa cap telapak tangan, karts ini kembali menghadirkan lukisan figuratif berbentuk gambar cadas banteng, tapir, dan orang.

Peneliti gambar cadas asal Institut Teknologi Bandung (ITB), Pindi Setiawan mengatakan, lukisan figuratif tersebut berusia 40 ribu tahun yang diduga lebih tua 1.000 tahun dari gambar yang ada di Sulawesi. Lukisan ini tepat berada di salah satu gua Lubang Jeriji Saleh, termasuk dalam area Karst Sangkulirang Mangkalihat di Kalimantan Timur.

Usia gambar cadas dibuktikan dengan hasil rangkaian penanggalan menggunakan metode seri uranium, yang dilakukan terhadap sampel kalsium karbonat. “Lukisan ini bertahan selama 40 ribu tahun, menandakan kekuatan luar biasa yang masih awet. Sejak ditemukan cap telapak tangan di tahun 1995, Karst Sangkulirang memang terus menjadi tempat penelitian menyenangkan,” urai Pindi.

Temuan mengagumkan ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Nature edisi 7 November 2018. Pindi Setiawan merupakan satu dari beberapa penulis artikel berjudul “Palaeolithic cave art in Borneo.

Gambar banteng di gua Lubang Jeriji Saleh, Kalimantan Timur ini, diperkirakan berusia 40 ribu tahun. Foto: Luc-Henri Fage via Facebook Pindi Setiawan
Caption

Kawasan Karst Sangkulirang merupakan hutan lebat dengan pepohonan tinggi berdiameter besar. Karst ini berbukit dengan kemiringan bervariasi. Dibutuhkan kehati-kehatian dan ketelitian untuk masuk ke dalamnya, hingga menemukan lukisan figuratif tersebut. Hasilnya, tim mendapatkan 300 cap tangan dan 20 gambar hewan beserta manusia dalam gua.

“Saya sudah 20 tahun meneliti Karst Sangkulirang, gambar-gambar cadas yang ada di gua membuka fakta bagaimana kehidupan di zaman purba. Termasuk, migrasi manusia, yang berpindah-pindah untuk mendapatkan makanan. Dua minggu sebelum dipastikan sebagai lukisan tertua, kami sudah mendeklarasikan usia lukisan itu ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta pemerintah daerah setempat,” kata Pindi.

Meski berusia tua, bukan berarti lukisan tersebut tidak perlu dijaga. Pindi mengatakan, hal yang paling ditakutkan adalah ulah manusia yang datang ke sana. Sebagai peneliti yang sudah jatuh cinta pada Karst Sangkulirang, dia mengingatkan bahaya kerusakan yang mungkin terjadi lebih cepat, jika tidak diperhatikan. “Kalau lukisannya pasti kuat dan awet. Namu, tetap bisa rusak jika gua Karst Sangkulirang tidak betul-betul dirawat,” terangnya.

Seni gambar yang ditemukan di gua di Sangkulirang Mangkalihat, Kalimantan Timur. Sumber: Jurnal Nature, 7 November 2018
Caption

Usulan Konservasi Karst Sangkulirang

Bentangan gua dan hutan yang menyajikan ribuan cerita zaman purbakala, membuat Karst Sangkulirang makin dicintai. Tidak hanya masyarakat Kutai Timur, tapi juga peneliti-peneliti dalam dan luar negeri ingin karst tersebut tetap kokoh berdiri.

Pindi mengusulkan agar karst ini dijadikan kawasan konservasi. Menurut dia, cara tersebut dapat menyelamatkan Karst Sangkulirang dari ancaman pembangunan pabrik semen atau industri lain. “Gambar cadas merupakan produk budaya natural. Cara perlindungannya harus dengan konservasi. Kalau lukisan itu sendiri aman, tapi gua karst bisa dirusak kapan saja,” sebutnya.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur, Budhy Sancoyo mengatakan, untuk melestarikan Karst Sangkulirang, pihaknya melakukan kerja sama dengan peneliti-peneliti ITB, UGM dan Universitas Mulawarman. Tidak hanya itu, sinergi dengan Pemda Kabupaten Kutai Timur dan Provinsi Kalimantan Timur untuk pelestarian Karst Sangkulirang juga dilakukan.

“Peneliti-peneliti dari ITB seperti Pak Pindi, dari UGM dan Unmul bidang geologi, serta pemda dan pemprov turut ambil bagian. Beberapa hari lalu, ada digital monitoring di sana, gua dipantau rutin termasuk gambar-gambar cadasnya,” terangnya baru-baru ini.

Menurut Budhy, selain rencana pabrik semen, Karst Sangkulirang juga dikepung perkebunan sawit. Jika terjadi kerusakan lingkungan, otomatis kawasan Karst Sangkulirang terkena imbas. “Kami berusaha jangan sampai ada kerusakan. Ketika pabrik semen akan dibangun, wajar banyak yang berteriak. Tapi lepas dari semen, masih ada sawit. Ditambah lagi cuaca, tentu ini sangat berpengaruh,” sebutnya.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur telah merumuskan, Karst Sangkulirang akan segera dijadikan geopark atau taman bumi. Bahkan, gua-gua karst yang ada telah diusulkan sebagai cagar budaya warisan dunia ke UNESCO. Berbagai kajian untuk mendukung usulan tersebut tengah disiapkan. “Kami terus berupaya, berbagai masukan dan kajian lingkungan dari para peneliti sangat diharapkan,” pungkasnya.

Dari: Mongabay.co.id atas kerjasama republikasi dengan Good News From Indonesia

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kereta Api Buatan PT INKA Diluncurkan di Bangladesh Sebelummnya

Kereta Api Buatan PT INKA Diluncurkan di Bangladesh

Mengenal Lebih Dekat P2P Lending dan Fintech di Indonesia Selanjutnya

Mengenal Lebih Dekat P2P Lending dan Fintech di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.