Zapira Portable, Inovasi Pembangkit Listrik Portable Ciptaan Tiga Mahasiswa UM

Zapira Portable, Inovasi Pembangkit Listrik Portable Ciptaan Tiga Mahasiswa UM

Box Penyimpan Daya Zapira Portable

Peduli dengan masyarakat 3T yang belum terdistribusi listrik, tiga mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) ciptakan Zapira Portable. Zapira Portable merupakan pembangkit listrik portable bertenaga energi potensial air hujan.

Ika Febriana Wati, ketua dari tim Zapira Portable bersama dua anggotanya yakni Yunita Miftahul Jannah dan Eka Ajeng Fabela, merupakan mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar dari Universitas Negeri Malang. Ide ini terwadahi dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang berhasil didanai pada tahun 2019.

Zapira Portable merupakan perangkat pembangkit listrik yang memanfaatkan energi potensial air hujan sebagai sumber energinya. Selain ramah lingkungan, perangkat ini memiliki keunggulan desain yang portable dan sesuai untuk diterapkan pada skala rumah tangga.

“Perangkat ini hanya berukuran 40 x 20 x 15 sentimeter, jadi portable untuk dibongkar pasang di rumah,” jelas Ika saat ditanya mengenai keunggulan perangkat buatannya.

Perangkat hasil ciptaan mahasiswa bimbingan dari Ibu Yuniawatika, S.Pd., M.Pd. ini dapat digunakan untuk menyuplai kebutuhan listrik rumah tangga di mana potensi dayanya bisa mencapai 72 watt.

Perangkat ini memiliki dua bagian yakni bagian pipa dan boks penyimpan daya. Bagian pipa inilah yang dipasang di bawah saluran air hujan atau talang air, sedangkan boks penyimpan dayanya diletakkan di dalam rumah.

“Cara pengoperasian alat ini terbilang mudah sehingga masyarakat yang memiliki SDM rendah pun dapat mengimplementasikannya,” jelas ketua dari tim PKM ini.

Cara kerja Zapira Portable cukup mudah dipahami karena prinsip kerjanya hampir sama dengan pembangkit listrik tenaga air pada umumnya. Selain itu perangkat ini juga dilengkapi dengan Manual Book yang merangkum cara pengimplementasiannya.

“Perangkat ini awalnya memang untuk air hujan saja, tapi banyak yang menyarankan memanfaatkan sumber energi lain. Jadi, penggunaanya tidak dibatasi oleh musim,” sambung mahasiswa angkatan 2016 ini.

Penciptaan alat ini awalnya memang memanfaatkan air hujan sebagai sumber energinya, namun tidak menutup kemungkinan sumber energinya bisa berasal dari aliran air yang sejenis dengan debit air rata-rata pada talang air.

Alat ini sangat sesuai diterapkan di Indonesia yang curah hujannya sekitar 1000-4000 mm/tahun.

Daerah-daerah 3T yang dapat menjadi target sasaran utamanya meliputi daerah pegunungan di Papua, pesisir barat Sumatra, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara.


Sumber: Data Rasio Elektrifikasi Kementerian ESDM 2018, data curah hujan BMKG 2017

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Batas Antara Realita dan Impian adalah Imajinasi Sebelummnya

Batas Antara Realita dan Impian adalah Imajinasi

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal? Selanjutnya

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal?

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.